Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label repost

Kenapa Aku Menulis?

Apa alasan kamu menulis? Pertanyaan yang susah-susah gampang. Gampang karena sebenarnya jawabannya simpel, "menulis itu coretan hati, rangkaian kata pikiran", udah itu aja. Nah, susahnya harus dijabarin sebanyak tiga halaman A4 (boleh gubrakk? 😅)    Baiklah kita mulai dari mana? Mengutip beberapa quote tentang menulis, Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Seno Gumira Ajidarma Saya menulis bukan hanya untuk dunia, tetapi juga demi akhirat saya. Helvy Tiana Rosa Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yg tak akan pernah kau sesali kemudian. Helvy Tiana Rosa Bagi saya menulis novel itu memahat kenangan, menyulut inspirasi sambil melakukan pembalasan atas kepedihan dengan cara yang paling indah. Helvy Tiana Rosa Menulis itu m...

Kenangan

akhirnya sampai kita dipenghujung waktu semua hanya perjalanan hidup saat pertemuan terindah mempertemukan, saat itu juga perpisahan termanis terjadi.   sahabat, tak pernah cukup waktu bersamamu, kenanglah saat kita menghabiskan waktu bersama. caci maki yang terjadi tidak lagi jadi dendam di hati, canda tawa yang ada akan tetap hiasi hari-hari.   kemarin, hari ini, besok, lusa dan seterusnya adalah hidup yang akan tetap kita jalani. semoga kita menjadi insan Nya yang sukses dunia akhirat amiin ya Rabb... 5 Maret 2012 30 Mei 2020 Ini tentang diri sendiri menjalani hari Tentang hati menghadapi waktu Siapa aku di hari ini, Tak akan menjadi aku yang sama di kemudian hari Hari yang lalu, tak terfikirkan bagaimana waktu yang akan datang 'Yang penting, hati bahagia' Lalu, hari ini datang, dan diri menyalahkan hati 'Kenapa kau mengikuti nafsu' Ini bukan tentang mereka yang mewarnai hari dulu Bukan tentang hati yang ha...

Sepuluh Hari Terakhir

Semburat mentari pagi mewarnai bumi. Tidak terasa, Ramadhan akan segera pergi. Ayu, si gadis kecil yang periang sudah berniat dari awal Ramadhan, kalau puasanya akan penuh di sepuluh hari terakhir ini. Walaupun, di hari-hari sebelumnya banyak juga yang hanya sampai siang hari. "Ternyata, makin dekat hari raya, puasa makin terasa berat." keluh Ayu saat jam istirahat. Ayu memilih duduk di kelas saja, tampak beberapa orang teman mengeluarkan bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah. Ayu memalingkan wajah ke arah yang lain, berharap tidak tergoda ingin menyicip kue teman-temannya. Perut Ayu terasa memanas. Memang, saat sahur tadi, Ayu terlambat bangun. Malas sekali untuk bangun sahur, alhasil, Ayu masih makan saat azan berkumandang. Kata Bunda, 'gak apa-apa, selesaikan aja makannya. Rasulullah pernah bersabda kalau kita sedang sahur, lalu terdengar azan, maka selesaikan dulu makannya. Hmm ... Ayu lupa apa sabda yang dibilang bunda tadi, ingatnya HR Abu Dawud aja'. ...

Sedikit Catatan Ibu

Di keheningan malam saat mata akan terpejam, terdengar percakapan dari dua suara balita di kamar sebelah. "Badan ibu kayak matahari ya uda, panas." "Iya. Ibu sakit. Ibu sering marah ya." Terdengar nada suara uda yang penuh iba. Hati ini pun terenyuh. Beberapa saat kembali hening. Suara jangkrik dari sebelah dinding kamar yang tadi bersahut-sahutan perlahan berganti dengan suara rintik yang menyegarkan. "Hujan uda." sorak si uni ceria, serempak terdengar mereka melantunkan doa hujan. "Enaknya ibu kayak hujan aja ya uda." lanjut nak gadis lagi. "Apa?" uda terdengar bingung, begitupun saya menanti jawaban si uni. "Iya, ibu enaknya kayak hujan. Sejuk, badan ibu tidak panas." "Iya ya, kalau ibu sehat, ibu ga marah-marah lagi." Ya Rabb ... seketika menetes air mata ini. Izinkan hamba menjadi seperti yang mereka inginkan, menjadi setetes hujan yang menyejukkan dalam keluarga ini. 🍁🍁🍁 Saya termasuk ...

Prioritas

Jika berbicara apa prioritas di dalam hidup, pastinya Allah dan Rasulullah. Itu adalah prioritas di atas prioritas. Di sini saya--sebagai seseorang yang sangat awam--mencoba sedikit mengulik tentang salah satu prioritas keseharian suami dan istri. "Sesekali, tolong dong Ayah yang didulukan." Begitu rengekan suami beberapa hari yang lalu. Ya, saya akui suami jadi yang ke dua setelah kami mempunyai bayi yang ke tiga. Bukan bermaksud tidak mendahulukannya, hanya saja kadang ingin strika baju misalnya, bayi bangun. Kadang ingin memasak cemilan untuk suami, anak-anak minta ini atau itu. Mau mengerjakan malam, lelah keburu datang. Padahal, kebutuhan suami tidak seberapa dibandingkan anak, tapi malah terkesampingkan. Makanan yang siap disantap, cemilan, baju yang siap untuk dipakai, dan bercinta. Kira-kira hanya itu (mungkin) yang sangat dibutuhkannya. Bersyukur jika suami tidak pernah menuntut, tapi tidakkah sebagai seorang istri merasa bukan menjadi istri yang sholehah? In...

Kisah Abdullah bin Ummu Maktum

Kamu kenal dengan Bilal bin Rabah? Muadzin pada saat zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam, right? Kalau dengan Abdullah bin Ummu Maktum? Beliau juga muadzin Rasulullah shalallahu ‘alaihiwassallam. Ya, ternyata Rasulullah memiliki dua orang muadzin pada saat itu. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu'anha : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا :  أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ "Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu (sepertiga) malam. Karena itu, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Makan dan minumlah kalian sampai Abdullah bin Ummu Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh)'." (Tafsiir Abdullah bin Katsiir 8/321) Membaca hadist di atas dapat diketahui bahwa, Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummu Makt...

Rapi-Rapi Baju, Kuy!

Mengutip kata bunda Septi, “Berdamai dengan Setrikaan” EKSPLORASI   Saat kecil – remaja saya mencoba meng eksplore semua kegiatan domestik dengan 'terpaksa' karena ibu bekerja dan saya anak perempuan yang secara kultur menjadi 'seharusnya' mengerjakan pekerjaan domestik tersebut. Hasilnya semua pekerjaan domestik TIDAK SAYA CINTAI kecuali 'main'. Ya, semakin cepat selesai artinya waktu main makin panjang. DO WHAT YOU LOVE Saat menikah mau tidak mau saya harus berhadapan dengan aktivitas domestik lagi. Hadeeuh. Saya mulai pilah, mana aktivitas yang membuat saya bahagia dan mana yang tidak. Saya bagi waktu saya berdasar kadar bahagia. Yang bahagia saya buat lama dan yang tidak dipersempit. Ketemulah 'main' sama anak-anak membuat saya sangat bahagia. Sedangkan masak, mencuci, setrika, dll membuat saya tidak bahagia. Maka saya bagi waktu saya dari subuh hingga jam 7 pagi melakukan hal yang harus dikerjakan meski tidak suka. Seperti mencuci, s...

Angka Satu

Dia, aku panggil Papa. Lelaki tegas, pekerja keras, jarang tersenyum, apalagi tertawa. Pernah, Papa pernah begitu sering tertawa. Saat dua orang adikku masih dikatakan 'bawah lima tahun', dan aku di bangku sekolah dasar. Masih kuingat tawa lebar Papa ketika bermain bersama kami di halaman belakang. Saat itu, Papa membelikan kami pistol air. Setelahnya, aku tidak ingat kapan Papa tertawa lagi. Tidakkah dia tahu, senyumnya bisa menghangatkan rumah ini? Tawanya mencairkan segala kepenatan yang ada? Aku bukan ingin menceritakan tentang tawa Papa. Walaupun aku rindu gelak darinya. Aku ingin sedikit bercerita, bagaimana tertekannya aku oleh tuntutan Papa akan nilai di sekolah. Bagaimana terkekangnya aku karena keinginan Papa. Jika ditanya pendapatku tentang nilai sekolah untuk masa depan, aku tidak sepakat. Nilai sekolah tidak menjamin seseorang sukses dikemudian hari. Selain usaha dan doa, nasib bisa menjadi salah satu faktor keberuntungan dalam pekerjaan. Namun, tidak bagi ...

Gadget

Rumah bisa selalu bersih dan rapi tanpa mainan anak-anak karena aku. Rumah juga bisa selalu tenang dan hening dari suara kegembiraan atau tangisan anak-anak karena aku. Aku bisa membuat orang tidak bisa jauh dariku. Kemana saja aku selalu digenggam. Aku bisa membuat suasana di sekitar orang yang bersamaku menjadi nyaman, hingga lupa waktu. Namun aku tak bisa menjamin orang akan menjadi baik jika larut dalam euforia bersamaku. Akan ada lakuna di hati anak-anak bahkan orang dewasa karenaku. *lakuna : hilang/ruang kosong

Ayah, Hebat!

Suatu sore yang cerah, Hasyim ditemani Ibu, sedang menunggu Ayah pulang dari kerja. Hasyim dan Ibu, duduk di taman bunga yang tidak jauh dari rumah mereka. Hasyim sedang sedih, karena Ayah tidak bisa menemani Hasyim bermain sepeda sore ini. Padahal, Ayah sudah janji akan bersepeda dan pergi makan es krim yang besar. "Hasyim, kecewa, ya?" tanya Ibu. "Iya, Bu. Ayah ndak sayang Hasyim, ya, Bu?" tanya Hasyim sedih. "Ayah sayang Hasyim, kok." jawab Ibu sambil tersenyum. "Kalau Ayah sayang Hasyim, kok, Ayah ndak mau main sama Hasyim?" tanya Hasyim lagi. "Ayah 'kan kerja, Nak. Ayah kerja biar apa coba?" jelas Ibu lagi. "Biar dapat uang," "Terus uangnya untuk apa?" "Untuk beli susu Hasyim, sama mainan, sama kue coklat, sama es krim." Ibu tertawa kecil mendengar jawaban Hasyim yang panjang. "Kalau begitu, Ayah sayang tidak sama Hasyim?" "Sayang." Suara Hasyim terdengar l...