Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kata hati

Hei

 Ini tentang kita. Tentang persahabatan yang pernah terjalin. Tentang aku yang (merasa) tetap di sini, dan kamu yang (merasa) tetap di sana. Nyatanya ... kita saling menjauh. Tentunya aku berpikir menurut rasa dan pikiranku. Entah karena kau telah memiliki teman yang lebih baik. Yang lebih banyak menghadirkan tawa diwaktumu saat ini. Atau karena nasihatku tentangmu. Atau .... Aku tak ingin menerka-nerka. Mungkin juga karena jarak yang memisahkan kita. Atau kesibukkan kita masing-masing. Aku masih saja berpikir kenapa. Sedangkan kenapa itu terjadi hanya Tuhan yang mengetahui. Padahal kita masih bisa saling bertukar cerita. Cerita apapun. Padahal kita bisa saja saling bertanya kabar. Kabar siapa dan apapun. Seperti dulu. Baru saja beberapa langkah saling menjauh, hp kita saling berdering. Saat itu jua, aku dan kamu saling tersenyum. Bahkan tertawa. Aku tak pernah melihat, tetapi bukankah memang kau tersenyum di seberang sana? Setelah mengirimiku pesan atau menerima smsku? Karena aku ...

Sukakan Duka

اللهُ أكْبَرُ  اللهُ أكْبَرُ  اللهُ أكْبَرُ،  لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ  واللهُ أكْبَرُ  اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ "Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahu waallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd" Bahagia. Senang. Semarak. Itulah suasana setiap kali satu Syawal datang menggantikan Ramadhan. Kue kering menghiasi meja tamu di rumah. Lauk pauk meramaikan meja makan. Bahkan uang baru yang masih licinpun setia dibagikan. Senyum terukir ditiap wajah insan. Riuh tawa sanak saudara saat berkumpul mewarnai hangatnya rumah Papa-mama, Atuk-nenek. Sangat. Dan selalu dinanti. Itu bukan tahun ini. Itu tahun lalu. Tahun ini, setiap jiwa nan suci seolah dipaksa menahan diri untuk tidak saling bertemu. Sepi terasa, tentu saja. Senyum itu tetap masih ada, namun terasa ada yang tidak lengkap di dalam sini. Kue kering, lauk pauk, bahkan uang licinpun tetap ada, tapi entah untuk siapa. Untuk ...

Little Things

Percayakah, kamu? Sekecil apapun yang kamu lakukan, terekam jelas diingatanku, menyentuh kuat di dalam kalbu. Maka, lakukanlah yang bisa mendukungku menjadi seorang istri sholehah seperti impianmu. Tidak perlu kata romantis. Cukuplah berkata lembut dihadapanku. Tetap berkata pelan tanpa ada bentakan, disaat kesalahan yang kulakukan. Senyummu, penyemangat hati. Tawamu, penyegar hari. Ingatkan aku dengan cara yang menyenangkan. Tegur aku dengan rasa nyaman yang tetap bersemayam. Beri aku waktu untuk diriku. Bermain bersama buah hati sejenak tak kan merugikanmu. Jika kamu bisa, aku lebih dari bisa menjadikanmu raja di istana kita. Aku, sadar siapa aku. Namun, setiap waktu, selalu kucoba menjadi istri sholehah. ♥♥♥ Terinspirasi dari beberapa status para istri yang menginginkan sang suami seperti ini dan seperti itu.

Kamu

Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat, bagiku. Saat itu, rasa yang tak biasa belum begitu menjiwa. Hanya saja, batin ini nyaman saat bersamamu. Tidak ada keraguan saat dirimu ingin memperjelas ikatan di antara kita. Semestapun seolah memperlancar saat engkau mengucap janji suci.  Barakallahu fiikum . Dan ... hari-hari itu kita lalui. Manis, pahit, bahkan pedas pernah kuterima darimu. Kuterima, ikhlas, walau pasti ada tangis yang tersembunyi darimu. Namun, semua adalah ajaran bagiku dalam bersikap, menghabiskan hidupku bersamamu. Kemudian, Allah dengan caranya, menunjukkanku bagaimana mencintaimu. Tidak berlebihan, apa adanya, tentunya mencintaimu karena Dia Sang Penguasa Hati. Bukan berarti, kuselalu mengingat kesalahanmu, tidak. Manismu 'kan jadi mimpiku, pahit itu 'kan kulenyapkan tanpa tersisa. Selalu kucoba. Jika saja manis selalu terasa, mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya pahit. Mungkin ... aku lupa siapa yang memberi rasa-rasa indah itu. Ak...

Hari Ini

Hari yang dimulai dengan rengekan anak itu ... hanya ibu yang tau rasanya. Diri yang sudah dibuat sabar, bahkan istighfar sekaligus, ditambah komentar yamg sebenarnya makin bikin kesal. Mau bilang, coba diposisi saya jelas gak mungkin. Ya udah lepaskan, biarkan, diam saja sekedar mengontrol diri. Tahan diri biar gak ngomong, karna sekali ngomong bisa melayang semua-muanya, hahaha .... Memang ada saat ketika kesal berada dipuncak kepala, mau teriak 'gak usah komentar', cuma nambah dosa dan makin kesal. Diam satu-satunya cara melawan semua situasi. Biarkan anak-anak melakukan yanh mereka suka, lepaskan saja. Menenangkan diri itu sebentar kok, istighfar aja banyak-banyak. Tapi, tetap saja saya paling gemes jika mereka menangis gak jelas, apalagi pake gantian. Ya Allah ... mau ikutan nangis juga jadinya 😂 Ibu lagi latihan bagaimana semua hal menjadi menyenangkan bagi 2H. Gak gampang ternyata. Buktinya ibu gagal membujuk hasyim yang lagi mogok mandi pagi ini 😁 Jika sudah...

Suara Hatiku (Bayi)

Bu, maafkan aku Jika aku sering menangis Karna dengan suara tangis ini membuatku selalu bisa bersamamu Bu, maafkan aku Jika aku ingin selalu di dekatmu Karna hanya dengan kehadiranmu membuatku tenang Bu, maafkan aku Jika aku ingin selalu berada di tubuhmu Karna tempat ternyaman bagiku adalah di sisimu Bu, maafkan aku Jika tidak mengerti dengan lelahmu, Tidak mengerti dengan katamu, Yang ku tahu, suaramu membuatku bahagia. Entah itu karena Engkau senang, sekalipun karna emosi. Bu, hanya Engkau yang mengerti aku Hanya Ibu

Butuh Waras

Alkisah seorang ibu sedang menikmati waktu untuk dirinya. Bukan me time, tepatnya mencuri sedikit waktu demi memenuhi keinginan hati untuk memakan sebatang cokelat. Elah, lebay. Jangan salah, makan cokelat atau mie instan tanpa eksplorasi dari tangan-tangan kecil itu sangat berarti bagi seorang gadis berbontot. Menikmati tiap gigitannya, saat cokelat yang lumer di mulut terasa begitu mewah. Atau, setiap slrup-an mie nan panjang dengan kuah yang selalu menggugah selera itu bertemu dengan lidah. Ahh ... betapa cokelat dan mie instan benar dua yang membuat kewarasan tetap terjaga. Jiah ... jadi kemana-mana. Kembali cerita seseibu. Mumpung si bayi tidur, si Uda sekolah, dan si Uni ... mungkin di halaman. Amanlah, ntar kalau nak dis masuk, langsung sembunyikan aja di balik kain-kain yang sudah merintih minta dilipat ini. Lalu, dengan mata berbinar, mulailah si Ibu menggigit sebatang cokelat tadi. Masyaallah ... begitu nikmatnya, padahal cuma cokelat beli di warung. Hakz. Rencana...

Muhasabah Diri (2)

Kamu ... sejauh apa pendekatanmu padaNya? Sudah rutinkah shalat malammu? Bahkan untuk bangun lebih cepat saja, tidak bisa. Bisa harusnya, niatmu saja yang tidak kuat. Bukankah hampir setiap malam, kau terjaga di waktu yang tepat untuk bermunajat padaNya? Lalu apa? Kamu memilih kembali memejamkan mata. Kalau begitu, cobalah wajibkan sunnah Dhuha. Kamu bahkan sudah tahu bagaimana dahsyatnya dampak Dhuha di dalam hidupmu. Tapi, kau mengerjakannya hanya ketika menginkan sesuatu yang kau rasa berat untuk dipenuhi orang lain. Bukankah alasanmu si kecil yang tidak bisa ditinggal? Bukannya, dia selalu tertidur di jam Dhuha? Alasan apalagi? Pekerjaan rumah? Klise. Bahkan dua rakaat itu tidak menghabiskan waktu lima menitmu. Oke. Sunnah yang paling mudah saja. Beristighfar setiap waktu? Bertasbih? Bersyukur? Bahkan mengerjakannya tidak membutuhkan waktu apalagi uangmu. Sadarkah kau jika semua itu hanya untuk dirimu sendiri? Untuk hidupmu sekarang, apalagi nanti? Ayolah .....

Lagi Rindu

Memiliki suami yang over protective karena rasa cemas yang berlebihan membuatku sedikit terkekang, tapi gak sanggup untuk berpisah lama (eaa ...). Tujuh tahun menikah, belum ada kata long distance merriage kami jalani. Eh, pernah ding. Tujuh bulan pertama pernikahan. Saat itu Uda masih dinas di Maninjau, sementara aku baru akan menempuh pendidikan pasca sarjana di Padang. Jadwalnya berlangsung selama weekday , sementara jadwalku weekend . Hanya hari Ahad yang kami punya, dan semua anggota keluarga tentunya berkumpul di rumah (alamak ...). Alhasil calon Ibu 3H jadi sering telat datang kuliah, atau izin. Gak usah kepo alasannya, muehehehe .... Uda tidak menganut sistem mambujang . Dia lebih izin tidak datang kerja daripada mengizinkan anak istrinya jauh dari dirinya. Bisa bayangkan intensitas jam bertemu kami selama hampir delapan tahun? Ada saat beliau sibuk. Pulang saat anak istrinya sudah terlelap dan harus berangkat ketika kami belum bangun. Itu rasanya ... merindu banget (uhuk ...

(Bukan) Ibu yang Baik

Aku ... tidak seperti lirik-lirik lagu tentang hebatnya seorang ibu atau sabarnya seorang Mama. Aku tidak sebaik itu. Mulut ini, pernah membentak mereka. Pernah memarahi mereka. Ancamanpun pernah terucap. Hampir setiap hari menyuruh mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan. Padahal, mungkin mereka belum mengerti, atau masih perlu pembiasaan. Kadang, membiarkan mereka tidak makan, atau tidur siang. Kadang, membiarkan mereka menonton sepuas keinginannya. Kadang, memperbolehkan mereka bermain di luar rumah hampir seharian. Kadang, memberi cokelat atau es saat mereka sedang batuk pilek. Kemudian, tidak memandikan mereka saat pagi hari. Kadang, melarang mereka mendekat saat hati sedang tidak menentu. Mereka tidak pernah balas marah. Hanya ada mata yang berkaca-kaca kemudian air itu jatuh menetes, dan tubuh kecil yang ingin dipeluk. Aku ... bukanlah seorang ibu yang baik. Bahkan, merasa tidak pantas memiliki mereka yang sangat tulus menyayangiku. Namun, ak...

Kata Hati Ibu, Hati Keluarga - Komprod #6

Ternyata menciptakan komunikasi produktif di dalam keluarga itu tidak gampang. Terlebih jika pasangan bukanlah type yang suka berdiskusi, ibu harus pandai-pandai mencari topik yang menarik, jika tidak ya garing, atau paling nyesek cuma dilirik, hiks... Sudah dua hari saya tidak menemukan topik (paling tidak) untuk laporan komprod. Yang dapat saya tangkap di hari ke-6, ternyata jika kita lebih open (pada pasangan), suasana makin hangat. Jika ibu lebih tenang dan sabar, suasana makin damai, dan komunikasi produktif pun tercipta. Seperti senja ini, Hasyim dengan girangnya mengatakan ada lobang besar yang sudah dia buat di kursi tamu, ibu dengan keras istighfar menanggapi. Namun cepat sadar melihat tampang hasyim, Ibu : kenapa dilobangi nak? Hasyim : ga tau bu, asik (nyengir) Ibu : kan jadi jelek, ga bagus... Hasyim : tapi hasyim mau bu (manyun) Ibu : Allah ga suka lho sama yang jelek, Allah suka sama yang bagus. Kalau hasyim lobangi, jadi jelek kan? Hasyim suka yang jelek ya? Ha...

Gagal Paham

Pernah kepoin tab jelajah di instagram kan? Isinya akun-akun yang difollow oleh teman-teman yang kita follow, benar ga sih? Pada akhirnya saya jadi gagal paham dengan foto-foto yang begitu banyak tagging nya, khususnya foto selfie pemuda-pemudi. Tujuannya nge-tag akun-akun yang me-repost apa? Oke, saya coba bayangkan jika upload foto lalu tag bla..bla.bla... Umm..senang dapat love banyak, komentar-komentar pujian, mungkin itu ya (karna ibu juga pernah muda, uhuk..) Saya juga pernah upload foto selfie ke medsos, banyak malah, dan memang senang ya dapat like banyak dan dikomen banyak orang. Tapi Alhamdulillah masih punya rasa malu untuk nge-tag sana sini, walaupun pada akhirnya saya menyesal, sungguh... Tau zina mata kan? Karena itu salah satunya, dan itu diri sendiri yang memulainya. Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah... Bayangkan berapa mata yang melihat, memandang, bahkan mungkin menikmati wajah kita (Na'udzubillah...). Maaf kata, ternyata ibu-ibu udah beranak pun...

ku persembahkan untuk...

Alhamdulillahirabbilalamin... akhirnya zii terbebas juga dari kertas-kertas bermasalah [istilah skripsi oleh 2 sobat maya..] mau pamer halaman persembahan ni ceritanya, reading-reading aja yah :) “Dan seandainya semua pohon yang ada dibumi dijadikan pena, dan lautan dijadikan tinta, ditambah lagi tujuh lautan sesudah itu, maka belum akan habislah kalimat-kalimat Allah yang akan dituliskan, sesungguhnya Allah maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.  (QS. Lukman: 27) Alhamdulillahirrabil’alamin Sebuah langkah usai sudah Satu cita telah ku gapai Namun… Itu bukan akhir dari perjalanan Melainkan awal dari satu perjuangan Setulus hatimu mama, searif arahanmu papa Doamu hadirkan keridhaan untukku, petuahmu tuntunkan jalanku Pelukmu berkahi hidupku, diantara perjuangan dan tetesan doa malam mu Dan sebait doa telah merangkul diriku, menuju hari depan yang cerah Kini diriku telah selesai dalam studi sarjana Dengan kerendahan hati yang tulus, bersama keridhaan-Mu ya All...

¤ heart ¤

saat ku bercanda dengan lamunan, seuntai tanya muncul dibenak ku, "hati ini terbuad dari apa?" apakah dari salju yang lembut dan gampang mencair? atau dari baja yang keras dihantam apa pun? atau dari kulit yang gampang terluka? sepertinya lebih sensitif dr kulit. atau dari air mata yang slalu mengerti saat apa yang dirasakn hati? yang ku tau, hati ini butuh hati yang lain. hati itu yang bisa membuat hati ini lembut bagai salju yang gampang cair, yang keras seperti baja, yang lebih sensitif dari kulit dan yang pasti, hati itu yang membuat hati ini lebih berarti. namun tanya lain pun kembali muncul dibenak ini, "jika hati seperti salju, baja, kulit atau air mata, kenapa hati bisa lelah juga seperti raga?" apakah hati juga seperti raga yang mempunyai tulang yang rapuh dan bisa patah? ahh, ku kagum pada hati tapi ku lebih kagum pada Sang Pencipta Hati. hati ini, hanya Sang Penguasa Hati yang dapat mengerti. dan hati ini, saat ini, kan ku biarkan hing...

teruntukmu di sana

Catatan ini untukmu.. Ketika suatu hari pada masa yang lalu, aku pernah tertawa bersamamu, maka mengertilah bahwa saat itu aku hanya ingin melihatmu tetap dalam kebahagiaan. Ketika suatu hari kau mengguncangkan bahumu karena perbuatan konyolku, maka sungguh tak ada maksud lain dalam hatiku kecuali untuk membuatmu benar-benar terhibur oleh kehadiranku. Ketika suatu hari kau terbahak mengingat kenangan-kenangan unik yang kau lakukan bersamaku, maka simpanlah karena aku sungguh ingin menyaksikan segaris senyum di wajahmu pada hari itu. Catatan ini untukmu.. Ketika suatu hari dalam kebersamaan kita di masa yang telah lalu aku pernah mengganggu tidurmu dengan deringan telpon dan smsku, maka dengarkanlah aku hanya merindukanmu dan ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja di sana. Ketika suatu hari kau kesal karena aku terus memanggil namamu, maka pejamkanlah matamu dan tersenyumlah mengingatnya, karena pada saat itu aku hanya ingin memastikan, bahwa persahabatan kita masih utuh seper...

lovely mom

Gak tau harus dimulai dari mana kalo bercerita tentang mama. Semua begitu berkesan mulai dari ku menghirup udara dunia. Yang pasti aku ingin menjadi seperti mama, senyumnya, cerita hidupnya, pengorbanannya, pokoknya semua, ku ingin seperti mama. Mama tak pernah dari hati memarahi ku, tapi aku yang tak tau diri membuat mama kesal & marah. Maaf dari hatiku yang paling dalam untuk mama. Mama tak pernah berjanji memenuhi inginku tapi mama selalu bisa membuatku bahagia dengan kado-kado kecilnya. Mama, mentari yang selalu menerangi hati, juga awan yang meneduhkan. Mama adalah hujan yang dapat menentramkan jiwa dan angin yang mengecup lembut pipi. Engkaulah pelangi yang tak pernah berujung mewarnai hidup q. Sentuhan mu tak kan berakhir walau dunia telah berakhir. Mungkin tak dapat selalu terucap, namun hati ini selalu bicara, sungguh q sayang mama. Tak pernah habis cerita tentang mama ....

wall photos

iseng-iseng lihat wall photos di on FB , eh ternyata lumayan puitis juga kata-katanya [ada yang bilang koq]. maksud dibuat di HARAKA cuma untuk share aja, kali-kali ada yang suka juga [pedean :$] hujan tak pernah janjikan apa-apa ia datang dan pergi memang sudah ketentuannya begitupun ia turun ke bumi di akhir kedatangannya, ia menghadirkan pelangi tuk bumi hujan tak pernah membuat kita sakit namun hujan selalu mengingatkan kita bagaimana cara menjaga diri dan bersahabat dengannya tanpa disuruhpun dia akan pergi, bahkan jika Tuhan berkehendak ia tak kan kembali lagi *by someone walau hujan tidak selalu menghadirkan pelangi diakhir kedatangannya namun ku berharap, pelangi tetap mewarnai bumi hingga waktunya tiba ~ hujan itu mengering tanpa ada musim semi, seakan langsung pada musim kemarau pelangi pun belum berujung di bumi namun hujan itu seperti telah enggan menampakkan wujudnya jika memang kemarau tak menginginkan musim semi datang, harap q masih ada rin...