Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label pendidikan

Pemahaman Perbedaan Gender

Taukah kamu ternyata arti gender dan seks itu berbeda? Oh, udah tau. Berarti ibu 3H aja yang kurang baca. Hiks. Gender itu menurut KBBI adalah sifat atau keadaan jantan/ betina. Kalau menurut WHO, gender itu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan. Sifat ini dipengaruhi oleh kultural atau keadaan sosial. Nah, ibu 3H, gender itu bukan sekedar laki atau perempuan, ya. Lalu seks. Seks itu yang dianugerahkan Allah pada manusia. Yang biasakan kita kenal laki-laki dan perempuan, alias jenis kelamin. Kata teman-teman dari kelompok 1, "Sekalipun itu laki atau perempuan operasi kelamin, sifat dasar yang telah ditetapkan Tuhan, gak akan bisa tertukar." Lagian kodrat Allah mana bisa semau elo. Ini namanya seks primer (aku lihat catatan). Selain Aha Moment yang kutangkap di atas, ibu 3H mau menambahkan catatan pentingnya mengenalkan gender pada anak. Langsung screen shoot dari materi kelompok 1 aja, nih, tahapannya. Semoga bermanfaat. Terima Kasih kelompok 1

Pendidikan Seksualitas (3)

Masih tentang pemahaman seksualitas pada anak. Duh, berat. Namun sesuai materi yang dibagikan Insyaallah sedikit-sedikit sudah mulai ibu terapkan pada 2H. Kebiasaan menutup aurat semenjak sekarang. Memakai handuk setelah mandi ke kamar atau langsung membawa baju ke kamar mandi. Mengenalkan apa itu mahram, siapa saja mahramnya. Menekankan, "siapapun tidak boleh memegang badanmu, apalagi bagian aurat." Kemaluan mereka saya sebut aurat. Bagian tubuh yang tidak boleh dilihat siapapun. Mungkin menunggu beberapa tahun lagi baru memperkenalkan nama sebenarnya, hehehe. Nah, kebetulan kemarin Uda cerita tentang cewek dan cinta. Baru kelas 1 SD ini, ya Rabb. "Kata si itu, Bu, cewek itu cintanya dia." Uda cerita sambil tertawa-tawa berdua dengan Uni. Saya yakin tertawa mereka karna baru mendengar kata yang baru, bukan karena ceritanya. Uda dan Uni memang sereceh itu. Mendengar kata baru bisa terbahak-bahak. Saya jadi ikutan tertawa mendengar keseruan mereka. Setelah tawa merek...

Pendidikan Seksualitas (2)

Membaca materi-materi terkait seksualitas membuat saya sedikit merinding membayangkan kelak anak-anak akan baligh . Apa saya bisa? Bismillah aja, sih. Akhirnya saya mencoba mencari tahu bagaimana pendidikan seksualitas dalam ajaran Islam sesuai Al-Quran dan sunnah. Dari beberapa artikel bisa saya simpulkan bahwa, "Dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, dan aqidah yang menancap, Insyaallah anak akan mampu mengatasi gejolak nafsu secara benar." Saya mengutip dari artikel id.theasianparent.com dengan judul "Bagaimana Pendidikan Seks dalam Perspektif Islam" 1. Menanamkan rasa malu pada anak Alhamdulillah tanpa disadari beberapa kebiasaan untuk pendidikan seksualitas pada 3H telah saya lakukan. Seperti harus langsung berpakaian setelah mandi, atau memakai handuk dulu sampai di kamar. Untuk Uni dibiasakan memakai jilbab saat keluar rumah. 2. Menanamkan jiwa maskulin pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan Membiasakan anak perempuan memakai rok dan a...

Pendidikan Seksualitas

Memasuki zona tujuh, dua zona terakhir, semakin menantang IPers bunda sayang untuk berkreasi. Mengusung tema tentang seksualitas yang sebagian orang tua masih tabu untuk membicarakannya bersama anak. Tantangan zona delapan kali ini sedikit unik. Beberapa regional digabung menjadi satu, (saya pikir bakal digabung regional yang dekat-dekat aja, ternyata satu di Sabang, satu lagi di Merauke) surprais sekali berkenalan dengan teman-teman dari Pacitan, NTT, NTB dan Papua. Hari pertama tantangan, kami--kelompok 22--masih membahas apa, siapa dan bagaimana pelaksanaan tantangan di zona ini. Lalu berbagi pengalaman secara garis besar tentang pemahaman seksualitas. Sekilas tentang materi yang akan kami dalami yaitu tentang Pengaruh Media Digital Terhadap Pemahaman Seksualitas. "Mengedukasi anak melalui sebuah game " "Membatasi penggunaan gadget pada anak" "Membersamai anak saat menonton/ game " "Memperhatikan riwayat pencarian saat ini diberi kepercayaan mengg...

Kebahagiaan Kecil IPers Komunitas IP Padang

 Bahagia Selama Pandemi? Sebagian besar manusia tiba-tiba merasa terkekang sejak hadirnya covid-19. Tidak bebas. Terpenjara, atau apalah namanya. Semua itu tidaklah lepas dari kuasa-Nya. Selalu ada hikmah untuk hamba yang sabar dalam menghadapi cobaan. Benar? Aku bukanlah orang yang sebijak itu dalam menghadapi cobaan. Hanya ingin selalu bersyukur di setiap keadaan. Ehm. Kali ini aku bukan ingin mengulik tentang cobaan, tapi berbagi hasil bincang IPers Komunitas Padang tentang bahagia ditengah pandemi. Nah, ternyata masih bisa menciptakan bahagia 'kan meski harus selalu di dalam rumah? Seperti buibu ini. "Pandemi ini jadi semacam pembenaran untuk sisi introvertku. Aku malah merasa nyaman." Ayo, siapa yang merasa introvert? Apa iya merasa seperti bunda tersebut? Tapi kalau anak-anak berada di rumah seharian, bukannya sisi introvert seorang ibu menghilang, ya? Haghaghag. Namun sekalipun jiwa seorang tersebut introvert, ada kala keinginannya untuk sekedar cuci mata, menghiru...

Catatan Saja

 Aku Islam. Dan aku bangga telah menjadi muslimah yang taat. Bukankah yang wajib itu shalat, dan puasa di bulan Ramadhan? Itu sudah kulakukan. Berakhlak baik, bersedekah, dan tidak mengerjakan yang haram. Oh ya, aku juga sudah menutup kepala. Setidaknya Islamku, tidak hanya Islam di KTP saja. Sekali lagi, aku bangga tidak pernah meninggalkan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan. Di mata teman-teman, aku alim. Walaupun hanya itu. Ternyata ... shalat, berpuasa wajib, dan berakhlak mulia, tidaklah cukup untuk memenuhi tujuan kudiciptakan. Ternyata ... semua kewajiban yang telah kulakukan belum pasti diterima. Lalu, apakah semua yang telah kukerjakan sia-sia? Dari yang kupelajari, semua yang dilakukan semata-mata hanya karena-Nya, tidak akan percuma. Insyaallah. Alhamdulillah. Syukurlah. Namun, itu masih jauh untuk memenuhi tujuan hidup yang sebenarnya. Sekali lagi, dari yang kupelajari, untuk menyempurnakan semua kewajiban kita sebagai muslim, maka kerjakanlah yang sunnah. Ternyata sunn...

Ibu Menjadi Ustadzah

"Astaghfirullah Nak ... tiga jam Ibu bujukkin Uda biar mau rekam suara. Merekamnya bahkan ndak sampai satu menit." Itu monolog Ibu setelah Hasyim mau mengerjakan tugas dari sekolah. Hasyim semangat mengerjakan semua tugas sekolah, kecuali kalau diminta direkam suara apalagi video. Sudah dua pekan pembelajaran Uda dan Uni berlangsung di rumah. Satu kali dalam sepekan ke sekolah hanya 30 menit, untuk setoran hafalan Quran. Hanya itu. Selebihnya, ustadzah mereka akan mengirim materi dan tugas via aplikasi WA. Sebelumnya, ibu hanya membaca status-status para buibu bagaimana keluhan mereka selama anak-anak belajar di rumah. Cuek gitulah Ibu 3H kemarin-kemarin itu. Sekarang, baru terasa bagaimana harus sabar menghadapi dua murid beda angkatan sekaligus. Rasain. Astaga 😳 Adaaa saja alasan mereka. Si Uni yang mau ngerjain tugas udalah. Si Uda yang mau mewarnai kayak Unilah. Si Uni yang minta bantuan Uda ngerjain tugasnya. Ditambah si Bayi yang minta dikASIhi saat pembelajaran Uda U...

Sepuluh Hari Terakhir

Semburat mentari pagi mewarnai bumi. Tidak terasa, Ramadhan akan segera pergi. Ayu, si gadis kecil yang periang sudah berniat dari awal Ramadhan, kalau puasanya akan penuh di sepuluh hari terakhir ini. Walaupun, di hari-hari sebelumnya banyak juga yang hanya sampai siang hari. "Ternyata, makin dekat hari raya, puasa makin terasa berat." keluh Ayu saat jam istirahat. Ayu memilih duduk di kelas saja, tampak beberapa orang teman mengeluarkan bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah. Ayu memalingkan wajah ke arah yang lain, berharap tidak tergoda ingin menyicip kue teman-temannya. Perut Ayu terasa memanas. Memang, saat sahur tadi, Ayu terlambat bangun. Malas sekali untuk bangun sahur, alhasil, Ayu masih makan saat azan berkumandang. Kata Bunda, 'gak apa-apa, selesaikan aja makannya. Rasulullah pernah bersabda kalau kita sedang sahur, lalu terdengar azan, maka selesaikan dulu makannya. Hmm ... Ayu lupa apa sabda yang dibilang bunda tadi, ingatnya HR Abu Dawud aja'. ...

Work at Home

Ceritanya Ibu 3H pengen seperti orang-orang kantoran yang sekarang lagi work from home . Karena, Ibu memang stay at home , ya ... itu, at home . Apa, sih? 😅 Ini bukan tentang pekerjaan saya, gak usah dibahas, berat dan gak akan nemu ujungnya. Sedikit sharing bagaimana Hasyim si Anak TK belajar di rumah. Masih TK, kan? Kenapa ikut-ikutan belajar di rumah? Karena saya, tidak ingin waktu mereka terbuang percuma. Saya pun, mengambil kesempatan untuk menambah pahala. Sudah hampir setahun, Hasyim belajar mengaji dengan Mualimahnya di sekolah. Sekarang, ada waktu saya, kenapa tidak? Sebenarnya, sebelum Hasyim TK, si Uda ini sudah mulai beraktivitas ala-ala Ibu di rumah, tapi tidak ibu paksa. Kalau mau, Alhamdulillah, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Namun, sekarang, memang ada sedikit paksaan tapi, ibu memulai dulu dengan cerita. Jika tidak mempan, lanjut dengan iming-imingi hadiah. Biasa, sih, manjur kalau sudah dijanjikan hadiah. "Ikhlas, kan, Hasyim baca Iqra-nya?...

Sedikit Catatan Ibu

Di keheningan malam saat mata akan terpejam, terdengar percakapan dari dua suara balita di kamar sebelah. "Badan ibu kayak matahari ya uda, panas." "Iya. Ibu sakit. Ibu sering marah ya." Terdengar nada suara uda yang penuh iba. Hati ini pun terenyuh. Beberapa saat kembali hening. Suara jangkrik dari sebelah dinding kamar yang tadi bersahut-sahutan perlahan berganti dengan suara rintik yang menyegarkan. "Hujan uda." sorak si uni ceria, serempak terdengar mereka melantunkan doa hujan. "Enaknya ibu kayak hujan aja ya uda." lanjut nak gadis lagi. "Apa?" uda terdengar bingung, begitupun saya menanti jawaban si uni. "Iya, ibu enaknya kayak hujan. Sejuk, badan ibu tidak panas." "Iya ya, kalau ibu sehat, ibu ga marah-marah lagi." Ya Rabb ... seketika menetes air mata ini. Izinkan hamba menjadi seperti yang mereka inginkan, menjadi setetes hujan yang menyejukkan dalam keluarga ini. 🍁🍁🍁 Saya termasuk ...

Kisah Abdullah bin Ummu Maktum

Kamu kenal dengan Bilal bin Rabah? Muadzin pada saat zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam, right? Kalau dengan Abdullah bin Ummu Maktum? Beliau juga muadzin Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam. Ya, ternyata Rasulullah memiliki dua orang muadzin pada saat itu. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu'anha : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا :  أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ "Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu (sepertiga) malam. Karena itu, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Makan dan minumlah kalian sampai Abdullah bin Ummu Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh)'." (Tafsiir Abdullah bin Katsiir 8/321) Membaca hadist di atas dapat diketahui bahwa, Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummu Makt...

I Want It Now !

Membaca buku parenting memang menjadikan kita sebagai sosok parenthink . Sebagian besar, tulisan atau seminar tentang cara mendidik anak, adalah menyadarkan sikap-sikap dan sifat-sifat kita sebagai orang tua terhadap anak. Seringkali setelah membaca atau mendengar tentang pendidikan anak kita berkomentar, "iya ya, benar banget, nih". Selanjutnya, terserah kita mau mengamalkannya atau cuek saja, tetap dengan kebiasaan, yang penting nyaman. Susah memang, di sini kembali ke diri orang tua, sanggup tidak menahan diri terhadap anak? Jawaban sebenarnya HARUS sanggup, atau akan ada rasa sesal dikemudian hari. Nah, salah satu yang membuat saya menahan diri untuk tidak mengeluh dihadapan kiddos, 3H kalau mau, harus sekarang. Now, Bu, Now! Tentunya mereka ngemeng bahasa Ibu, bahasa Minang, muehehehe .... Tidak serta merta bilang kini Bu. Gak juga. "Yo, Bu?" "Apo,Bu?" "Dek a, Bu?" "Kok, gitu, Bu?" "Pek lah, Bu ..." Kali...

Kesal, Akutuh ....

Lagi bergelut dengan bumbu dapur, atau sedang bermain air bersama kain-kain, lalu tiba-tiba terdengar gedoran pintu dari luar. Auto langsung lari ke depan, mengintip siapa pelaku gedor-gedoran dengan si pintu. Kalau si tamu bisa diajak dari balik pintu aja, gampang, urusan cepat selesai. Tapi, kalau yang datang mengharuskan kita--perempuan--harus bertatap muka, berarti harus balik lagi ke dalam, ambil hijab. Ya, kalau baju yang sedang dipakai 'aman', cukup pakai hijab. Kalau mood lagi pengen pakai yang fantastis--secara lagi seorang diri-- (haghaghag ...), berarti harus sorong lagi baju lain. Makin lama, dong ya, menemui tamunya. Mau sharing dikit pengalaman sendiri, ketika menemui situasi tamu datang, atau bertamu. Jika kondisi harus kembali ke dalam setelah tahu siapa tamu yang datang, jangan lupa jawab salam, lalu bilang "tunggu sebentar", pastikan si tamu mendengarnya. Kemudian, bergegaslah untuk kembali ke depan. Gak usah pake dandan, please .... Hany...

Risalah Nabawiyyah - Kaum Arab

Siroh sebelumnya, klik →  Posisi Bangsa Arab ••• Pekan lalu kita sudah mengenal geografis Bangsa Arab. Jumat ini, kita akan berkenalan dengan kaum Arab (kaum yang umumnya memiliki hidung bangir, hihihii ....). Menurut para sejarawan, garis keturunan asal kaum Arab ini, ada tiga bagian : 1. Arab Ba'idah, yaitu kaum Arab kuno yang sudah punah dan tidak mungkin lagi untuk melacak lebih lanjut tentang sejarah mereka. Seperti kaum Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Imlaq (bangsa raksasa), dan lainnya. Ayoo ... siapa yang ingat itu kaum di masa Nabi apa saja? Membayangkan berkenalan dengan mereka, kok, sedikit merinding, ya? 😅 2. Arab Aribah, yaitu kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau Arab Qahthaniyah. Saya harus googling dulu untuk tahu, siapa itu Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan. 3. Arab Musta'ribah, yaitu kaun Arab dari keturunan Ismail, yang disebut Arab Adnaniyah. Nah, seperti yang ditulis di atas, bahwa sejarah Arab B...

Risalah Nabawiyyah - Posisi Bangsa Arab

Bismillah. Insyaallah setiap hari Jumat, saya akan mencoba meringkas sirah nabawiyyah, perjalanan hidup Rasul  ﷺ yang agung. Kisah ini saya tulis ulang dengan bahasa yang lebih ringan. Sumber dari buku Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. ◆◆◆ Jika ditanya, apa yang langsung terfikirkan olehmu, tentang keadaan bumi negeri Arab? Tentunya padang pasir (sahara), tanah gundul dan gersang yang tanpa air dan tanaman. Right? Sejak dulu, lafazh Arab selalu ditujukan kepada Jazirah Arab. Nah, sebelum kita berkisah tentang Baginda Nabi Muhammad  ﷺ, baiknya kita juga mengenal sedikit gambaran tanah kelahiran Beliau. Luas Jazirah Arab diperkirakan antara 1.000.000 mil persegi hingga 1.300.000 mil persegi. Dengan batasan-batasan daerah sebagai berikut : Barat → Laut Merah dan semenanjung gurun Sinai. Timur → Teluk Arab dan sebagian besar negeri Irak bagian selatan. Selatan → Laut Arab, perpanjangan dari laut Hindia. Utara → Wilayah Syam dan sebagian negeri Irak. ...

Gagal Paham

Pernah kepoin tab jelajah di instagram kan? Isinya akun-akun yang difollow oleh teman-teman yang kita follow, benar ga sih? Pada akhirnya saya jadi gagal paham dengan foto-foto yang begitu banyak tagging nya, khususnya foto selfie pemuda-pemudi. Tujuannya nge-tag akun-akun yang me-repost apa? Oke, saya coba bayangkan jika upload foto lalu tag bla..bla.bla... Umm..senang dapat love banyak, komentar-komentar pujian, mungkin itu ya (karna ibu juga pernah muda, uhuk..) Saya juga pernah upload foto selfie ke medsos, banyak malah, dan memang senang ya dapat like banyak dan dikomen banyak orang. Tapi Alhamdulillah masih punya rasa malu untuk nge-tag sana sini, walaupun pada akhirnya saya menyesal, sungguh... Tau zina mata kan? Karena itu salah satunya, dan itu diri sendiri yang memulainya. Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah... Bayangkan berapa mata yang melihat, memandang, bahkan mungkin menikmati wajah kita (Na'udzubillah...). Maaf kata, ternyata ibu-ibu udah beranak pun...