Aku memangku dagu dengan tangan kanan, sementara jari-jari tangan kiri menyentak-nyentak kecil di atas meja mini bar sebuah gerai makanan siap saji, menanti minuman segar yang telah kupesan tadi. Memperhatikan seorang pramusaji meracik sebuah minuman kekinian dengan lihai. Sesekali, mencuri lirikan ke arahku yang terpesona dengan gerakkannya. "Minuman ini bisa dibuat di rumah lho, Mbak. Gampang, dan rasanya gak kalah enak." "Oh ya? Mau ngasih tau caranya?" "Tergantung," Dahiku berkerut, "tergantung apa?" "Mbak, udah punya pacar, belum?" "Hah? Apa hubungannya?" Laki-laki itu hanya tersenyum sebagai jawaban, lalu mulai menunjukkan cara membuat minuman fresh drink itu, sambil terus menyiapkan pesananku. "Minuman saset chocolatos yang bungkus hitam, tau, Mbak? Untuk satu porsi, kasih 2. Larutkan dengan 10 sendok makan air panas," "Dikit amat?" "Kita butuhnya coklat kental. Kasih bat...
Ketika Kita Menjadi Kata