Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ibu profesional

Aku Ibu Bahagia

 Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan tepat waktu, tanpa eksplorasi dari tangan ke tiga, sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sungguh menghadirkan rasa puas tersendiri di dalam sanubari. Merasa menjadi seorang istri dan ibu yang profesional gak, sih? Seiring waktu menyerbu, fase hidup yang terus menyeru, yang kemudian seringkali peran sebagai istri dan seorang ibu tidak lagi berjalan sesuai dengan harapan. Lelah aku, tuh! Sebagai seseorang yang selalu ingin mengerjakan pekerjaan rumah dengan perfek, "Biar aku aja yang ngerjain", karena kalau suami yang menolong, hasil seringkali diluar ekspetasi. Apalagi anak-anak yang menuntaskan pekerjaan, yang ada kepala berdenyut, hati cemberut. Benar gak, sih? Ternyata, hal itu semua menjadikan diri uring-uringan sendiri. Niat ingin perfek, malah jadi eneg. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah menurunkan standar, dari perfek menjadi cukup. Lalu? Syukuri. Rasa kesempurnaan itu tidak akan langsung hilang setelah standar diturunkan....

Zonk

 Dear Ezi, Semenjak kemarin, kamu sadar ada yang salah di dirimu. Tapi kamu tetap seperti itu. Tidak berubah. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, agar salah itu pergi. Tapi kamu tetap di sana. Tidak beranjak. Kamu tahu, harusnya perbaiki dulu dirimu, baru bisa memperbaiki anak-anak. Bagaimana bisa berhasil komunikasi pada mereka? Sementara kamu hanya diam pada dirimu. Dear Ezi, Kamu tahu shalat dapat membuat hidupmu lebih baik. Tapi kamu hanya shalat lima waktu, yang sering kali tidak sempurna. Niat, tetapi sekedar niat. Tidak kuat, tidak mengerjakan niat itu. Ayolah, Bukankah kamu selalu bangun saat waktu tahajud? Bukankah ada waktu setiap dhuha? Apa harus ditampar dulu baru mengerjakan? Kamu tahu yang akan menampar siapa. Kamu tahu itu, Ezi! Tahu!! Bahkan waktumu lebih dari cukup untuk sekedar membaca Quran. Satu halaman, bahkan lebih. Pokoknya baca! Dear Ezi, Sudah banyakkah bekalmu jika tiba-tiba saja kamu harus pergi? Hm? Berapa dan apa yang telah kamu persiapkan untuk kepe...

Uda Nan Lembut

 Tentang menulis Uda yang tidak suka menulis. Dikasih angka, untuk empat hari, selesai dalam satu hari. Dikasih huruf, untuk satu hari, selesai dalam dua pekan. Ibu yang galau, Nak. "Kita mulai seperti biasa, jam 8 tepat ya, Uda." Senin sampai Kamis, jam 7.30 suaraku seperti alarm mengingatkan Uda. Jawab doi cepat. "Siap!" Pas mulai, Wallahu Rabb. Pensil sudah dipegang, buku sudah dihadapan, tapi pikirannya ke mana-mana. Hari ini, menyelesaikan khusus tugas menulis yang sudah dari dua pekan yang lalu. "Ayolah, Nak. Dikit lagi ini," Gemes. Terus, aku lupa lagi latihan komunikasi produktif. "Capek, Bu ...." Dia ikutan gemas. Padahal baru nulis dua kata. Astaghfirullah. Aku memberi jeda untuk diri. Mendekatinya, dan bicara lembut. "Sekarang Jumat, lho. Besok Sabtu, Ahad, libur. Kalau tugas Ida gak selesai sekarang, berarti besok Uda tetap harus ngerjain tugas." "Ibu duduk dekat Hasyim." Oke. Jadilah aku duduk di dengan mata terus...

Gagal Objek

Tentang hari ini. Tentang aku dan Nak Gadis. Tentang aku yang tidak suka manja-manja, versus dia yang sangat manja. Tentang emosiku yang sulit dikendalikan kalau anak menangis, tentang si gadis kecil yang gampang sekali mewek. Hari ini, kuingin bercerita tentang si Sulung. Nyatanya, Nak Gadis cari perhatian. Hari ini, kuingin fokus pada si Sulung. Realitanya, 3H harus diberi perhatian sama rata. Jika tidak, hujan petir badai akan terjadi. Setelah bicara pada diri sendiri, mengambil jeda, "Jangan emosi, ingat, hari ini tantangan bunsay dimulai. Halahh." Aku mulai membujuk si Tengah. "Jadi, Uni maunya apa, Nak?" Doi tetap mewek tanpa alasan. Cewek banget memang. Ini bukan pertama kali, jadi aku sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk membuatnya tenang. Dipangku. Nah, diamkan. Terus, akunya yang pegal. Mengajak Uda untuk memulai membuat tugasnya, mesti dibujuk. Lalu, si Bayi yang selalu iseng godain Uni, apalagi dalam kondisi dipangku Ibu. Sabar. Ambil nafas. Lepaska...

The Last Rides

 Wahana Diving Menyelami Diri Lebih Dalam “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka ” ( QS. Ar-Ra’d : 11 ) “ Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram. ” (Q.S Ar-Ra’du : 28) “ Barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan .” (Qs. An-Nahl : 97) "Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu menga takan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS ash-Shaff : 2-3) "...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah : 11) "Allah menganugerahkan al hik...

Aku dan COC

COC, IPers pasti kenal dengan dia. Kalau aku pribadi, mendengar tiga huruf itu sedap-sedap ngeri, gitu. Sedap karena COC itu sebuah aturan berperilaku di dalam komunitas Ibu Profesional. Ngeri karena pemakaian katanya yang sedikit ... ekstrim. Iya, ekstrim. Contohnya, kata bermartabat. Biasanya penggunaan kata ini mengandung makna dengan strata yang sedikit tinggi. Contoh lain, nista. Kata yang tadi memiliki strata tinggi, kemudian bertemu dengan strata yang jauh ke bawah. Jatuh, gitu. Sakit? Gak, kalau IPers gak ada niat uji nyali dengan COC. Seekestrim itu? Gak juga, sih. Yang namanya hidup tentu ada aturan yang harus ditaati agar tenang, damai, dan selamat 'kan ya? Layaknya hidup yang diatur dengan agama. Tanpa agama, hidup tidak akan tahu arah dan tujuannya. Tidak tahu mana yang bisa menyelamatkan, mana yang tidak. Tanpa agama, mungkin tidak ada ketenangan dan kedamaian. Begitu juga hidup berkomunitas di Ibu Profesional, COC-lah yang menjadi arahan agar tidak terjadi gesekkan a...

Belum Ada Judul

Tanpa Tuan Mahmed jawabpun, Jian bisa menebak apa yang akan atau mungkin sedang terjadi di bangunan berbatu banyak di sana. Batin Jian bergejolak, segera saja lelaki berbadan tegap itu meminta izin pada tuannya dengan alasan, ada sedikit keperluan. Langkah Jian begitu tergesa menuju istana. Hanya satu tujuannya, ingin mengetahui apakah sang raja, penyelamat hidupnya baik-baik saja? Tidak susah bagi Jian untuk memasuki istana megah tersebut. Lelaki santun itu sudah menjadi tangan kanan raja sekalipun tidak menetap di dalam istana. "Hamba ... hanya ingin hidup menjadi rakyat biasa, Baginda. Walaupun hamba tinggal di luar sana, hidup ini siap hamba pertaruhkan kepada engkau." Begitulah jawaban jumawa dari Jian, saat raja memintanya untuk menetap di dalam istana. Pikiran yang sedang berkelana, membuyarkan sedikit fokus Jian saat masih berlari-lari kecil menuju ruangan raja. Hampir saja pemuda itu menubruk seseorang yang juga hendak memasuki ruangan raja. Sigap, tangan ke...

Kurus, Bodo Amat

Ketika semua orang berlomba-lomba diet sehat untuk memperoleh berat badan yang ideal, tidak berlaku bagi Tia. Apapun, tanpa berpikirpun, selagi perut nerima, semua masuk ke dalam mulut berbibir sedikit tebal itu. "Makan banyak, tapi gak gemuk-gemuk." Komentar seperti itu jangan ditanya lagi, sudah seperti obat anti alergi oleh perempuan kutilang ini. Tenang, doi tidak akan marah aku bilang kutilang. "Nyatanya kayak gitu, gimana mau marah?" ungkapnya cuek. "Emang, mbak Tia gak pernah coba program menaikkan badan ideal?" Pernah kami sedikit kesal dengan gaya masa bodohnya dia terhadap komentar-komentar mulut yang tidak bertanggung jawab tentang badannya. Bagaimanapun, Tia itu sudah hampir lima tahun sepenanggungan bekerja sama dengan kami, aku dan Alia. Sejenak, Tia menghembuskan nafas lelahnya, " jangan ditanya Al, dari gue masih ingusan, emak gue udah ngasih vitamin penambah berat badan, vitamin pembuka selera makan, yang seperti itulah. B...

Jodoh

Pernah suka pada paras wajah cowok, ternyata orangnya sama? Aku pernah. Lima kali, orangnya dia lagi dia lagi. Pertama kali lihat wajahnya, saat pulang buka bareng yang diadakan tempat kursus. Saling melambaikan tangan ketika akan melangkah berbeda arah. "Pulang sama siapa, Dek?" tanya sesekakak, teman yang biasa jalan pulang bareng saat kursus selesai. "Sendiri, Kak. Kita bareng ke luar, ya." Ajakku. "Kakak dijemput," ujarnya lagi sambil menunjuk seorang laki-laki duduk di atas motor King dengan gaya kaki naik ke jok. Pandangan ini mengikuti arah tunjukkan sesekakak. Mata kami sempat beradu sekian detik, tanpa ada reaksi apapun dari wajahku atau dia. 'Cakep suami si Kakak' Waktu berlalu. Aku yang sedang menikmati angin taman kampus, melihat seseorang yang asik untuk dipandangi, sorot mataku sedikit terpaku saat dia berjalan ke arahku. 'Hah? Dia ke sini?' Otomatis, aku mundur duduk sedikit bersembunyi di balik punggung t...

Menjadi Ketua Kelas

Semenjak menduduki bangku sekolah, mulai dari taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan terakhir strata satu, akhirnya saya dapat amanah sebagai ketua kelas setelah menjadi seorang ibu di kelas literasi ibu profesional Padang. Kaget, sih, tidak. Deg-degan, iya. Belum tahu, apa dan bagaimana sistem memimpin sebuah kelas yang anggotanya tak pernah tampak muka, hanya tulisan. Bisa dibilang itu sebuah keuntungan, yang bila salah paling malu sendiri, hehehe. Alhamdulillah, tidak pernah salah. Ternyata, di sekolah ini--ibu profesional--semua guru semua murid. Jadi, disaat seseorang baru saja maju menjadi pengurus, akan ada tangan yang langsung membantu. Kepala yang selama ini selow tanpa berpikir mau apa dan mengapa--selain memikirkan masak dan kegiatan anak--terasah dengan adanya amanah. Pun, dengan kalimat yang keluar saat menyapa grup. Jadi semakin merasa bijak. Eaa. Sebuah pertemuan, akan ada perpisahan. Jadi, tanggal 22 Maret lalu, saya sebagai ketua kelas literasi ibu profesional Pa...

Me-review

Lama ingin belajar me-review buku. Cukup buku, kalau film mungkin nanti, saat kiddos gak nempel kayak prangko lagi. Nanti juga dicoba melihat kembali (baca : review) sebuah produk. Ini sekarang baru mau belajar. Belum pernah nulis. Jadi, mau mencatat dan menyimpan ilmu tentang me-review di sini. Me-review dalam bahasa Indonesia ; ulasan, atau komentar? Kira-kira seperti itu, ya. Hehehe. Kemarin tanya-tanya ke senior WaG KLIP, cara me-review buku : coba tulis apa bagusnya atau jeleknya apa yang bikin kita merekomendasikan film/ buku tersebut kalau boleh saran 3 poin ini : 1. yang disukai 2. yang ga disukai 3. plot cerita plot di akhir karena orang-orang toh bisa google sendiri bagaimana jalan ceritanya iya atau bahas karakternya bisa bahas penulisnya juga dan karya-karya sebelomnya, kan kemiripan cara mengakhiri ceritanya Sampai di sana, saya paham tapi belum juga mencoba untuk mereview. Hadehh. Kalau kita search di google, banyak. Namun, di sini, saya hanya ...

Sugesti

Beberapa hari lalu, di WaG Kamp Komunitas IP Padang, terselip percakapan tentang sugesti. Mulanya, ada yang bilang, "suka banget makan timun, sekilo bisa habis sendiri". "Katanya, makan banyak timun bisa keputihan, benar gak, sih?" tanya seseibu beranak tiga. Saya maksudnya, muehehehe. Dari dua orang bunda yang menyukai mentimun, memiliki dua jawaban yang berbeda. "Sepertinya itu sugesti diri aja, ya?" Begitu lanjutan percakapannya. Dalam hati, "masa, sih?" Ternyata ... salah dua-duanya, keputihan bukan karena banyak makan mentimun, juga bukan karena sugesti diri. Jadi, Girls , keputihan itu penyebabnya bukan dari makanan. Saya baca dari hellosehat.com Terus, keputihan itu karena apa? Searching sendiri yak, karena tema kali ini tentang sugesti. Percakapan pun berlanjut, kalau sedang haid, keramas, haid akan berhenti, itu juga sugesti. "Aku, gak." "Aku, iya." "Sugesti diri juga mungkin, ya?" D...

Ke Surga, Yuk, Nak ....

Pusing ya, Moms, kalau si kecil sedang menginginkan sesuatu, harus dapat sekarang, saat ini juga! Ya, kalau kondisi kejiwaan sang emak sedang slow, bisa dengan sabar melayani atau setidaknya memberi penjelasan untuk mengerti. Nah, kalau kejiwaan sedang high? "Kalau gak mau nunggu, ambil sendiri!" Lalu si anak makin merengek, si mamak makin kesal, semakin ribut, berakhir dengan kekecewaan dan penyesalan. Huft! Saya dapat beberapa kalimat untuk mengantisipasi anak yang meminta sesuatu, harus dapat sekarang. Kemarin, di saat kondisi kewarasan Ibu sedang normal (helehh), terjadilah percakapan santai. Lupa bicara apa diawal, yang ingat tiba-tiba Hasyim bilang, "kalau mau cepat dapat, besok di surga. Ya, kan, Bu?" "Benar. Kalau di surga, mau apa saja langsung dapat. Tanpa menunggu atau berusaha dulu." "Boleh makan permen, Bu? "Boleh." "Main hujan terus, Bu" "Sepuasnya." "Gak makan nasi, makan es krim ...

Little Things

Percayakah, kamu? Sekecil apapun yang kamu lakukan, terekam jelas diingatanku, menyentuh kuat di dalam kalbu. Maka, lakukanlah yang bisa mendukungku menjadi seorang istri sholehah seperti impianmu. Tidak perlu kata romantis. Cukuplah berkata lembut dihadapanku. Tetap berkata pelan tanpa ada bentakan, disaat kesalahan yang kulakukan. Senyummu, penyemangat hati. Tawamu, penyegar hari. Ingatkan aku dengan cara yang menyenangkan. Tegur aku dengan rasa nyaman yang tetap bersemayam. Beri aku waktu untuk diriku. Bermain bersama buah hati sejenak tak kan merugikanmu. Jika kamu bisa, aku lebih dari bisa menjadikanmu raja di istana kita. Aku, sadar siapa aku. Namun, setiap waktu, selalu kucoba menjadi istri sholehah. ♥♥♥ Terinspirasi dari beberapa status para istri yang menginginkan sang suami seperti ini dan seperti itu.

Curhat, gak, ya?

Berada di bawah atap yang sama dengan seseorang yang baru dikenal, atau pastinya seseorang yang baru masuk ke dalam hidup kita adalah suatu perkara yang sangat besar. Namun, bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dengan tindakan-tindakan kecil yang kamu lakukan untuk dia. Tentunya, harus saling. Aku menutup majalah edisi terbaru yang datang hari ini. Menghembuskan nafas dan sedikit termenung. Menikah itu berat memang, terutama untuk perempuan yang biasa menyimpan segala rasa di hatinya sendiri. Ingin bercerita, takutnya jatuh ghibah, atau paling seram membokar aib pasangan, lalu terjadi fitnah. Namun, jika ditahan sendiri, rasanya nyesek banget. Harusnya pasangan bisa menjadi tempat ternyaman untuk bercerita. Apapun. "Hei, Mbak. Ngelamun aja." Tepukkan Alisha di pundak cukup membuatku terlonjak, dan sedikit cemberut. "Maaf, maaf, gak maksud membuat Mbak kaget," lanjutnya memudarkan manyun di bibir. "Al, menurut kamu, bercerita tentang pasangan ke orang ...

Proyek Mini ; Buku Bunga Rampai Kebahagiaan

Menulis adalah kesukaan saya sedari zaman merah putih. Berlanjut putih abu-abu, saya menghasilkan dua novel untuk dibaca ulang (baca : print sendiri, simpan sendiri, baca sendiri). Lalu, saat ini. Belum kepikiran untuk punya buku solo, sih. Tapi, sudah dari pertengahan tahun lalu, saya berniat melahirkan antologi bersama teman-teman literasi IP Padang. Agaknya, ikhtiar saya belum maksimal memotivasi teman-teman literasi untuk menghasilkan sebuah bunga rampai. Kini, saya akan menjadikannya sebuah proyek mini. Semoga, kelak bisa melahirkan sebuah buku antologi. Proyek mini ini saya beri judul : BUNGA RAMPAI KEBAHAGIAAN Ya, nanti buku antologi tersebut akan berisikan tentang cerita-cerita bahagia yang bisa memotivasi dan menginspirasi perempuan-perempuan Nusantara. Penulisan sebuah cerpen (jika fokus), dalam kurun waktu 30 hari, bisa selesai dengan maksimal 2000 kata. Nantinya, panjang cerpen akan disepakati bersama teman-teman yang ingin berpartisipasi. Untuk tema, saya tet...

CLBK

"Ciee ... yang baru ketemu mantan." Alia yang baru saja kembali dari istirahat siangnya, disambut oleh kalimat kepo terselubung dari Tia. Mataku beralih pada Tia yang tampak sedikit terkejut, terlihat dari terhentinya langkahnya, tapi langsung bisa mengendalikan diri. Seperti biasa, ada saja topik bulian dari Tia untuk Alia. Dibilang mereka pernah punya masalah sebelumnya, tidak. Memang dasar Tia saja yang suka resek. Aku pun pernah jadi korbannya Tia, tapi cewek komersil itu kesal sendiri karena tak kuladeni. "Aku speechless , lho. Mbak Tia segitu perhatiannya sama aku." Beda denganku, Alia nagih membalas cemoohan dari Tia. Aku salut pada Alia yang selalu santai menghadapi sikap setiap teman. Bahkan, kepada seorang pembuli seperti Tia. "Aku pernah down , kok. Tapi, kucoba untuk melawannya dengan berpikir positif. Karena sejatinya, jiwa positif kita itu lebih banyak disediakan Allah daripada aura negatif. Bersedih boleh, larut jangan." Begitu j...

Botol Harapan (Kapsul Waktu)

Proyek mini dari Kampoeng Komunitas wow bagi saya. Jujur, saya baru mengenal kapsul waktu ini, ya, karena proyek ini. Selama ini, yang sering saya baca untuk mewujudkan sebuah harapan adalah ditulis, lalu ditempel di tempat yang sering terlihat. Dengan kapasitas yang sering tampak, memotivasi diri untuk mewujudkannya. Gitu .... Pernah melakukannya? Cuma ditulis tapi tidak ditempel. Bertemu kapsul waktu, saya auto search . Ternyata, maksud dari kapsul waktu umumnya adalah cara menyimpan barang-barang berharga, atau sebuah kenangan untuk generasi berikutnya. Beda dengan kapsul waktu ala kampoeng komunitas. Di sini, kami mengisi kapsul waktu dengan harapan-harapan untuk waktu yang akan datang. Diawali dengan tulisan keadaan sekarang. Untuk membuat kapsul waktu tentunya butuh benda berbentuk kapsul atau bisa menggunakan botol. Saya langsung ingat botol parfum yang masih tersimpan di atas lemari. Iya, masih ada isinya. Kemana saya buang? Saya semprotkan ke seluruh penjuru ru...

Work at Home

Ceritanya Ibu 3H pengen seperti orang-orang kantoran yang sekarang lagi work from home . Karena, Ibu memang stay at home , ya ... itu, at home . Apa, sih? ðŸ˜… Ini bukan tentang pekerjaan saya, gak usah dibahas, berat dan gak akan nemu ujungnya. Sedikit sharing bagaimana Hasyim si Anak TK belajar di rumah. Masih TK, kan? Kenapa ikut-ikutan belajar di rumah? Karena saya, tidak ingin waktu mereka terbuang percuma. Saya pun, mengambil kesempatan untuk menambah pahala. Sudah hampir setahun, Hasyim belajar mengaji dengan Mualimahnya di sekolah. Sekarang, ada waktu saya, kenapa tidak? Sebenarnya, sebelum Hasyim TK, si Uda ini sudah mulai beraktivitas ala-ala Ibu di rumah, tapi tidak ibu paksa. Kalau mau, Alhamdulillah, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Namun, sekarang, memang ada sedikit paksaan tapi, ibu memulai dulu dengan cerita. Jika tidak mempan, lanjut dengan iming-imingi hadiah. Biasa, sih, manjur kalau sudah dijanjikan hadiah. "Ikhlas, kan, Hasyim baca Iqra-nya?...

Tempat Ternyaman

Dulu, ketika belum berbontot, suka sekali setelah shalat langsung tidur di sajadah, masih lengkap memakai mukena. Nyaman. Kini, kebiasaan itu telah berubah menjadi posisi duduk. Di sana, di sajadah yang masih menghadap kiblat, dengan mukena yang tetap dipakai. Nyaman. Duduk bersimpuh, sendiri, namun terasa ada yang menemani. Bicara apa saja, sekalipun otak yang over thinking, seolah tetap didengarkan. Nyaman. Apalagi, di saat hati sedang galau. Masyaallah, diri ini semakin nyaman duduk berlama-lama di sajadah. Dan ditutup dengan sujud syukur ataupun mohon ampun. Karena, hati kecil itu tau, Engkau selalu ada.