Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ff

Cerita Terkejut By : Uni Hafshah

Penulis : Ibu Pulang sekolah Hafshah bercerita serius pada Uda. Uda pun mendengarkan dengan seksama. Ibu menyimak pura-pura bermain hp. Cerita Uni ini mengandung thriller dan comedy. Begini ceritanya. Seorang ibu ingin berbelanja, entah mau belanja apa tapi tidak mempunyai uang. (Ini teringat ibu ya, Nak? Hahaha). Saat itu, sang papa sedang tidak di rumah, katanya pergi ke pasar. Maka ibu itu mengambil uang si papa. (Tapi ini bukan ibu, ya!). Ternyata saat si ibu mengambil uang, si papa sudah pulang dan ibu tidak mengetahuinya. Lalu papa diam-diam mendekati ibu dan mengejutkannya. Si ibu sangat terkejut dan langsung berlari ke arah dapur. Ingin bersembunyi dari papa yang mengejarnya. Akhirnya ibu memilih bersembunyi di kulkas atas. (Maksud Uni kulkas atas adalah freezer. "Memang muat di freezer?" tanya si Uda, "freezernya besar", jawab Hafshah lagi). Semua kehilangan ibu awalnya. Setelah dicari-cari, ibu ditemukan membeku di dalam kulkas atas. Anak ibu dan papa ini ...

Fiksi Mini

Aku ingin menjadi penulis terkenal, yang setiap tulisannya disukai para pembaca. Tidak hanya sekedar pujian pada tulisanku, aku bertekad diriku pun disanjung. Maka aku bergabung ke semua grup kepenulisan online, bahkan mencakup literasi. Setiap tulisan anggota grup kubaca, kupelajari, lalu kulatih menulis dengan tema yang sama. Bangun tidur, siang hari, senja, bahkan mata hampir terlelap kuberusaha untuk selalu merangkai aksara. Tulisan yang kupos di setiap akun media sosial mulai mendapatkan respon yang heboh dari teman-teman sesama penulis. Tidak hanya mem publish tulisan, kumenyempatkan diri untuk memberi jejak pada tulisan teman-teman. Memberi react atau komentar yang tentu tujuanku agar dikenal. Setahun kemudian. Keinginanku tercapai. Memiliki tulisan yang disukai para pembaca, pun diri yang selalu disanjung mereka. Namun hatiku masih belum merasa puas, karena setiap postinganku belum mencapai react atau komentar ribuan, seperti para penulis yang hanya curhat itu. Aku semakin s...
 Vinda, gadis kota yang berperawakkan tinggi dengan tubuh melebihi langsing. Jangan bilang kurus, dia tidak menyukainya. Sederhana, tidak cantik tapi manis, begitu orang banyak bilang. Terlahir di kota besar tidak mempengaruhi sikapnya yang polos. Selain karena mempunyai tampang yang pas-pasan, Vinda memang sedikit pemilih terhadap laki-laki. Jangan salahkan Vinda, hatinya yang menginginkan demikian. Gadis berambut ikal ini cenderung menyukai lelaki yang memang memiliki paras rupawan. Sayangnya semasa sekolah berseragam, laki-laki impiannya tidak sekalipun melirik pada Vinda. Sebaliknya, yang banyak menggoda gadis pemalu itu malahan mereka yang ingin dijauhinya. Sombong? Tidak. Vinda hanya menginginkan yang enak dipandang. Pada akhirnya dia menang banyak saat duduk di bangku perkuliahan. Seiring berjalannya waktu, wajah yang dulu pas-pasan, kini terlihat matang. Betapa mekarnya hati gadis berusia akhir belasan itu. Beberapa laki-laki berwajah tampan sekaligus mendekatinya. Semua aj...

Kubegitu Sempurna

"Kamu ... Melsy?" Sepasang mata itu terlihat terkejut juga kecewa, pun dengan suara yang terdengar ragu. Sekalipun tampak ditutup-tutupi. Bukan pertama kali Melsy mendapati ekspresi semacam itu saat diajak bertemu tatap muka dengan teman dunia mayanya. Tetap saja ada sepercik rasa insecure yang akan dibalas dengan senyum kecilnya yang kaku. Sudah bisa ditebak, setelah ini Melsy tak akan lagi dihubungi. Bahkan interaksi di dunia maya mereka akan berkurang. Sepicik itu memang hati manusia, hanya memandang wajah. Walaupun tidak semua. ▲▼▲ Kubegitu sempurna Di matamu kubegitu indah Kumembuat dirimu, akan s'lalu memujaku Disetiap langkahmu, kau 'kan s'lalu memikirkan diriku ... Melsy tersenyum samar, merasa puas mendapat sekian ribu emoticon tawa dan jempol di status facebooknya. Kolom komentarnya pun banjir oleh kata-kata canda dan pujian, tanpa cacian. "Bolehlah liriknya diganti gitu, orang cantik mah bebas." Satu komentar membuat Melsy tertegun. "Ja...

Flashfiction ; Maaf

 "Kamu ... bersedia 'kan menikah denganku?" Aku mengulang kembali pertanyaan yang sama ketika dia tidak juga menjawab. Semua mata yang ada di dalam ruangan itu tertuju padanya. Matanya kembali mengerjap pelan, dari gestur tubuhnya, semua orang pun tahu kalau dia gelisah. Kenapa dia jadi meragu kembali? Padahal, tadi pagi jelas dia sudah jawab lamaranku. Jari jemarinya saling bertaut dan meremas, kakinya pun bergerak tidak menentu. Lalu, tangannya bergerak mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Dia kenapa? Sebegitu gugupkah dihadapan para orang tua kami? "De ... jawab," teguran dari Mama perempuan yang sudah mencuri perhatianku setahun belakangan ini memecah keheningan. "Maaf, aku harus ke belakang." ◀▶ Akhir-akhir ini, aku sering dapat teror dari ... katakanlah teman tapi mesra saat kuliah dulu. Namun, pertemanan kami berakhir konflik. Sedikit menurutku. Berawal dia mengirimiku dirrect message di akun instagram. Sekedar say hallo, ya kubalas de...