Langsung ke konten utama

Hijrah Rasa (4)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (3)

●●●

"Gimana temanku tercintah? Nyesel 'kan, gak lanjut di pesantren aja?"

Gita yang baru saja kembali dari koperasi siswa membeli beberapa cemilan, terkekeh sendiri melihat Qia lunglai menelungkupkan kepala di mejanya.

Bagaimana tidak? Setelah Diky memberi kalimat pengantar di kelas mereka, Qiara terikat janji dengan si cowok sakura. Perjanjian yang hanya disetujui sepihak oleh Diky. Hal itu membuat ubun-ubun Qia merasa meledak. Mau memprotes, Diky langsung ke luar tanpa salam penutup. Mau mengejar, tidak dapat izin oleh senior pendamping.

Melawan amarah itu melelahkan, pren. Wajar, Nabi bilang orang yang kuat itu orang yang bisa menahan marahnya.

"Nyesel, sih, gak. Makan hati, iya," jawabnya lemah. "Lagian, apa maunya, sih, tu si sakura? Perasaan salahku gak salah-salah amat, deh." Qiara menegakkan badannya teringat sikap Diky yang sangat menjengkelkan bagi gadis berdagu lancip itu.

"Sakura?" tanya Gita bingung.

"Saya kurang ramah."

Tawa Gita pecah mendengar jawaban Qia, "ada-ada aja, sih. Ya udah dong, Qi. Hadapi, hadapi, hadapi terus, hehehe ...."

"Gak lucu." Manyun Qia kembali merebahkan kepalanya di meja.

"Makan dulu, gih, sebelum pangeranmu datang menjemput." Gita mengeluarkan beberapa kue basah dan sebatang cokelat di hadapan Qia, lalu melanjutkan guyonannya, "pangeran sakura."

Tawa keduanya memecah kesunyian kelas. Baru saja menikmati segigit risoles, sayup terdengar langkah ringan dari arah pintu.

Wajah yang seharian ini hampir tiap jam mampir dihadapan Qia, belum lagi sikapnya yang seolah-olah teman kecilnya Gita itu mempunyai kesalahan yang tak termaafkan, membuat bibir Qia mencebik melihat sepasang sepatu melangkah ke arahnya.

Beda dengan Qia yang lanjut menikmati cemilannya, Gita malah bengong melihat seorang cowok berkulit eksotis masuk dengan senyum yang terlihat begitu memesona. Rasanya, baru kali ini lihat dia tersenyum cerah begitu.

"Segitunya lihat dia,"

"Eh, A, Abang," Gita gelagapan begitu sadar ternyata Gema masuk kemudian. "Biasa kok, Bang. Heran aja, itu senyumnya lebar amat." jelas Gita pada Gema yang sudah duduk di bangku depan meja Gita.

"Hai, Sista. Udah jadi korban, ya?"

"Hari raya korban masih lama," jawab Qia cuek, masih menikmati snack-nya.

Dua pasang mata yang tadi saling menatap, kini beralih ke arah Ari yang mulai mengacak-acak kantong kecil isi cemilan Gita dan Qia. Mengambilnya satu, dengan dua kali gigit tandaslah satu risoles.

"Kakak, mau ngapain ke sini?" tanya Qia yang akhirnya menatap wajah kakak nomor duanya dengan pandangan malas. Kebiasaan, tanpa izin langsung main makan saja. "Utangmu nambah tiga ribu, ya, Kak." lanjut Qia lagi.

Terdengar tawa tertahan dari bangku sebelah. "Dih, perhitungan amat. Ntar, Diky yang bayarin. Kuylah, doi udah nungguin lo."

"Mau aja, sih, disuruh-suruh. Lagian, maunya dia apa?"

Sekalipun Qia menggerutu, dia tetap mengikuti langkah Ari. Qia ini ... tipe anak yang tidak bisa berkata tidak, selagi itu dalam hal yang wajar. Apalagi, jika yang meminta atau menyuruh adalah dua kakaknya, dan satu teman.

"Sesuai titah sang ketua osis, hamba bawakan seseorang yang ketua inginkan."

"Lebay," Serempak Diky dan Qia merespon kalimat pembuka dari Ari saat sudah masuk ke dalam ruangan OSIS.

Diky yang tadinya sedang menulis laporan kegiatan, sedikit termangu saat mengangkat kepala mendapatkan tangan Ari yang merangkul pundak Qia. Sementara, Qia tampak begitu santai sekalipun ada tangan laki-laki bertengger di bahunya.

"Ehm, itu tangan enak banget kayaknya. Bisa dijelaskan?"

"Pprrrhh ...," tawa Ari hampir meledak jika tidak teringat bahwa di dalam ruangan ini tidak hanya ada mereka bertiga. Ari tahu betul, kalau sahabatnya ini jika sudah menyukai seorang cewek, tidak akan menutup-nutupi rasa tidak sukanya pada cowok yang berurusan dengan perempuan yang ditaksir.

"Gak ada yang perlu diperjelas, Bro. Mending, cepat selesaikan urusan kalian berdua. Gue nunggu di sini." Lanjut Ari disela tawa kecilnya, sambil mengambil posisi duduk tidak jauh dari meja Diky.

Diky mengalihkan tatapannya ke Qia yang sedari tadi menatapnya datar. Tidak ada binar-binar mata kagum yang ditunjukkan seperti siswi-siswi lain yang biasa ditunjukkan mereka pada dirinya dari jarak dekat. Dan itu, menjadikan Diky lebih tertantang membalas tatapan Qia.

"Gak usah terpesona begitu," Akhirnya Dikylah yang bersuara, tidak lain untuk menutupi kegugupan yang mulai melandanya.

"Dih, geer. Jadi, aku disuruh ngapain, nih?"

"Gak sopan. Ulangi kalimatnya."

Masih dengan tatapan datarnya, Qia mencoba mengulangi kata-katanya dengan nada suara yang diramah-ramahkan. "Aku harus ngerjain apa, Kak?"

"Nah, kalau gitu 'kan enak dengarnya. Duduk."

Qia duduk di bangku yang berhadapan dengan Diky. Mereka dibatasi sebuah meja yang penuh dengan kertas-kertas. Hingga lima menit kemudian, tidak ada perintah yang dititahkan Diky pada Qia, dan ini membuat gadis berhijab panjang ini hampir murka.

"Ini serius, aku disuruh duduk gini doang?"

Diky hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.

"Ish, gak jelas." Tanpa izin Qia beranjak dari tempat duduknya, hendak langsung ke luar.

"Makasih, ya, udah nemanin."

"Hah?"

"Gak. Sana, mau nunggu gue berubah pikiran?"

"Aneh."

●●●

Datar, yes. Menulisnya diantara suara riuh bocah dan mata mengantuk. Ntar aja di edit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji Nia

"Ingat ya, Nak, hati-hati dan jangan tergesa-gesa." Nasehat ini selalu disampaikan Mama saat Nia akan pergi sekolah. Nia, gadis kecil yang bersekolah di taman kanak-kanak itu, memang sedikit ceroboh. "Oke, Mama," jawab Nia semangat. "Jawaban yang bagus itu, Insyaallah, Sayang." "Eh, iya, lupa. Insyaallah, Mama." Nia memperbaiki jawabannya sesuai yang diingatkan Mama. "Nia berangkat dulu ya, Ma. Assalammualaikum," pamit Nia kemudian. Sesampai di sekolah, Nia melihat teman-temannya sedang berkumpul di belakang kelas. Nia penasaran, ada apa di sana? Kenapa teman-teman melihat ke dinding belakang? Nia pun berlari cepat ke arah teman-teman berkumpul, tetapi ia tidak melihat ada salah satu tas milik temannya tergeletak di lantai. Gadis berhijab kecil itu lupa akan pesan Mamanya. Tanpa memperhatikan langkahnya, Nia tersandung. Dia menubruk teman-temannya yang ternyata sedang melihat gambar yang baru saja ditempel guru di dinding be...

.sungai jambu.

apa yang terfikirkan oleh mu jika membaca judul HARAKA kali ini? kelamaan mikirnya, baca aja cerita HARAKA kali ini tentang "Desa ku yang Permai" hahaha... Sungai Jambu adalah sebuah nama nagari di Batu Sangkar. nagari ini terletak di pinggang gunung Marapi [ketinggian ±700 meter dari permukaan laut] , kecamatan Pariangan, Sumatera Barat. nagari yang sungguh menakjubkan, yakin de siapa pun yang pernah ke sana tak akan pernah bosan dengan alamnya, eksotis banget, Subhanallah sangat [terkagum-kagum]. Sungai Jambu termasuk nagari tertua di Sumatera Barat, dialiri oleh 3 batang sungai dan dilatar belakangi oleh Gunung Marapi . bagaimana zee bisa kenal dengan desa ini? jawabannya adalaaaaahh... taraaaaa... [dasar zee stres] itu kampung halaman zee, hehe... di desa ini mama tercinta dilahirkan dan dibesarkan. nah, bagi yang suka narsis, sampe capek silahkan berfutu-futu ria, tak kan pernah puas. zee aja setiap pulkam ga pernah puas berfutu-futu [ntah apa karna futu grafernya y...

Sampah Plastik (Anorganik) "ECOBRICK"

Apa kabar sampah di rumahmu? Bercampur baur dan penuh 😖 Dapat ide menulis tentang sampah plastik ini dari postingan teman maya. Anak beliau mendapat tugas dari sekolahnya, mengumpulkan sampah plastik yang sudah tidak ada sisa makanannya. Lalu, dimasukkan dan dipadatkan ke dalam botol minuman. Kepo dong, ya, itu untuk apa? Membaca salah satu komen, coba search ecobrick . Langsung cuss ke mbah gugel. Masyaallah ... ternyata daur ulang sampah plastik, bisa menjadi meja, lemari, kursi, bahkan tembok. Kalau di out door , bisa untuk menghias taman. Ecobrick berasal dari kata  ecology  yang berarti ekologi, dan  brick  yang berarti bata atau bisa disebut juga dengan bata ramah lingkungan. Ide ini pembuatannya dicetuskan oleh pasangan suami istri Russell Maier, pria asal Kanada dan Ani Himawati perempuan asal Indonesia yang memiliki rasa kepedulian sangat tinggi terhadap sejumlah negara berkembang, di Asia Tenggara khususnya, dalam menghadapi permasalah...