Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label romantis

Belum Tau Judul

 "Buk, ini saya gak bisa ganti dengan tim lain?" Aku segera menemui Bu Yani--ketua jurusan--setelah menerima surat tugas penelitian dari dekanat. Bukan keberatan karena tugas penelitiannya, tapi karena aku setim--lagi--dengan makhluk yang harus kuhindari. Bukan karena belum move on, tapi ... ah, nantilah aku ceritakan. "Sebentar," Bu Yani mengangkat tangannya menegaskan aku perlu bersabar jika ingin tahu jawaban beliau. Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ketukkan pintu. Tanpa menunggu jawaban dipersilahkan masuk, si tamu langsung saja membuka pintu dan duduk di sebelahku. Aku melepas nafas, 'cape deh!' "Ini memang rencana saya. Menyatukan kalian kembali dalam satu tim penelitian. Selain karena potensi kalian, juga saya ingin kalian tetap akur. Sudah berapa tahun kalian tidak saling sapa?" "Saya sih, nyapa, Buk. Dianya aja yang jual mahal." Jawaban dari Arya membuatku memutar mata. "Bagaimana, Shi?" Bu Yani menautkan jemariny...

Sekecup

Benar kata Sheila on 7, bahwa sebuah kecupan darimu cukup menyemangatiku untuk awali hari. Hariku terasa indah, meski akan ada segunung pekerjaan yang sama dengan hari kemarin. Jiwaku terasa lapang, meski ada tangisan bergantian dari bibir-bibir imut. Ragaku terasa tangguh, meski harus mengelilingi rumah entah berapa kali putaran. Karena sebuah kecupan itu juga, tawa hangat bahagia dari kaki-kaki kecil itu lantang terdengar sepanjang hari. Adab dan ilmu terasa begitu mudah berpindah pada anak-anak. Semua karena kau memberi dopping spesial pada hatiku. Hanya karena satu kecupan tadi, makanan kecil terhidang menanti kepulanganmu. Begitupun makanan kesukaanmu yang siap untuk disantap. Tak ada rumah bak kapal pecah. Bersih, rapi dan wangi. Jangan tanya bagaimana perjuanganku mempertahankan keadaan rumah, hingga engkau bisa menikmatinya barang sejenak. Setidaknya hingga lelahmu lepas. Jangan tanya, karena kuyakin, kau takkan mendengar ceritaku. Tak masalah bagiku kau sering enggan mendengar...

Romantis yang Sesungguhnya

"Kamu ... mau 'kan jadi pacarku?" Seketika netra ini membola. Oksigen terasa habis, sulit bernafas. Jantung berdetak lebih cepat, di atas normal. Perut seperti terasa tergelitik, ada rasa yang membuncah. Lalu, pipi memanas, dua ujung bibir terangkat. Sejak hari itu, dunia terasa penuh warna. Hp tak berhenti berbunyi, selalu ada pemberitahuan entah itu pesan singkat, media sosial, atau telfon. Emosi negatif seolah jauh, yang ada hanya tawa dan senyuman. Kata kangen dan sayang, seperti multivitamin penyemangat hari. Selalu ada cerita di antara kita. Bahkan, saat mulut memilih diam, bukan karena kehabisan kata, tapi karena terlalu banyak kata yang akan terucap. Saling tatap, tersenyum malu, berakhir kata cinta. Rasanya ... ingin seperti itu, selamanya. Dulu. Sekarang. Sesal. Menyesal. Ingin kembali ke waktu itu, untuk tidak melakukannya. Sebab, semua tipu daya musuh manusia yang nyata. Dia menang, yang terkutuk itu menang! Aku benci! Tersu...

Jodoh

Pernah suka pada paras wajah cowok, ternyata orangnya sama? Aku pernah. Lima kali, orangnya dia lagi dia lagi. Pertama kali lihat wajahnya, saat pulang buka bareng yang diadakan tempat kursus. Saling melambaikan tangan ketika akan melangkah berbeda arah. "Pulang sama siapa, Dek?" tanya sesekakak, teman yang biasa jalan pulang bareng saat kursus selesai. "Sendiri, Kak. Kita bareng ke luar, ya." Ajakku. "Kakak dijemput," ujarnya lagi sambil menunjuk seorang laki-laki duduk di atas motor King dengan gaya kaki naik ke jok. Pandangan ini mengikuti arah tunjukkan sesekakak. Mata kami sempat beradu sekian detik, tanpa ada reaksi apapun dari wajahku atau dia. 'Cakep suami si Kakak' Waktu berlalu. Aku yang sedang menikmati angin taman kampus, melihat seseorang yang asik untuk dipandangi, sorot mataku sedikit terpaku saat dia berjalan ke arahku. 'Hah? Dia ke sini?' Otomatis, aku mundur duduk sedikit bersembunyi di balik punggung t...

Little Things

Percayakah, kamu? Sekecil apapun yang kamu lakukan, terekam jelas diingatanku, menyentuh kuat di dalam kalbu. Maka, lakukanlah yang bisa mendukungku menjadi seorang istri sholehah seperti impianmu. Tidak perlu kata romantis. Cukuplah berkata lembut dihadapanku. Tetap berkata pelan tanpa ada bentakan, disaat kesalahan yang kulakukan. Senyummu, penyemangat hati. Tawamu, penyegar hari. Ingatkan aku dengan cara yang menyenangkan. Tegur aku dengan rasa nyaman yang tetap bersemayam. Beri aku waktu untuk diriku. Bermain bersama buah hati sejenak tak kan merugikanmu. Jika kamu bisa, aku lebih dari bisa menjadikanmu raja di istana kita. Aku, sadar siapa aku. Namun, setiap waktu, selalu kucoba menjadi istri sholehah. ♥♥♥ Terinspirasi dari beberapa status para istri yang menginginkan sang suami seperti ini dan seperti itu.

Kamu

Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat, bagiku. Saat itu, rasa yang tak biasa belum begitu menjiwa. Hanya saja, batin ini nyaman saat bersamamu. Tidak ada keraguan saat dirimu ingin memperjelas ikatan di antara kita. Semestapun seolah memperlancar saat engkau mengucap janji suci.  Barakallahu fiikum . Dan ... hari-hari itu kita lalui. Manis, pahit, bahkan pedas pernah kuterima darimu. Kuterima, ikhlas, walau pasti ada tangis yang tersembunyi darimu. Namun, semua adalah ajaran bagiku dalam bersikap, menghabiskan hidupku bersamamu. Kemudian, Allah dengan caranya, menunjukkanku bagaimana mencintaimu. Tidak berlebihan, apa adanya, tentunya mencintaimu karena Dia Sang Penguasa Hati. Bukan berarti, kuselalu mengingat kesalahanmu, tidak. Manismu 'kan jadi mimpiku, pahit itu 'kan kulenyapkan tanpa tersisa. Selalu kucoba. Jika saja manis selalu terasa, mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya pahit. Mungkin ... aku lupa siapa yang memberi rasa-rasa indah itu. Ak...

Prioritas

Jika berbicara apa prioritas di dalam hidup, pastinya Allah dan Rasulullah. Itu adalah prioritas di atas prioritas. Di sini saya--sebagai seseorang yang sangat awam--mencoba sedikit mengulik tentang salah satu prioritas keseharian suami dan istri. "Sesekali, tolong dong Ayah yang didulukan." Begitu rengekan suami beberapa hari yang lalu. Ya, saya akui suami jadi yang ke dua setelah kami mempunyai bayi yang ke tiga. Bukan bermaksud tidak mendahulukannya, hanya saja kadang ingin strika baju misalnya, bayi bangun. Kadang ingin memasak cemilan untuk suami, anak-anak minta ini atau itu. Mau mengerjakan malam, lelah keburu datang. Padahal, kebutuhan suami tidak seberapa dibandingkan anak, tapi malah terkesampingkan. Makanan yang siap disantap, cemilan, baju yang siap untuk dipakai, dan bercinta. Kira-kira hanya itu (mungkin) yang sangat dibutuhkannya. Bersyukur jika suami tidak pernah menuntut, tapi tidakkah sebagai seorang istri merasa bukan menjadi istri yang sholehah? In...

Penikmat Hujan

Aku menghirup udara, pelan, tapi rakus. Seolah tidak akan pernah lagi bertemu oksigen sesegar ini. Menikmati setiap tarikannya yang beraroma khas, sejuk, menenangkan. " Petrichor ," ujarmu yang entah kapan sudah duduk santai di sampingku. Sedikit terkejut, kembali kukuasai diri. "Gak nanya," balasku sarkas. Hening. Kenikmatan akan anugerah hujan tadi sedikit terusik dengan keberadaannya. Rindu. Aku benci dengan rasa-rasa ini. Ketika hati begitu kesal, datang bersamaan yang katanya berat. Semua akan melebur, saat dia mengajak sedikit saja berbicara. Seperti sekarang. Ck! Kenapa aku selemah itu? Setidaknya sesekali aku ingin mengikuti ego, merajuk. Dibujuk, baru bicara. Namun, hati dan mulut seolah berselingkuh mengkhianati ego. "Kenapa tau, aku di sini?" Pada akhirnya aku yang mengenyahkan keheningan. Selalu. "Hm? ... Gak, kebetulan aja ke sini sama teman-teman." Aku mengikuti arah kepalanya yang memutar ke belakang, ke tempat ...

Lagi Rindu

Memiliki suami yang over protective karena rasa cemas yang berlebihan membuatku sedikit terkekang, tapi gak sanggup untuk berpisah lama (eaa ...). Tujuh tahun menikah, belum ada kata long distance merriage kami jalani. Eh, pernah ding. Tujuh bulan pertama pernikahan. Saat itu Uda masih dinas di Maninjau, sementara aku baru akan menempuh pendidikan pasca sarjana di Padang. Jadwalnya berlangsung selama weekday , sementara jadwalku weekend . Hanya hari Ahad yang kami punya, dan semua anggota keluarga tentunya berkumpul di rumah (alamak ...). Alhasil calon Ibu 3H jadi sering telat datang kuliah, atau izin. Gak usah kepo alasannya, muehehehe .... Uda tidak menganut sistem mambujang . Dia lebih izin tidak datang kerja daripada mengizinkan anak istrinya jauh dari dirinya. Bisa bayangkan intensitas jam bertemu kami selama hampir delapan tahun? Ada saat beliau sibuk. Pulang saat anak istrinya sudah terlelap dan harus berangkat ketika kami belum bangun. Itu rasanya ... merindu banget (uhuk ...

Tak Bisa Percaya

Aku menunduk menahan gejolak di dada. Jari jemari ini saling mengait untuk mempertahankan mulut agar tidak mengeluarkan kata yang bisa membuat suasana semakin runyam. Kepala yang terasa panas, tetap kupaksa berfikir, bagaimana berucap pada lelaki yang begitu santai duduk di sampingku sambil bermain onet. Ish .... "Sudahlah, Bu ... gak perlu dipikirin." ujarnya semakin santai tanpa beralih sedikitpun menatap smart phone-nya. Ish ... ish ... ish .... "Gimana gak mikirin ... Ayah bisa gak, sih, berhenti sebentar? Ini kita lagi bicara serius!" Ujung-ujungnya nada suaraku naik juga satu oktaf. Gemes! Bagaimana dia sebegitu santainya setelah mengucapkan, 'aku gak percaya sama kamu'. "Oke. Emang, Ibu maunya gimana?" Setelah menyimpan hp di sampingnya, lelaki itu merubah posisi duduknya menghadap penuh ke arahku. "Harusnya Ibu yang nanya gitu, Ayah maunya Ibu gimana?" Suaraku melunak. Aku selalu grogi kalau sudah ditatap penuh seperti ini...

Romantis

"Eh, tu tuh, Alia datang. Lihat deh, pasti dibukakan pintu sama suaminya. Sok romantis banget, gak, sih?" Tia menunjuk sebuah mobil sedan hitam yang sama sekali terlihat tidak mewah dengan pandangannya. Dua jendela di belakang yang selalu tertutup, sedangkan jendela di depan selalu terbuka sepertiga. Aku bukannya tidak tahu, kalau suami Alia selalu membukakan pintu mobil untuk perempuan beranak dua itu. Tidak hanya itu .... "Dia juga selalu duduk di belakang. Gak pernah, tuh, terlihat dia duduk di samping suaminya." Lanjut Tia dengan wajah yang ... iri? Entah. Perempuan dengan segala prasangka. Padahal, jelas di dalam Quran Allah berfirman,  “ Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa ”  (QS. Al-Hujuraat: 12). Eh, aku 'kan, juga perempuan, muehehehe .... "Jeng Tia, kenapa gak coba nanya langsung, kenapa sist Alia duduk di belakang terus? Tuh, orangnya nyampe." Elah, ngomongnya jadi lebay...