Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label teenlit

Noni

 Suasana Idul Adha masih terasa walau 11 Dzulhijah telah berlalu. Setelah tadi pagi dilakukan kurban di lapangan bola, malam ini kami sekeluarga memasak sate di halaman belakang rumah. Aku mengajak Noni dan Ismail, mengingat mereka hanya bertiga ada di kampung ini. "Fi, tolong minta tempurung kelapa ke warung Buled, ya. Tidak cukup sepertinya ini," pinta Ibu saat aku dan Noni memasukkan daging ke tangkai sate. Warung Buled berada di depan kediaman Noni yang hanya berjarak satu rumah dari rumahku. Saat langkah mengarah ke warung itu, tampak Pak Ibrahim—ayahnya Noni—keluar rumah membawa golok yang sedikit besar.  "Papa mau ke mana? Kenapa bawa golok?" tanya Noni heran. "Hmm ... Papa dapat sedikit kerjaan, mungkin akan pulang larut," jawab Pak Ibrahim sedikit ragu, lalu beliau menatapku. Mata itu tampak sedikit kalut. Bola matanya melihat ke segala arah sekalipun beliau mencoba menutup dengan topi yang dikenakannya. "Nak Sofi, jika boleh, Noni dan Ismail...

Sahabat

Kamu punya sahabat seperti apa, sih? Aku punya teman dekat, yang tidak mau dibilang sahabat, tapi dia tahu semua tentangku, keluargaku, bahkan perasaanku. Pun sebaliknya. Bedanya, dia mengingat setiap rinci silsilah keluargaku, juga teman-temanku dari masa putih merah. Mungkin juga taman kanak-kanak. Sedangkan aku, hanya mengingat keluarga intinya saja. Jangankan teman-teman lamanya, pacar barunya saja, aku sering lupa wajahnya. "Eh, Cheng. Rasa-rasanya, aku pernah ketemu sama dia, deh," ujarku sesaat sampai di kosannya. Tadi, di jalan menuju kosannya, kami bertemu cowok pakai motor. Dianya baru akan berangkat ke kampus, sedangkan kami baru selesai dua sks perkuliahan. "Astoge Chiiing, dia itu 'kan cowok aku yang baru! Baru juga seminggu yang lalu aku kenalin, masak lupa, sih? Ish!" gemasnya. "Awas kalau lupa lagi. Parahnya ntar, kamu naksir lagi," lanjutnya masih sewot. Muehehehe. Aku memang sepelupa itu pada wajah orang. "Tenang, tipe kita beda....

Sejenak Jeda dari Letih Dunia

Dunia, hanya tempat persinggahan yang membutuhkan jeda   Bukankah kita harus menepi sejenak saat sedang di dalam perjalanan panjang? Bukankah kita harus berhenti sejenak saat bekerja terlalu berat? Bukankah kita harus istirahat walau sejenak saat jiwa terasa lelah? Buku kecil ini begitu menampar saya saat membacanya. Baru membaca empat sub judul, terasa menikam hati, "Ini benar, dan saya salah." Mengingatkan banyak kesalahan diri, self reminder . Banyak catatan kecil bermakna besar yang bisa dibaca berulang-ulang agar diri menepi sejenak. Note to myself .  Katanya komik dewasa, nyatanya bisa dibaca untuk remaja. Ini buku, bakal disimpan baik-baik, untuk si Uda nanti.

Hijrah Rasa (6)

Geng putih mengkilap tadi tampak begitu terkejut, tampang yang tadi jutek, sombong, seketika ciut melihat kedatangan Diky, cowok yang baru saja mereka bicarakan. Sedangkan Qia, tidak ada yang berubah dari wajahnya, tetap polos. "Eh, Ky," cengirnya. "Gak ada apa-apa, kok. Cuma kenalan sama junior aja, ya gak Gaes?" jawab Berlian meminta dukungan pada teman-temannya. Serempak mereka mengangguk-angguk centil yang membuat Qia dan Gita merotasi bola matanya. "Permisi ya, Kakak-kakak. Kami harus masuk kelas." Tanpa menunggu jawaban dari para senior itu, Qia menarik tangan Gita. Memang, bel masuk menandakan jam istirahat telah selesai sudah berbunyi. "Gak sopan," oceh Berlian sesaat setelah Qia pergi. Namun, saat akan beralih ke Diky, cowok itu memilih mengikuti Qia. "Eh, Ky, mau ke mana?" Jari lentiknya menahan langkah Diky. "Bukan mahram!" hentak Diky dingin ke Berlian. "Sok alim. Tapi masih pengen dekat-dekat cewek," uja...

Hijrah Rasa

Hidup itu adalah kejutan. Sepertinya quotes itu sedang berlaku untuk Qiara saat ini. Setelah para petinggi OSIS saling berebut perhatiannya, kini Qia merasa menjadi peran utama dalam sinetron abegeh. Dilabrak kakak kelas karena didekati cowok. Elah. "Gue gak mau kasar. Apalagi, lo bukan cewek genit. To the point, Diky itu calon tunangan gue. Dengar, ca-lonnya Ber-lian. Jadi, kalau dia dekatin lo, cuek aja, jangan diambil hati. Oke?" "Berlian itu ... nama Kakak?" "Bukan, nama perhiasan." "Jadi, kak Diky, calonnya perhiasan? Maksudnya, gimana?" "Ish. Qia-" "Pokoknya lo jangan centil-centil deh, sama Diky kalau mau tenang sekolah di sini." Qia dan Gita menatap kepergian lima cewek berkulit putih mengkilap. Hasil skincare di rasa Gita. Gaya mereka menunjukkan bahwa mereka adalah korban negatif dari gadget. Ditambah perilaku yang jauh dari sholehah. Ya iyalah, ini bukan pesantren. "Kak ...." Berlian da...

Chocolatos Drink Love Story

Aku memangku dagu dengan tangan kanan, sementara jari-jari tangan kiri menyentak-nyentak kecil di atas meja mini bar sebuah gerai makanan siap saji, menanti minuman segar yang telah kupesan tadi. Memperhatikan seorang pramusaji meracik sebuah minuman kekinian dengan lihai. Sesekali, mencuri lirikan ke arahku yang terpesona dengan gerakkannya. "Minuman ini bisa dibuat di rumah lho, Mbak. Gampang, dan rasanya gak kalah enak." "Oh ya? Mau ngasih tau caranya?" "Tergantung," Dahiku berkerut, "tergantung apa?" "Mbak, udah punya pacar, belum?" "Hah? Apa hubungannya?" Laki-laki itu hanya tersenyum sebagai jawaban, lalu mulai menunjukkan cara membuat minuman fresh drink itu, sambil terus menyiapkan pesananku. "Minuman saset chocolatos yang bungkus hitam, tau, Mbak? Untuk satu porsi, kasih 2. Larutkan dengan 10 sendok makan air panas," "Dikit amat?" "Kita butuhnya coklat kental. Kasih bat...

Hijrah Rasa

Sebelumnya → Hijrah Rasa (5) ◆◆◆ "Jadi, lo kenal Qiara di mana?" Begitu junior yang harusnya menjadi sandera sang Ketos ke luar dari ruangannya, Diky langsung meluapkan pertanyaan yang daritadi ditahannya. Ari sudah menebak sebelumnya jika Diky akan mempertanyakan hal ini. Bukan maksudnya juga menutupi hubungannya dengan Qia. Salah Diky sendiri kalau selama ini selalu cuek dengan cewek. "Kenapa? Akhirnya terjerat pesona ciwi juga?" Diky menatap tajam Ari yang sudah berpindah duduk di seberang meja kerjanya. Bukan jawaban yang diberikan Ari, malah semakin menggoda teman dekatnya semenjak awal SMA. "Ck! Itu mata bisa biasa aja, gak? Qia adik gue." Ari merasa terintimidasi oleh tatapan Diky. 'Jangan bilang gue takut, tidak, hanya saja ... apa, ya? Ya ... itulah.' Bahkan Ari yang sudah paham sifat Diky, masih salah tingkah jika tatapan burung hantunya digunakan. Iya, owl, muehehehehe. "Kandung?" Tatapan Diky sebegitu tidak ...

Hijrah Rasa (6)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (5) ◆◆◆ "Aku ke teman-teman dulu, ya." Pamit Gema, yang fokusnya tentu pada Gita. "Ntar pulang bareng, bisa?" Lanjut pemuda itu sedikit berbisik namun, masih terdengar oleh Qia. "Aku ada, lho, Ge." Tanpa maksud menyindir cowok itu, Qia menatap serius manik mata yang terlihat sebal. Ini bukan kali pertama Qia, teman sepermainan Gita itu menganggu. Tujuannya baik, Gema tahu itu. Tapi ... ya, gimana ya? "Iya, iya." jawab Gema kesal sambil berlalu. Malas, ntar dapat kultum lagi. "Kesempatan banget, sih." Senggol bahu Qia ke Gita setelah ambil posisi duduk. "Gue lagi, gak mood dikasih kultum, Qi." jawab Gita yang sepertinya terkena virus malas Gema. "Aku juga lagi malas kasih kultum, tuh." ujar Qia cuek. Gaya temannya ini seketika membuat darah Gita naik. "Dengar, ya, Sayang. Kita itu pacarannya, pacaran sehat. Dengar, pa ca ran se hat. Jangankan kiss-kissan, pegangan aja g...

Hijrah Rasa (5)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (4) ◆◆◆ Hari pertama MOS, Qia berasa menjadi artis sinetron. Bertemu dua cowok cakep, berkharisma, tapi sakura. Satu lagi, cakep juga, receh, sedikit agresif, tapi ramah. Sekembali dari ruang OSIS, tujuan Qia hanya kembali ke kelas di mana soulfriend -nya berada. Kepalanya penuh dengan nasihat yang nanti akan dilontarkan ke pada sang teman, tak peduli nanti ada gege-gege itu. Namun, di tengah lorong, gadis yang sedang manyun karena masih kesal pada si ketos itu dicegat oleh Angga. "Sendirian aja, Neng?" Sapanya sengan senyum pepsodent. "Gak, sama bayangan." Jawaban Qia kenapa selalu ngasal, sih? Tawa Angga berderai seketika. "Maksudnya, kenapa gak sama Diky?" Qia tidak berniat sedikitpun untuk menghentikan langkahnya, sekalipun untuk sekedar berbasa-basi dengan senior itu. Maka, Angga terpaksa mensejajarkan langkahnya. "Kenapa harus sama dia?" Barulah Qia berhenti mendengar pertanyaan aneh dari Angga. M...

Mengejar Nilai

"Resek!" Sebuah buku melayang ke wajah gue. Lumayan. Bukannya kesal, gue malah terkekeh kena tempeleng. Geleng-geleng sendiri gue jadinya. Gue berani bertaruh, dalam hitungan ke tiga, tuh cewek pasti nengok lagi ke gue. Satu ... dua ... tiga .... Nah, 'kan dia kagak nengok. Kepedean. Anehnya, gue masih aja senyam-senyum gak jelas. Ck! Nih, hati gak lihat-lihat dulu kalau mau jatuh. Harusnya berembuk sama otak, mau gak, tuh cewek sama gue. Gue yang slengekan, kasar, penampilan seperti preman ... apalagi, ya? Jauh dari pacar idamanlah. Badboy kata ciwi-ciwi. Gue gak suka sebenarnya dijuluki itu, artinya aja aneh, laki-laki jelek. Udah jelas tampang gue setara Ramon J. Tungka. Gak percaya? Bagus ... karena percaya selain Allah itu dosa besar! "Hei, Bang Sat," Sapaan itu membuat senyum gue lenyap. "Ada apa?" To the point dan jutek. Gue bukannya gak tau, kalau ramah itu salah satu akhlak mulia. Terkhusus ni makhluk, gue pilih dosa-dosa si...

Sepuluh Hari Terakhir

Semburat mentari pagi mewarnai bumi. Tidak terasa, Ramadhan akan segera pergi. Ayu, si gadis kecil yang periang sudah berniat dari awal Ramadhan, kalau puasanya akan penuh di sepuluh hari terakhir ini. Walaupun, di hari-hari sebelumnya banyak juga yang hanya sampai siang hari. "Ternyata, makin dekat hari raya, puasa makin terasa berat." keluh Ayu saat jam istirahat. Ayu memilih duduk di kelas saja, tampak beberapa orang teman mengeluarkan bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah. Ayu memalingkan wajah ke arah yang lain, berharap tidak tergoda ingin menyicip kue teman-temannya. Perut Ayu terasa memanas. Memang, saat sahur tadi, Ayu terlambat bangun. Malas sekali untuk bangun sahur, alhasil, Ayu masih makan saat azan berkumandang. Kata Bunda, 'gak apa-apa, selesaikan aja makannya. Rasulullah pernah bersabda kalau kita sedang sahur, lalu terdengar azan, maka selesaikan dulu makannya. Hmm ... Ayu lupa apa sabda yang dibilang bunda tadi, ingatnya HR Abu Dawud aja'. ...

Haruskah Aku Sakit Dulu

 "Iraaa ... mana kunci mobil Papa?" Suara papa terdengar menggelegar di rumah berlantai dua ini. Kalian tahu siapa yang bernama Ira? Dia, gadis enam belas tahun yang sedang duduk santai di pagar beton balkon kamarnya di lantai dua. Iya, itu aku. "Ira! Kamu dengar Papa manggil, gak?" Terlihat Papa sedang mendongak melihatku duduk mengayun-ayunkan kaki. "Lagian kamu ngapain duduk di sana? Mau jatuh? Turun!" Ck! Menyebalkan. "Mana kunci mobil? Papa udah telat, Ra!" "Gak mau, Papa janji hari ini kita pulang kampung." "Besok. Ini pertemuan Papa penting. Ayo, mana?" Tangan papa terulur menanti aku memberikan benda yang begitu penting untuknya saat ini. "Ira lupa di mana narok. Maaf, ya, Pa." Aku nyengir mengakui kesalahan. "Ya Salaaam. Meli! Urus anakmu!" Siapa yang berani memarahi aku di rumah ini? Tidak ada. Sekalipun Papa yang begitu keras terhadap ketiga kakakku. Padahal, menurutku, mereka b...

Hijrah Rasa (4)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (3) ●●● "Gimana temanku tercintah? Nyesel 'kan, gak lanjut di pesantren aja?" Gita yang baru saja kembali dari koperasi siswa membeli beberapa cemilan, terkekeh sendiri melihat Qia lunglai menelungkupkan kepala di mejanya. Bagaimana tidak? Setelah Diky memberi kalimat pengantar di kelas mereka, Qiara terikat janji dengan si cowok sakura. Perjanjian yang hanya disetujui sepihak oleh Diky. Hal itu membuat ubun-ubun Qia merasa meledak. Mau memprotes, Diky langsung ke luar tanpa salam penutup. Mau mengejar, tidak dapat izin oleh senior pendamping. Melawan amarah itu melelahkan, pren. Wajar, Nabi bilang orang yang kuat itu orang yang bisa menahan marahnya. "Nyesel, sih, gak. Makan hati, iya," jawabnya lemah. "Lagian, apa maunya, sih, tu si sakura? Perasaan salahku gak salah-salah amat, deh." Qiara menegakkan badannya teringat sikap Diky yang sangat menjengkelkan bagi gadis berdagu lancip itu. "Sakura?" tanya...

Hijrah Rasa (3)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (2) Setelah upacara penerimaan siswa baru yang dihadiri seluruh keluarga SMA tadi di lapangan, kini murid-murid baru tersebut melakukan sedikit permainan di dalam kelas untuk saling mengenal, tentunya didampingi oleh senior. Sejauh ini, semua aman menyangkut urusan rasa di hati Qia. Entah pada Gita, Gema yang lebih dahulu menjadi warga sekolah ini, alias kakak kelas, seringkali menampakkan batang hidungnya. Lalu, mereka senyum malu-malu kucing. Elah. "Cape dweh! Si bulet ungu mulai bergerilya, nih," komentar Qia saat kedapatan Gita kembali tersenyum ke arah jendela. Karena apalagi kalau bukan ada dengungan suara di luar sana, a.k.a Gema. " What ? Baru beberapa jam, lo udah dikuasainya, Qi? ... ber-ba-ha-ya." "Gak usah, sok ngeles." Qia memutar bola matanya, jengah. "Dengar, ya, sahabat sehidupku. Selama aku masih kamu anggap teman, selama itu pula Gege gak bisa berduaan denganmu." "Abang, Qi. Dia lebih ge...

Coretan

"Resek!" Sebuah buku melayang ke wajah gue. Lumayan. Bukannya kesal, gue malah terkekeh kena tempeleng. Geleng-geleng sendiri gue jadinya. Gue berani bertaruh, dalam hitungan ke tiga, tuh cewek pasti nengok lagi ke gue. Satu ... dua ... tiga .... Nah, 'kan dia kagak nengok. Kepedean. Anehnya, gue masih aja senyam-senyum gak jelas. Ck! Nih hati gak lihat-lihat dulu kalau mau jatuh. Harusnya berembuk sama otak, mau gak, tuh cewek sama gue. Gue yang slengekan, kasar, penampilan seperti preman ... apalagi ya? Jauh dari pacar idamanlah. Badboy kata ciwi-ciwi. Gue gak suka sebenarnya dijuluki itu, artinya aja aneh, laki-laki jelek. Udah jelas tampang gue setara Ramon J. Tungka. Gak percaya? Bagus ... karena percaya selain Allah itu dosa besar! "Bro," Sapaan itu membuat senyum gue lenyap. "Ada apa?" balas gue jutek. Gue bukannya gak tau, kalau ramah itu salah satu akhlak mulia. Terkhusus ni makhluk, gue pilih dosa-dosa sikit. Ampuni Baim, ya ...

Hijrah Rasa (2)

sebelumnya → Alasan ▼▲▼ Deheman yang berupa teguran dari arah belakang, membuat punggung Alisha dan Gita tegak seketika. Bibir mereka yang tadi terbuka, langsung tertutup rapat. Jantung mereka berdentum cepat. Siapa yang mau mencari kesalahan dengan senior pada saat MOS? Tidak ada. Senior selalu benar, junior harus mengikuti senior, jika senior salah, kembali ke nomor satu. Ish ... apa-apaan itu. Maka, selagi bisa menjauh, jaga jarak saja dengan mereka--yang sok berkuasa--dalam beberapa hari ini. Namun beberapa orang ada yang bilang, sih, kalau dapat masalah dari senior saat masa orientasi, bisa menjadikan keakraban tersendiri nantinya. Membuka peluang menjadi relasi, bukankah memiliki jaringan pertemanan yang banyak itu baik? Bagi Alisha dan Gita, lebih baik menghindar saja. Mereka tahu, kok, tidak semua dari mereka yang sok-sokan. Sebagian mungkin ada yang tulus menjalankan kewajiban sebagai seorang senior tanpa maksud terselubung. Maksud apa? Nanti kamu juga tahu. ...

Angka Satu

Dia, aku panggil Papa. Lelaki tegas, pekerja keras, jarang tersenyum, apalagi tertawa. Pernah, Papa pernah begitu sering tertawa. Saat dua orang adikku masih dikatakan 'bawah lima tahun', dan aku di bangku sekolah dasar. Masih kuingat tawa lebar Papa ketika bermain bersama kami di halaman belakang. Saat itu, Papa membelikan kami pistol air. Setelahnya, aku tidak ingat kapan Papa tertawa lagi. Tidakkah dia tahu, senyumnya bisa menghangatkan rumah ini? Tawanya mencairkan segala kepenatan yang ada? Aku bukan ingin menceritakan tentang tawa Papa. Walaupun aku rindu gelak darinya. Aku ingin sedikit bercerita, bagaimana tertekannya aku oleh tuntutan Papa akan nilai di sekolah. Bagaimana terkekangnya aku karena keinginan Papa. Jika ditanya pendapatku tentang nilai sekolah untuk masa depan, aku tidak sepakat. Nilai sekolah tidak menjamin seseorang sukses dikemudian hari. Selain usaha dan doa, nasib bisa menjadi salah satu faktor keberuntungan dalam pekerjaan. Namun, tidak bagi ...

Hijrah Rasa

Hati itu kamu yang punya. Tentu hanya kamu yang bisa mengaturnya. Mau dia tetap dijalan-Nya, atau mengikuti bisikan makhluk Allah yang bisa menyusup dalam diri melalui aliran darahmu. Semua, tergantung padamu, dirimu sendiri. ▲▼▲ Menjadi salah satu siswi di sekolah menengah umum bukanlah cita-cita, apalagi impian Qian. Hanyalah keinginan yang begitu kuat untuk mengajak sang sahabat pindah haluan, maksudnya kembali ke jalan yang benar, lebih tepatnya hijrah. Ais ... Qian memang sebegitu bingungnya menghadapi sahabat sehidupnya ini. Iya, sehidup, karena mereka belum merasakan yang namanya mati. Na'udzubillah. "Lo pikir gue tersesat gitu? Qi, gue masih shalat lima waktu, masih puasa, masih bersedekah, masih sering ucap syahadat, udah berhijab, naik haji aja yang belum. Ah, lo buat gue jadi riya." Begitu protes Gita ketika mendengar alasan Qian ingin melanjutkan pendidikan di sekolah umum. Gita bukannya tersinggung, gadis berhijab mungil ini lebih mengkhawatirkan sah...