Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Jeruk Utrujah dan Rumput Hanzhalah

"Baiklah, kita lanjutkan bacaan Quran pekan lalu. Silahkan." Hafsha mempersilahkan seorang mahasiswa yang duduk di sudut depan sebelah kanan untuk mulai membaca Kalam Illahi. "Saya membaca sambil lihat Ibuk, ya?" candanya khas mahasiswa playboy . Hafsha yang sudah memahami tingkah laku anak didiknya membalas dengan senyum kecil, "Kalau kamu baca Quran karena saya, kamu tidak akan mendapat apa-apa. Pilih mana?" "Pilih dapat pahala dong, Buk. Tapi kalau bisa dapat dua duanya, kenapa nggak?" cengir mahasiswa tadi sampil melempar pandangan ceria ke arah teman-temannya. Sorak riuh terdengar dari segala penjuru kelas. Inilah salah satu resiko menjadi dosen teknik yang sering dihadapi Hafsha. Menghadapi tingkah pola pelajar yang didominasi para lelaki beranjak dewasa, perempuan yang masih betah sendiri ini harus memperkuat mental apalagi iman. Hafsha mengangkat tangan kanannya, seketika suara ribut tadi hilang. Tidak lama kemudian terdengar lantunan aya...

Noni

 Suasana Idul Adha masih terasa walau 11 Dzulhijah telah berlalu. Setelah tadi pagi dilakukan kurban di lapangan bola, malam ini kami sekeluarga memasak sate di halaman belakang rumah. Aku mengajak Noni dan Ismail, mengingat mereka hanya bertiga ada di kampung ini. "Fi, tolong minta tempurung kelapa ke warung Buled, ya. Tidak cukup sepertinya ini," pinta Ibu saat aku dan Noni memasukkan daging ke tangkai sate. Warung Buled berada di depan kediaman Noni yang hanya berjarak satu rumah dari rumahku. Saat langkah mengarah ke warung itu, tampak Pak Ibrahim—ayahnya Noni—keluar rumah membawa golok yang sedikit besar.  "Papa mau ke mana? Kenapa bawa golok?" tanya Noni heran. "Hmm ... Papa dapat sedikit kerjaan, mungkin akan pulang larut," jawab Pak Ibrahim sedikit ragu, lalu beliau menatapku. Mata itu tampak sedikit kalut. Bola matanya melihat ke segala arah sekalipun beliau mencoba menutup dengan topi yang dikenakannya. "Nak Sofi, jika boleh, Noni dan Ismail...

Memang Jodoh

 "Buk, ini saya gak bisa ganti dengan tim lain?" Aku segera menemui Bu Yani--ketua jurusan--setelah menerima surat tugas penelitian dari dekanat. Bukan keberatan karena tugas penelitiannya, tapi karena aku setim--lagi--dengan makhluk yang harus kuhindari. Bukan karena belum move on, tapi ... ah, nantilah aku ceritakan. "Sebentar," Bu Yani mengangkat tangannya menegaskan aku perlu bersabar jika ingin tahu jawaban beliau. Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ketukkan pintu. Tanpa menunggu jawaban dipersilahkan masuk, si tamu langsung saja membuka pintu dan duduk di sebelahku. Aku melepas nafas, 'cape deh!' "Ini memang rencana saya. Menyatukan kalian kembali dalam satu tim penelitian. Selain karena potensi kalian, juga saya ingin kalian tetap akur. Sudah berapa tahun kalian tidak saling sapa?" "Saya sih, nyapa, Buk. Dianya aja yang jual mahal." Jawaban dari Arya membuatku memutar mata. "Bagaimana, Shi?" Bu Yani menautkan jemariny...

Belum Tau Judul

 "Buk, ini saya gak bisa ganti dengan tim lain?" Aku segera menemui Bu Yani--ketua jurusan--setelah menerima surat tugas penelitian dari dekanat. Bukan keberatan karena tugas penelitiannya, tapi karena aku setim--lagi--dengan makhluk yang harus kuhindari. Bukan karena belum move on, tapi ... ah, nantilah aku ceritakan. "Sebentar," Bu Yani mengangkat tangannya menegaskan aku perlu bersabar jika ingin tahu jawaban beliau. Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ketukkan pintu. Tanpa menunggu jawaban dipersilahkan masuk, si tamu langsung saja membuka pintu dan duduk di sebelahku. Aku melepas nafas, 'cape deh!' "Ini memang rencana saya. Menyatukan kalian kembali dalam satu tim penelitian. Selain karena potensi kalian, juga saya ingin kalian tetap akur. Sudah berapa tahun kalian tidak saling sapa?" "Saya sih, nyapa, Buk. Dianya aja yang jual mahal." Jawaban dari Arya membuatku memutar mata. "Bagaimana, Shi?" Bu Yani menautkan jemariny...

Sahabat

Kamu punya sahabat seperti apa, sih? Aku punya teman dekat, yang tidak mau dibilang sahabat, tapi dia tahu semua tentangku, keluargaku, bahkan perasaanku. Pun sebaliknya. Bedanya, dia mengingat setiap rinci silsilah keluargaku, juga teman-temanku dari masa putih merah. Mungkin juga taman kanak-kanak. Sedangkan aku, hanya mengingat keluarga intinya saja. Jangankan teman-teman lamanya, pacar barunya saja, aku sering lupa wajahnya. "Eh, Cheng. Rasa-rasanya, aku pernah ketemu sama dia, deh," ujarku sesaat sampai di kosannya. Tadi, di jalan menuju kosannya, kami bertemu cowok pakai motor. Dianya baru akan berangkat ke kampus, sedangkan kami baru selesai dua sks perkuliahan. "Astoge Chiiing, dia itu 'kan cowok aku yang baru! Baru juga seminggu yang lalu aku kenalin, masak lupa, sih? Ish!" gemasnya. "Awas kalau lupa lagi. Parahnya ntar, kamu naksir lagi," lanjutnya masih sewot. Muehehehe. Aku memang sepelupa itu pada wajah orang. "Tenang, tipe kita beda....

Flashfiction ; Maaf

 "Kamu ... bersedia 'kan menikah denganku?" Aku mengulang kembali pertanyaan yang sama ketika dia tidak juga menjawab. Semua mata yang ada di dalam ruangan itu tertuju padanya. Matanya kembali mengerjap pelan, dari gestur tubuhnya, semua orang pun tahu kalau dia gelisah. Kenapa dia jadi meragu kembali? Padahal, tadi pagi jelas dia sudah jawab lamaranku. Jari jemarinya saling bertaut dan meremas, kakinya pun bergerak tidak menentu. Lalu, tangannya bergerak mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Dia kenapa? Sebegitu gugupkah dihadapan para orang tua kami? "De ... jawab," teguran dari Mama perempuan yang sudah mencuri perhatianku setahun belakangan ini memecah keheningan. "Maaf, aku harus ke belakang." ◀▶ Akhir-akhir ini, aku sering dapat teror dari ... katakanlah teman tapi mesra saat kuliah dulu. Namun, pertemanan kami berakhir konflik. Sedikit menurutku. Berawal dia mengirimiku dirrect message di akun instagram. Sekedar say hallo, ya kubalas de...

Mengejar Nilayya

 "Kalau sudah, saya masih ada pekerjaan. Jangan macam-macam kamu sama Ayya!" Keluar dari ruangan Pak YY gue memberi hak tubuh di kafe. Gue anggap yang tadi lampu kuning dari Pak YY. Ya ... walaupun abis itu dapat ancaman, sih. No problem-lah. "Bang Sat!" Tepukkan yang sedikit keras di bahu, menunda suapan terakhir gue. Bukan karena siapa yang menyapa, tapi gue neg dipanggil gitu. Setelah gue lihat siapa pelakunya, nafsu makan gue amblas. "Keren kamu, ya. Memanfaatkan tenaga dalam biar lulus. Lagak sih, cowok alim, ternyata munafik juga." Trang!! Bunyi sendok beradu keras dengan piring mengalihkan perhatian pengunjung kafe. Baik gue ataupun Ria, tidak ambil peduli dengan tatapan-tatapan kepo. Senyum culas diberikan cewek resek itu saat gue menatapnya setajam Fany Rose, eh silet. "Sayangnya, usaha kamu cuma sampai di nilai lulus. Gak sampai di nilayy-a," lanjutnya sambil menunjuk ke arah taman fakultas yang tidak jauh dari kafe. Masih dengan mata y...

Papila

  "Wah, nemu di mana, Dek?" Bang Faris baru saja pulang sekolah. Tampak Hamzah duduk di teras rumah sendirian. Di pangkuannya ada seekor kucing kecil berwarna kuning dan putih. "Di lapangan, Bang. Kasihan, deh," jawab Hamzah sambil mengelus-elus kucing kecil di pangkuannya. "Mengeong-ngeong terus tadi. Makanya aku bawa," lanjut Hamzah. "Udah izin Mama belum?" tanya Bang Faris lagi. Hamzah menggeleng lemah. Mama kurang menyukai ada binatang di rumah. Kata mama, nanti rumah jadi bau, karena kotorannya. Padahal, Hamzah suka sekali dengan kucing, lucu, sih. "Apa itu, Dek?" tanya Mama yang tiba-tiba keluar rumah. Hamzah langsung berdiri terkejut. Lalu, menyembunyikan kucing di belakang punggungnya. Hamzah takut, kalau mama menyuruh membuang kucing itu. "Kucing, Ma." Yang jawab adalah Bang Faris. "Hamzah janji bersihin kotorannya, Ma. Jangan disuruh buang, ya, Ma," pinta Hamzah memelas. Mama hanya diam. Melihat janji dan k...

Layang - Layang

Hari ini, ayah akan mengajak Uda dan Uni bermain di lapangan. "Asiiik. Kita mau main bola ya, Yah?" tanya Uda. "Main sepeda aja 'kan, Yah?" tanya Uni tidak kalah girangnya. "Tidak dua-duanya," jawab Ayah sambil tersenyum. Tawa Uda dan Uni menghilang mendengar jawaban sang Ayah. "Tapi, kita akan main layang-layang!" sorak Ayah lagi. "Yeaayyy!" Uda dan Uni kembali berteriak senang. Lalu tidak sabar mengajak Ayah langsung ke lapangan. "Sabar, Nak. Kita buat dulu layang-layangnya." "Memang Ayah bisa buatnya?" tanya Uda sambil memperhatikan Ayah memilah-milah bambu. "Bisa, dong. Tunggu, ya." Uda dan Uni duduk melihat Ayah yang mulai merakit beberapa buluh untuk dijadikan kerangka layangan. Hati-hati Ayah mengikat satu per satu buluh agar membentuk sebuah layangan. Namun, karena Ayah terlalu erat menarik benang untuk mengikat, tiba-tiba benang itu putus dan rangka layangan yang hampir selesai itu lepas. Berse...

Tunggu Aku di Jakarta

Silahkan baca ini dulu →  Kembali ke Jakarta  oleh Mbak Dewi Indah Sari 💫💫💫 Derit roda kereta api menyentak tidur lelapku. Badan terasa pegal karena posisi tidur yang tidak baik. Setelah melakukan sedikit peregangan, aku menilai keadaan sekitar. Mata yang tadi masih terasa mengantuk, seketika membola menyadari Keysha, teman duduk di sebelah, tidak lagi di tempatnya. Jantung terasa berdetak semakin cepat seperti laju kereta api yang semakin kencang. Benar saja, saat aku melihat ke kabin atas, ransel itu lenyap. Sial. Kenapa aku jadi begitu mudah percaya pada orang baru dikenal? Terbayang wajah cantik berbingkai senyum menawan itu. Sedikitpun tidak ada rupa yang menggoda apalagi menipu. Aku menghubungi Dika, sekretaris yang serba bisa. Menceritakan yang baru saja terjadi. Lalu, meminta tolong untuk meng-handle kantor untuk hari ini. "Udah gue bilang, kan. Sok-sokan segala mau naik transportasi umum. Merakyat, sih merakyat, tapi gak bawa uang banyak juga kale. Nambahin kerjaan...

Ingin Seperti Siti Hajar

Langkahku yang terasa sangat berat sepulang dari kuliah, terhenti saat melihat Noni sedang berlari-lari kecil di lapangan bola, dari gawang selatan ke arah gawang utara, kemudian kembali ke gawang selatan, begitu seterusnya. Sementara, adiknya Ismail yang berusia sekitar lima tahun melompat-lompat di sudut lapangan. Ke duanya tampak kelelahan, tapi Noni masih saja berlari dan Ismail terus melompat. Mereka kenapa? Kuarahkan langkah ke lapangan bola. Sekalipun payung menaungiku dari panas terik siang ini, namun hawa panas kentara sekali. Keringat terasa mengalir di kulit, apalagi sepasang adik-kakak itu, dengan baju panjang yang mereka kenakan, tanpa pelindung panas, tentu saja peluh lebih membanjiri badan ke duanya. "Non, ngapain?" sorakku berdiri di sebelah Ismail. Noni mengangkat tangannya memberi isyarat, tunggu sebentar. "Kak, udah dong ... capek, nih." Rengekan Ismail akhirnya memutar tubuh Noni ke arah kami berdiri. Nafasnya tersengal-sengal, pun dengan Ismail....

Chocolatos Drink Love Story

Aku memangku dagu dengan tangan kanan, sementara jari-jari tangan kiri menyentak-nyentak kecil di atas meja mini bar sebuah gerai makanan siap saji, menanti minuman segar yang telah kupesan tadi. Memperhatikan seorang pramusaji meracik sebuah minuman kekinian dengan lihai. Sesekali, mencuri lirikan ke arahku yang terpesona dengan gerakkannya. "Minuman ini bisa dibuat di rumah lho, Mbak. Gampang, dan rasanya gak kalah enak." "Oh ya? Mau ngasih tau caranya?" "Tergantung," Dahiku berkerut, "tergantung apa?" "Mbak, udah punya pacar, belum?" "Hah? Apa hubungannya?" Laki-laki itu hanya tersenyum sebagai jawaban, lalu mulai menunjukkan cara membuat minuman fresh drink itu, sambil terus menyiapkan pesananku. "Minuman saset chocolatos yang bungkus hitam, tau, Mbak? Untuk satu porsi, kasih 2. Larutkan dengan 10 sendok makan air panas," "Dikit amat?" "Kita butuhnya coklat kental. Kasih bat...

Biarkan Saja (Tere)

"Kita ... sampai di sini saja, ya?" Kutermenung mendengar penuturannya. Aku tahu, dia memandang lekat wajahku. Seperti menanti, apakah aku akan menangis? Maaf. Air mataku terlalu berharga untuk dibuang hanya karena kau putuskan. "Kenapa?" Suaraku, tercekat. Siapa yang tidak akan sedih diputuskan saat lagi sayang-sayangnya? Begitupun aku, perempuan biasa yang bisa dikatakan jarang menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Ini, yang kedua kalinya aku berani pacaran lagi. "Ingin serius kuliah dulu, rencana mau cari part time juga. Setelah tamat nanti, aku punya cukup tabungan, aku akan lamar kamu." Mendengar kata lamar, aku yang tadi enggan melihatnya, menatap penuh tanya pada wajah yang sedang tersenyum dengan penuh keyakinan. Yang benar saja? Aku tidak percaya. "Jadi, selama ini, hubungan ini mengganggumu?" "Bukan. Bukan gitu maksudku. Kamu baik ...." Hening. Dia tidak dapat melanjutkan apa alasan yang tepat untuk mele...

Drive (Jian dan Sofija)

Sofija ke luar dari ruang rawat Kim Xander dengan wajah yang merah padam. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Langkahnya sedikit menghentak-hentak tanpa disengaja. Ingin membanting pintu itu, namun dia masih menjaga wibawanya sebagai seorang putri raja. Kalau kata orang milenial, jaim. Langkahnya yang terburu-buru hingga Sofija melupakan seseorang yang sedang menantinya di luar ruangan tadi, bahkan selalu setia menantikan hatinya menuju pemuda itu. Sang Putri yang sedang dilanda rasa cemburu itu menghentikan langkahnya, tanpa berniat kembali menghadap ke belakang, dia berteriak lantang, "Jian! Jian!!" soraknya tidak sabar. "Hamba, tuan Putri, hamba." jawab Jian dengan wajah yang ... merana? Entah, yang jelas telapak tangan kanan pemuda itu berada di dada kirinya. Seperti menahan detakan yang kencang. Kening Sofija berkerut melihat wajah Jian, "Kamu, kenapa? Masih ada yang sakit?" Nada suara yang terdengar sedikit khawatir itu, membuat kedua ujun...