Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ibu

Kebahagiaan Kecil IPers Komunitas IP Padang

 Bahagia Selama Pandemi? Sebagian besar manusia tiba-tiba merasa terkekang sejak hadirnya covid-19. Tidak bebas. Terpenjara, atau apalah namanya. Semua itu tidaklah lepas dari kuasa-Nya. Selalu ada hikmah untuk hamba yang sabar dalam menghadapi cobaan. Benar? Aku bukanlah orang yang sebijak itu dalam menghadapi cobaan. Hanya ingin selalu bersyukur di setiap keadaan. Ehm. Kali ini aku bukan ingin mengulik tentang cobaan, tapi berbagi hasil bincang IPers Komunitas Padang tentang bahagia ditengah pandemi. Nah, ternyata masih bisa menciptakan bahagia 'kan meski harus selalu di dalam rumah? Seperti buibu ini. "Pandemi ini jadi semacam pembenaran untuk sisi introvertku. Aku malah merasa nyaman." Ayo, siapa yang merasa introvert? Apa iya merasa seperti bunda tersebut? Tapi kalau anak-anak berada di rumah seharian, bukannya sisi introvert seorang ibu menghilang, ya? Haghaghag. Namun sekalipun jiwa seorang tersebut introvert, ada kala keinginannya untuk sekedar cuci mata, menghiru...

Ketika Harus Berpisah

Waktu cepat terasa berlalu itu salah satunya adalah dalam membersamai anak. Benar gak, sih? Tiba-tiba mereka tidak ingin lagi dibantu. Tidak ingin lagi dimandiin, disuapi. Ingin menyetrika baju sendiri, bahkan ingin cuci baju atau piring sendiri. Mungkin kegiatan di atas bisa langsung sebagai latihan kemandiriannya, ya ... walaupun hasilnya belum sempurna tapi okelah bisa jadi menolong ibu. Lain cerita ketika (terutama si Uda) harus menjauh sejenak dari diri. Contohnya pergi sekolah. Saya adalah seorang ibu yang baperan. Hari pertama doi bersekolah, saya menciuminya bertubi-tubi, memeluknya erat. Hingga dia berkata, "Udah, ih Bu," ucapnya dengan dahi yang berkerut. Pertanda Uda 'cape dweh'. Begitupun saat dia pulang sekolah. Pelukan rindu pun ku hadiahkan, balasannya ya ... seperti saat berangkat. Hehehe ... maafkan ibumu ini, Nak. "Kebayang deh, besok anak pergi sekolah jauh gimana reaksi Ibu," ujar sang ayah saat melihatnya. Saat itulah aku merasa waktu be...

Aku Ibu Bahagia

 Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan tepat waktu, tanpa eksplorasi dari tangan ke tiga, sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sungguh menghadirkan rasa puas tersendiri di dalam sanubari. Merasa menjadi seorang istri dan ibu yang profesional gak, sih? Seiring waktu menyerbu, fase hidup yang terus menyeru, yang kemudian seringkali peran sebagai istri dan seorang ibu tidak lagi berjalan sesuai dengan harapan. Lelah aku, tuh! Sebagai seseorang yang selalu ingin mengerjakan pekerjaan rumah dengan perfek, "Biar aku aja yang ngerjain", karena kalau suami yang menolong, hasil seringkali diluar ekspetasi. Apalagi anak-anak yang menuntaskan pekerjaan, yang ada kepala berdenyut, hati cemberut. Benar gak, sih? Ternyata, hal itu semua menjadikan diri uring-uringan sendiri. Niat ingin perfek, malah jadi eneg. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah menurunkan standar, dari perfek menjadi cukup. Lalu? Syukuri. Rasa kesempurnaan itu tidak akan langsung hilang setelah standar diturunkan....

Membangun Istana Pasir

Bismillah Ini game pertama pra-bunsay, yaitu membangun istana pasir di rumah ala diri sendiri. Emang bisa buat istana pasir di rumah? Bisa bagi peserta bunda sayang IP 😏 Maksudnya gini, istana pasir berupa daya pikir diri sendiri, dimulai dengan pemikiran seperti apa ibu profesional itu menurutmu. 🌅 Bagiku, ibu yang profesional itu ... anak dan suami merasa nyaman saat bersamaku. Bahagia tanpa harus dicari 🌅 Istana pasir yang akan dibuat harus dibangun kokoh dengan ilmu. Entah itu ilmu manajemen diri, menajemen emosi, apalagi ilmu agama. Bukankah agama yang mengatur hidup agar diri dan keluarga selamat dunia-akhirat? Maka, aku siap menggali lebih dalam lagi ilmu-ilmu yang tersebar di pulau cahaya. Demi hadirnya emosi positif di istana pasir kami. Agar nanti di pulau cahaya tidak tersesat atau terjadinya tsunami informasi saat berpetualang dalam mencari ilmu, dibutuhkan sebuah peta diri. Apa saja yang mesti aku cari, aku butuhkan? Kira-kira peta diri Ibu 3H seperti di atas. Selanjutn...

Hei, Bunsay ... Ketemu lagi

Tiga tahun berlalu setelah cuti dari kelas bunda sayang. Kini, di new chapter (NC) 2020 (itu pun disemangati oleh teman-teman IP. Jazakillah khair , tanpa kalian aku akan masih di kelas matrikulasi, huks ....), akhirnya masuk kelas bunda sayang alias bunsay. Mau tau alasan Ibu 3H kenapa dulu cuti? Pertama, sok-sokan sanggup langsung lanjut, padahal kepala sedang penuh. Ke dua, ada kesenangan baru yang tidak memungkinkan pegang hp terlalu lama. Ke tiga, yang ini rahasia ajalah. Jadi, perkuliahan IP di NC 2020 itu dimodifikasi dengan metode dan model pembelajaran yang kreatif 😍 Sekarang, baru mulai pra nya, sih. Tanggal 28 Juli yang lalu, dan deadline game pertama itu besok, trus ... si Ibu 3H malah masih nulis perkenalan ini, ckckck .... Sedikit gambaran model pembelajaran bunsay ini. Kelas bunsay ini akan berlangsung di sebuah pulau, namanya pulau Cahaya. Nah, di pulau ini, para bunda akan menghadapi empat wahana sebagai pra sebelum memasuki game yang sebenarnya. Siapa sih, yang gak...

Ibu Menjadi Ustadzah

"Astaghfirullah Nak ... tiga jam Ibu bujukkin Uda biar mau rekam suara. Merekamnya bahkan ndak sampai satu menit." Itu monolog Ibu setelah Hasyim mau mengerjakan tugas dari sekolah. Hasyim semangat mengerjakan semua tugas sekolah, kecuali kalau diminta direkam suara apalagi video. Sudah dua pekan pembelajaran Uda dan Uni berlangsung di rumah. Satu kali dalam sepekan ke sekolah hanya 30 menit, untuk setoran hafalan Quran. Hanya itu. Selebihnya, ustadzah mereka akan mengirim materi dan tugas via aplikasi WA. Sebelumnya, ibu hanya membaca status-status para buibu bagaimana keluhan mereka selama anak-anak belajar di rumah. Cuek gitulah Ibu 3H kemarin-kemarin itu. Sekarang, baru terasa bagaimana harus sabar menghadapi dua murid beda angkatan sekaligus. Rasain. Astaga 😳 Adaaa saja alasan mereka. Si Uni yang mau ngerjain tugas udalah. Si Uda yang mau mewarnai kayak Unilah. Si Uni yang minta bantuan Uda ngerjain tugasnya. Ditambah si Bayi yang minta dikASIhi saat pembelajaran Uda U...

Sulitnya Merubah Kebiasaan

"Bu ... nonton," "Yah ... boleh nonton, ya ...." Rengekan Uda dan Uni seperti ini hampir setiap hari saya terima usai Ramadhan. Padahal, sebelum puasa, screen time mereka hanya Sabtu dan Ahad, itupun cuma 30 menit. Tahun ini, tahun ke dua Uda belajar puasa. Jika cerita para tetua, tahun ke dua anak belajar puasa tidak sesulit tahun pertama. Nyatanya, tidak berlaku bagi Ibu 3H. Rasanya, makin geregetan dari tahun kemarin. Jika tahun kemarin akan dibawa keliling-keliling nagari oleh Ayah, kali ini, karena PSBB, gimana mau ke luar rumah? Main di halaman rumah saja, harus mikir dua kali. Jadilah, menonton jadi cara pembujukkan. Saat puasa, tahukan jam berapa perut terasa lapar? Jam 10-an, jam 2-an, lalu sebelum berbuka, ditambah saat sahur agar mau bangun. Itulah yang terjadi selama Ramadhan. Saya angkat tangan. Sama sekali tidak bisa membujuk Uda agar lebih sabar. Apalagi, Uni dan si Adik tidak puasa, juga saya. Mau tidak mau, Ayah harus standby...

Besok, Minta Peluk, ya!

3H bertingkah. Ayah ada urusan, dan itu membuat kepala ibu sakit. Sedang mengambil nafas agar tidak lanjut emosi, datang si Bungsu yang langsung memeluk. Nyess. Emosi tadi padam seketika. Lalu, serta merta si Sulung juga minta dipeluk. Subahanallah ... saat memeluknya, baru terpikir, kapan terakhir kali memeluknya? Sama sekali tidak ingat. Apalagi, Hasyim ini sudah mulai malu untuk meminta disayang (cium), dipeluk, atau digendong. Selain memang tidak kuat lagi untuk mengangkat doi, juga sama sekali kepikiran. Ternyata, 24 jam bersama kita, tidak cukup melegakan emosi mereka (menurut Ibu 3H). Terbukti, setelah dipeluk tampak di wajah mereka rasa bahagia yang lain. Padahal dari ilmu parenting yang pernah saya baca (kalau tidak salah, dari bunda Elly Risman) jika pelukan itu tidak mengenal usia anak. Bahkan, dibukunya dikatakan, betapa banyak perempuan yang telah memiliki anak, masih mengharapkan pelukan dari sang ibu. Tapi, tak ada lagi didapatkannya. Benar memang, manfaat pe...

Me Time

Only my self, but ... (saya gak bisa lanjut berbahasa Inggris, bukan karena apa-apa, tapi kasihan pada teman yang kena todong minta ditransletkan, hakz ...) Me time buat Ibu 3H cenderung jadi lazy time , tapi itu dulu, sebelum kena tampar oleh quote sesebunda (lupa nama akunnya), "Jangan senang bisa dapat ME TIME , kalau waktu itu cuma digunakan hanya untuk duniawi". Astaghfirullah .... Sejak dapat quote itu berubah? Gak, masih sering stalking media sosial, hehehe ... tapi sekadarnya saja. Alhamdulillah juga berkesempatan ikut kulwap ME TIME yang diadakan oleh Ibu Profesional. Isi kuliahnya padat bergizi, makin memantapkan niat, me time harus yang positif! " Me time yang paling berkualitas untuk mengatasi stres adalah tazkyatun nafs , membersihkan diri dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Jika ibu seorang muslimah, kita bisa menemukan waktu untuk me time sehari lima kali, yaitu shalat dengan khusuk. Semakin hati kita bersih dan dekat dengan Allah, s...

Bicara dengan Si Sulung

Setiap anak beda cara berkomunikasinya, bahkan setiap bertambah usianya. Sedang mengalami ini nih, uda Hasyim yang tidak lagi balita. Subhanallah, astaghfirullah, belum nemu cara bicara yang pas dengan si Sulung. Yang penting, jangan teriak, kalau perlu dipangku dan dipeluk. Nah, ini udah dicoba, hasilnya? Hasyim bertanya dari sabang sampai merauke balik lagi ke sabang, haaah .... Setidaknya cara itu membuat kami nyaman berbicara, duduk berhadapan dengan saling menatap, hasilnya dapat respon yang bagus dari si Uda. Tetap saja, perubahan sikap mereka yang kadang terasa cepat, membuat Ibu harus cepat pula beradaptasi, dan merubah cara bersikap pada 2H terutama. Dan itu selalu always membuat bingung, karena baru saja cara ini cocok diterapkan, tau-tau mereka bukan mereka yang kemarin lagi, halahh... Doa adalah cara yg ampuh untuk menghadapi kebingungan. Wallahu'alam ... Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ...

Yang Terlewatkan

Pengalaman hamil pertama jauh dari orang tua, membuatku gamang melangkah. Harus bagaimana? Harus apa? Namun, seiring waktu berputar, semua tetap terjalani walau banyak sesal yang tercetak di dalam hati. Salah satunya, hamil ke dua. Ada, mereka ada mengingatkan KB. Tapi, karena tamu itu tidak datang hingga bulan ke sembilan, menganggap tidak apa-apa. Alhasil, satu tahun umur si Sulung, saya positif hamil lagi. Bagaimana lagi? Ini rezeki, ya. Ini ketentuan-Nya, benar. Tapi, ini juga keteledoran kami. Si Sulung tidak full asi dua tahun. Sedih. Makin bersalah mengingat, (mungkin) selama satu tahun masa tumbuhnya jauh dari perhatian saya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang Ayah. Segala hal. Ketika adiknya tidur, saya sudah terlalu lelah, atau pekerjaan rumah sudah menunggu. Setiap hari tentu kami menghabiskan waktu bersama, hanya saja, bukan qualitu time . Perhatian ini rasanya terbagi banyak. Dan baru kini, saya rindu dirinya yang berumur satu tahun. Rindu sek...

Es Rumput Laut

Ramadhan kali ini, menjadikan kita merindu, sungguh rindu. Apalagi berjauhan dari orang tua. Tulisan kali ini bukan mengajak tamu ruang ibu baper karena keadaan, tapi mau berbagi resep es rumput laut mama yang terkenal sejagad keluarga karena gurih, gak bikin eneg karna manisnya. Singkat cerita, saya mencoba resep tersebut dengan bahan yang berbeda. Jika es rumput laut mama berisi memang buah-buahan (buah nangka, pokat, pepaya) dan rumput lautnya, maka mama junior yang sudah menjadi ibu ini mengkreasikannya sendiri. Dari es rumput laut mama menjadi es buah ibu. Muehehehe. Rasanya? Rasa es buah. Alhamdulillah tak mengecewakanlah. Berikut resepnya : Buah yang kira-kira nyambung dimakan dengan air santan. Kebetulan, kami sedang sedia pepaya, naga, dan pokat. Rumput lautnya, diganti dengan nutrijell cincau. Potong dadu semuanya. Untuk air, santan ambil putihnya saja. Masak hingga mendidih, matikan. Masukkan 1 gelas belimbing gula pasir (tidak terlalu penuh), tambahkan 1 sachet...

Jodoh

Pernah suka pada paras wajah cowok, ternyata orangnya sama? Aku pernah. Lima kali, orangnya dia lagi dia lagi. Pertama kali lihat wajahnya, saat pulang buka bareng yang diadakan tempat kursus. Saling melambaikan tangan ketika akan melangkah berbeda arah. "Pulang sama siapa, Dek?" tanya sesekakak, teman yang biasa jalan pulang bareng saat kursus selesai. "Sendiri, Kak. Kita bareng ke luar, ya." Ajakku. "Kakak dijemput," ujarnya lagi sambil menunjuk seorang laki-laki duduk di atas motor King dengan gaya kaki naik ke jok. Pandangan ini mengikuti arah tunjukkan sesekakak. Mata kami sempat beradu sekian detik, tanpa ada reaksi apapun dari wajahku atau dia. 'Cakep suami si Kakak' Waktu berlalu. Aku yang sedang menikmati angin taman kampus, melihat seseorang yang asik untuk dipandangi, sorot mataku sedikit terpaku saat dia berjalan ke arahku. 'Hah? Dia ke sini?' Otomatis, aku mundur duduk sedikit bersembunyi di balik punggung t...

M A R A H

Saya tidak pernah tahu, tapi saya juga bukan tempe (heleh). Gegara abis berbalas stiker di wag. Jadi, saya benaran tidak tau kalau memiliki balita yang beranjak menuju anak-anak, mereka lebih cerdas dibandingkan ibunya. Jawaban mereka mantap betul kalau sudah mendengar omelan sang ibu. Seperti tentang marah. Ibu kalau sudah marah, mereka seperti alarm ; " Laa taghdab ," ujar mereka tanpa menatap ibu. Ini sering mereka lontarkan saat ibu sedang marah. Atau "Ibu ndak kuat, kan? Sering marah," Tu, kan, udah bisa menyindir mereka. Kalau ini, mereka biacara saat amarah ibu udah reda. Nah, tadi tiba-tiba mereka bilang gini. "Ibu, ibu jan marah-marah, ntar ibu jadi tua, lho. Jelek." Padahal sehari ini ibu tidak ada marah. Mungkin ngomel, iya. Hehehe. "Ya, tolong juga biar ibu gak marah. Ibu marah kenapa, coba? Kalau Uda, Uni dengarin semua yang ibu bilang, ibu gak marah, kan?" Hening. "Yaa ... pokoknya ibu kalau marah, jadi ...

Little Things

Percayakah, kamu? Sekecil apapun yang kamu lakukan, terekam jelas diingatanku, menyentuh kuat di dalam kalbu. Maka, lakukanlah yang bisa mendukungku menjadi seorang istri sholehah seperti impianmu. Tidak perlu kata romantis. Cukuplah berkata lembut dihadapanku. Tetap berkata pelan tanpa ada bentakan, disaat kesalahan yang kulakukan. Senyummu, penyemangat hati. Tawamu, penyegar hari. Ingatkan aku dengan cara yang menyenangkan. Tegur aku dengan rasa nyaman yang tetap bersemayam. Beri aku waktu untuk diriku. Bermain bersama buah hati sejenak tak kan merugikanmu. Jika kamu bisa, aku lebih dari bisa menjadikanmu raja di istana kita. Aku, sadar siapa aku. Namun, setiap waktu, selalu kucoba menjadi istri sholehah. ♥♥♥ Terinspirasi dari beberapa status para istri yang menginginkan sang suami seperti ini dan seperti itu.

Botol Harapan (Kapsul Waktu)

Proyek mini dari Kampoeng Komunitas wow bagi saya. Jujur, saya baru mengenal kapsul waktu ini, ya, karena proyek ini. Selama ini, yang sering saya baca untuk mewujudkan sebuah harapan adalah ditulis, lalu ditempel di tempat yang sering terlihat. Dengan kapasitas yang sering tampak, memotivasi diri untuk mewujudkannya. Gitu .... Pernah melakukannya? Cuma ditulis tapi tidak ditempel. Bertemu kapsul waktu, saya auto search . Ternyata, maksud dari kapsul waktu umumnya adalah cara menyimpan barang-barang berharga, atau sebuah kenangan untuk generasi berikutnya. Beda dengan kapsul waktu ala kampoeng komunitas. Di sini, kami mengisi kapsul waktu dengan harapan-harapan untuk waktu yang akan datang. Diawali dengan tulisan keadaan sekarang. Untuk membuat kapsul waktu tentunya butuh benda berbentuk kapsul atau bisa menggunakan botol. Saya langsung ingat botol parfum yang masih tersimpan di atas lemari. Iya, masih ada isinya. Kemana saya buang? Saya semprotkan ke seluruh penjuru ru...

Work at Home

Ceritanya Ibu 3H pengen seperti orang-orang kantoran yang sekarang lagi work from home . Karena, Ibu memang stay at home , ya ... itu, at home . Apa, sih? 😅 Ini bukan tentang pekerjaan saya, gak usah dibahas, berat dan gak akan nemu ujungnya. Sedikit sharing bagaimana Hasyim si Anak TK belajar di rumah. Masih TK, kan? Kenapa ikut-ikutan belajar di rumah? Karena saya, tidak ingin waktu mereka terbuang percuma. Saya pun, mengambil kesempatan untuk menambah pahala. Sudah hampir setahun, Hasyim belajar mengaji dengan Mualimahnya di sekolah. Sekarang, ada waktu saya, kenapa tidak? Sebenarnya, sebelum Hasyim TK, si Uda ini sudah mulai beraktivitas ala-ala Ibu di rumah, tapi tidak ibu paksa. Kalau mau, Alhamdulillah, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Namun, sekarang, memang ada sedikit paksaan tapi, ibu memulai dulu dengan cerita. Jika tidak mempan, lanjut dengan iming-imingi hadiah. Biasa, sih, manjur kalau sudah dijanjikan hadiah. "Ikhlas, kan, Hasyim baca Iqra-nya?...

Tempat Ternyaman

Dulu, ketika belum berbontot, suka sekali setelah shalat langsung tidur di sajadah, masih lengkap memakai mukena. Nyaman. Kini, kebiasaan itu telah berubah menjadi posisi duduk. Di sana, di sajadah yang masih menghadap kiblat, dengan mukena yang tetap dipakai. Nyaman. Duduk bersimpuh, sendiri, namun terasa ada yang menemani. Bicara apa saja, sekalipun otak yang over thinking, seolah tetap didengarkan. Nyaman. Apalagi, di saat hati sedang galau. Masyaallah, diri ini semakin nyaman duduk berlama-lama di sajadah. Dan ditutup dengan sujud syukur ataupun mohon ampun. Karena, hati kecil itu tau, Engkau selalu ada.

I Wanna Lonely

Adakala, ibu ingin menjauh sejenak dari anak dan suami. Bukan untuk waktu yang lama. Cukup untuk sekedar rileksasi, atau mengambil nafas dari aktivitas yang ... membosankan? Entah. Ingin berkata bosan, nyatanya kadang menyenangkan. Atau sebentar saja, ingin mengosongkan otak yang seringkali over thinking . Katanya, saat rasa bosan dan kepala terasa panas, berarti kamu sedang jauh dariNya. Benar. Tapi, manusiawi, ibu butuh waktu sendiri. Bercengkerama dengan diri sendiri. Menangis sendiri. Tersenyum sendiri. Tanpa ada gangguan apapun. Ya, apapun. Kadang, itu bukan sekedar ingin, sudah merasa butuh. Lalu, apa yang terjadi pada ibu jika tidak mendapatkannya? Emosi. Merasa jengah saat anak-anak masih saja menempel. Kemudian? Menyesal. Please ... I wanna lonely, just a minute. Just a minute. Give me.

Kamu

Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat, bagiku. Saat itu, rasa yang tak biasa belum begitu menjiwa. Hanya saja, batin ini nyaman saat bersamamu. Tidak ada keraguan saat dirimu ingin memperjelas ikatan di antara kita. Semestapun seolah memperlancar saat engkau mengucap janji suci.  Barakallahu fiikum . Dan ... hari-hari itu kita lalui. Manis, pahit, bahkan pedas pernah kuterima darimu. Kuterima, ikhlas, walau pasti ada tangis yang tersembunyi darimu. Namun, semua adalah ajaran bagiku dalam bersikap, menghabiskan hidupku bersamamu. Kemudian, Allah dengan caranya, menunjukkanku bagaimana mencintaimu. Tidak berlebihan, apa adanya, tentunya mencintaimu karena Dia Sang Penguasa Hati. Bukan berarti, kuselalu mengingat kesalahanmu, tidak. Manismu 'kan jadi mimpiku, pahit itu 'kan kulenyapkan tanpa tersisa. Selalu kucoba. Jika saja manis selalu terasa, mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya pahit. Mungkin ... aku lupa siapa yang memberi rasa-rasa indah itu. Ak...