Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kata kata

Amanah yang Penuh Makna

Pernah berpikir ingin kembali ke masa kanak-kanak? Masa penuh warna tanpa sedikitpun terasa masalah hidup. Lalu, kenapa setelah memiliki anak, tidak mencoba agar warna itu tetap berwarna? 💕💕💕 Namanya juga anak-anak. Makanya, tanamkan akhlaqul karimah dari sekarang, agar menjadi kebiasaanya kelak. Makanya, dibiasakan segala ibadah agar hidupnya selamat hingga nanti Makanya, putus rantai kebiasaan buruk pada hidupnya. Namanya juga anak-anak, lalu selalu memberi kemakluman? Aku sih, no! 💕💕💕 Seperti anak-anak yang selalu memaafkan segala kesalahan orang tuanya. Seperti anak-anak yang hatinya selalu penuh kasih. Layaknya anak-anak yang mewarnai harinya sendiri. Layaknya anak-anak yang jiwanya tanpa noda. 💕💕💕 H iduplah sesuai angan-anganmu A mbillah Quran sebagai peganganmu S ujudkan selalu kepalamu memohon ridho Illahi Y akinlah, doa kami selalu menyertaimu I mpikan segalanya untuk kebahagiaanmu M unajatan selalu hatimu pada Illahi H ijabkan seluruh tubuhmu A malkan sunnah nabi dih...

Yang Penting Nulis

Kuingin menulis, tapi tidak tahu apa yang ingin ditulis. Sekadar menulis, meluapkan 2 ribu kata yang sepertinya tidak begitu tersalurkan hari ini. Penting? Penting. Biar rasa-rasa yang tak diperlukan tubuh lepas, puas, bebas. Kuingin menulis. Entah itu tentang hati, hidup, atau umumnya yang dibicarakan. Namun, saat ini hati sedang tidak ingin berpikir. Maka, kutulis saja apa yang dirasa kepala. Walaupun hanya serangkai kalimat, bukan kata-kata yang sarat makna. Kuingin menulis y ang kadang mempunyai makna yang tersirat. Namun, kali ini, aku tidak akan menyiratkan suatu makna dalam tulisan ini. Hanya ingin menulis disaat kutak tau harus berpikir apa. Kata-kataku hanyalah biasan kecil dari hati. Sebuah catatan kecil yang kutulis saat mata harus terpejam untuk menjalani hari esok bersama senyuman. Bersama tawa si Kecil. Bersama kasih darimu. Bersama doa untuk yang tercinta.

Hijrah Rasa (3)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (2) Setelah upacara penerimaan siswa baru yang dihadiri seluruh keluarga SMA tadi di lapangan, kini murid-murid baru tersebut melakukan sedikit permainan di dalam kelas untuk saling mengenal, tentunya didampingi oleh senior. Sejauh ini, semua aman menyangkut urusan rasa di hati Qia. Entah pada Gita, Gema yang lebih dahulu menjadi warga sekolah ini, alias kakak kelas, seringkali menampakkan batang hidungnya. Lalu, mereka senyum malu-malu kucing. Elah. "Cape dweh! Si bulet ungu mulai bergerilya, nih," komentar Qia saat kedapatan Gita kembali tersenyum ke arah jendela. Karena apalagi kalau bukan ada dengungan suara di luar sana, a.k.a Gema. " What ? Baru beberapa jam, lo udah dikuasainya, Qi? ... ber-ba-ha-ya." "Gak usah, sok ngeles." Qia memutar bola matanya, jengah. "Dengar, ya, sahabat sehidupku. Selama aku masih kamu anggap teman, selama itu pula Gege gak bisa berduaan denganmu." "Abang, Qi. Dia lebih ge...

Perempuan

"Duhh ... baju gue udah ga ada lagi nih. Shopping yuk." "Yuk, aku juga mau beli sepatu." "Kalau saya mah, mau nyari tas." Padahal baju se almari. Padahal rak sepatu sudah penuh. Padahal tak ada lagi tempat menggantung tas. Padahal semua yang dimiliki akan dipertanggung-jawabkan kelak. *** [yang ini masih ready sist?] Beberapa menit kemudian .... 'kok ga dibalas ya? Padahal online.' Padahal si sist sedang sibuk balas pesan yang masuk dari kemarin. . [pulang jam berapa mas?] Beberapa menit kemudian .... 'lagi ngapain sih? Padahal baru on dua menit yang lalu.' Padahal si mas baru jalan lagi habis beli kue untuk kesayangan. . Janjian dengan teman, sudah lewat beberapa menit. 'kalau ditanya di mana, pasti bilang otw. Pasti nih dandannya lama.' Padahal si teman sedang menolong korban kecelakaan. *** Pedoman hidup jangan dihilangkan Raih keberkahan disetiap tindakan Antara kebaikan dan keburukan Hanya niat ya...

Akrostik

J alani hidup tanpa perlawanan E ntah itu untuk apa dan siapa N yatanya hidup butuh perlawanan U apan kemarahan  H anya sekedar embun emosi  L ambat aku mencerna E ntah itu sikap atau sifatmu L alu apa aku diam? A tau selalu protes H ampa kadang, hanya rasaku  S eketika semua menjadi runyam E ntah itu kepala atau dada N amun tak jua kuasa meredam D iam pilihan satu-satunya, selalu I ngin mulut berucap, membalas R abb, Engkau Maha Tahu I zinkan menangis sejenak 🍃🍃🍃 Hanya Rangkaian Kata Tak masalah sikap bagaimana Hanya perlu lisan yang dijaga Sekedar menjaga Tidak perlu sekalipun mencipta rasa

HARAKA

HARAKA meluncur begitu saja dari kepala dikemas dengan jenaka dalam perpaduan rasa yang tak henti bercerita, tak henti berkisah HARAKA terkuak begitu saja entah dari mana menyeruak dalam hari-hari fana dan waktu yang tak henti berputar dalam rangkaian hidup HARAKA bukan untuk diterka atau dipahami karna ini hanya rangkaian kata tak terbias, tak terucap hanya tersirat, hanya terangkai dan terus merangkai entah sampai kapan