Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label KLIP

Aku dan KLIP

Tahun lalu aku mengenal Kelas Literasi Ibu Profesional, gabung ke grup facebook tapi tidak ikut menulis. Tidak mengerti caranya, pun kurang niat yang kuat kayaknya. Hehehe. Sekian bulan berlalu dari Januari, aku masih memantau FBG KLIP. Masih belum mengerti dan juga masih tidak mencari tahu lebih dalam. Hahaha. Akhir tahun, melihat penerimaan rapor. Lalu ada postingan pengumuman untuk KLIP tahun ini, membaca dengan semangat semua komen. Barulah tahu caranya. Jadi ingat, tahun lalu KLIP-kah namanya? Rasanya ... KLIP pernah pindah FBG, ya? Semangat menulis di Januari. Niat mendapat badge you're outstanding, tapi terhalang kesibukkan membersamai anak. Alhamdulillah masih bisa mendapat badge you're excellent. Badge tersebut bertahan hingga bulan Aprik apa Mei, ya? Jelasnya Juni aku hampir menyerah tidak mendapatkan badge. Alhamdulillah masih bisa terkejar. Puncaknya Juli, semua ide seperti menguap begitu saja. Hilang. Tidak setor sama sekali. Aku takut akan dikeluarkan dari WAG. Ak...

Tentang Dialog (Lagi)

Sebelumnya aku pernah menulis sedikit tentang dialog untuk kelas literasi dan bahasa WAG IP Padang. Kali ini, Ruang Ibu akan mengulang sedikit penjelasan tentang dialog untuk berbagi materi di WAG KLIP (pusat punya ini). Tentunya ada sedikit tambahan dari yang sebelumnya. Selain untuk berbagi materi, tulisan ini juga sebagai pengikat ilmu, serta mengasah kembali cara menulis dialog dalam sebuah tulisan fiksi. Singkat cerita, sudah berbulan-bulan aku tuh gak nulis fiksi (nyengir). Aku anak kemarin senja di dunia literasi mengartikan dialog seperti berbicara langsung, tatap muka, terlihat bibirnya bergerak, bahkan kecipratan hujan lokal #eh. Jika ngobrol langsung itu dituang ke dalam aksara, kalimat yang diucap itu diapit oleh tanda kutip dua (" "). Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan dalam menuliskan sebuah dialog? Utama perhatikan tanda baca . Tau dong, apa saja tanda baca? 1. Tanda petik dua (" ") ; wajib ada diawal dan diakhir kalimat dialog. 2. Titik ; digunak...

Writing for Healing : Insecure

Kamu tau posisi yang paling membuat seorang perempuan mudah baper, sensi, insecure, atau sejenisnya? Bukan posisi ehm, tapi posisi sebagai peran, yaitu sebagai seorang istri. Ini salah satu kisahku. "Zi, pindah duduk sana," perintah Uda saat ada tamu sedang datang berkunjung. Saat itu, kakak ipar baru melahirkan. Aku yang baru saja bergabung dengan keluarga ini, belum begitu banyak mengenal tradisi di sini. Jadi, ada istilahnya bagian atas dan bagian bawah rumah, padahal lantai rumah datar, tidak bertingkat. Bagian atas di sini maksudnya, arah pintu depan, sedangkan bagian bawah arah pintu ke belakang. Jika ada tamu yang disegani, seperti besan, maka mereka ditempatkan duduk di bagian atas. Jadi, ketika itu aku duduk di bagian atas saat besan Ibu datang menengok cucu. Aku yang tidak mengerti, disuruh pindah duduk merasa di usir, jadi memilih masuk ke kamar. Selepas para tamu pulang, si Uda masuk. "Kenapa malah masuk kamar?" tanyanya terlihat hati-hati. Mungkin, wakt...

Hijrah Rasa (5)

Sebelumnya → Hijrah Rasa (4) ◆◆◆ Hari pertama MOS, Qia berasa menjadi artis sinetron. Bertemu dua cowok cakep, berkharisma, tapi sakura. Satu lagi, cakep juga, receh, sedikit agresif, tapi ramah. Sekembali dari ruang OSIS, tujuan Qia hanya kembali ke kelas di mana soulfriend -nya berada. Kepalanya penuh dengan nasihat yang nanti akan dilontarkan ke pada sang teman, tak peduli nanti ada gege-gege itu. Namun, di tengah lorong, gadis yang sedang manyun karena masih kesal pada si ketos itu dicegat oleh Angga. "Sendirian aja, Neng?" Sapanya sengan senyum pepsodent. "Gak, sama bayangan." Jawaban Qia kenapa selalu ngasal, sih? Tawa Angga berderai seketika. "Maksudnya, kenapa gak sama Diky?" Qia tidak berniat sedikitpun untuk menghentikan langkahnya, sekalipun untuk sekedar berbasa-basi dengan senior itu. Maka, Angga terpaksa mensejajarkan langkahnya. "Kenapa harus sama dia?" Barulah Qia berhenti mendengar pertanyaan aneh dari Angga. M...

Drive (Jian dan Sofija)

Sofija ke luar dari ruang rawat Kim Xander dengan wajah yang merah padam. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Langkahnya sedikit menghentak-hentak tanpa disengaja. Ingin membanting pintu itu, namun dia masih menjaga wibawanya sebagai seorang putri raja. Kalau kata orang milenial, jaim. Langkahnya yang terburu-buru hingga Sofija melupakan seseorang yang sedang menantinya di luar ruangan tadi, bahkan selalu setia menantikan hatinya menuju pemuda itu. Sang Putri yang sedang dilanda rasa cemburu itu menghentikan langkahnya, tanpa berniat kembali menghadap ke belakang, dia berteriak lantang, "Jian! Jian!!" soraknya tidak sabar. "Hamba, tuan Putri, hamba." jawab Jian dengan wajah yang ... merana? Entah, yang jelas telapak tangan kanan pemuda itu berada di dada kirinya. Seperti menahan detakan yang kencang. Kening Sofija berkerut melihat wajah Jian, "Kamu, kenapa? Masih ada yang sakit?" Nada suara yang terdengar sedikit khawatir itu, membuat kedua ujun...

Karena KLIP

Dua malam ini, aku seolah tertampar oleh pemikiran sendiri yang dipicu karena perangai si Bungsu yang entah kenapa selalu lambat untuk tidur saat malam hari. Sementara, waktu setoran per hari di Klip adalah pukul 24.00, jam sinderela, istilah teman-teman bangku belakang di WAG Klip. Target bulan ini bagiku adalah badge you are outstanding . Alhamdulillah sampai semalam masih bisa mencapai badge tersebut. Walaunpun menyetor nyaris habis jam hari itu. Dua malam kemarin, demi mengejat badge tertinggi, aku uring-uringan pada si kecil. Padahal, dia belum mengerti apapun. Namanya anak kecil, memang susah untuk memejamkan mata. Tapi, karena tujuanku nyaris tidak tercapai, emosi negatif itu sempat meluap. Semalampun aku hampir menyerah untuk tidak menulis. Setelahnya, seolah ada yang mengingatkan, "Hanya untuk sebuah badge dalam menulis, kamu bela-belain, bahkan emosi pada anak. Sedangkan, untuk sebuah kebahagiaan yang hakiki, kamu cuek. Hanya sebatas niat." Astaghfirullah ...

Sabar Itu Bukan Hanya Diam

Menjadi muslim yang baru hijrah itu tidaklah mudah. Apalagi, lingkungan tidak mendukung agar diri lebih istiqomah. Didukung wajah tampan rupawan yang banyak godaan. Uhuk. Kenalkan, gue, eh, aku Ibrahim Satria. Di rumah dipanggil Baim, di luar bang Sat. Ck! Bagi lo, eh, kamu yang pernah baca cerita gue, eh, aku tentang mengejar nilai, pasti sudah tahu siapa gebetan hati. Tapi, belum tau nama gu, aku 'kan? Dih, belibet. Ini gegara si Ustadz kecil itu, tuh. Dia bilang, 'kalau mau jadi anak baik manggilnya pake aku-kamu, Om.' Eh, kenapa gue patuh sama bocah? Oke, kita gue lagi gak mau curhat tentang itu. Gue mau sharing . Jiah. Hari ini gue ngamuk di kampus. Bukan karena nilai, tapi ada yang berusaha jauhin Nilayya dari gue. Lebih tepatnya memfitnah. Nah, kata si Abang, ini salah satu cobaan dalam hijrah. 'Harusnya kamu lebih sabar. Menikmati paras elok perempuan yang bukan mahram, termasuk zina mata, lho.' Kalau gak salah itu namanya 'iffah (menjaga k...

Dewa 19 (Jian dan Sofija)

Sudah beberapa hari ini, Sofija tampak gelisah. Pasalnya, Jian tidak pernah tampak lagi semenjak dirinya secara tidak langsung menolak menikah dengan lelaki berwajah teduh itu. Salahnya memang, andai saja dia memintanya untuk menunggu beberapa saat. "Aaaahh! Menyebalkan. Makanya, dari dulu aku tidak mau berurusan dengan laki-laki. Ribet!" Kesalnya meninju-ninju guling. "Apanya yang ribet, tuan Putri?" tanya dayang Biyu yang baru masuk ke kamar Sofija. Tampak sepucuk surat di tangan wanita paruh baya itu. "Tidak ada, Biyu. Ribet meluruskan tali sarung guling yang entah kenapa jadi kusut." Sofija tampak sibuk menggulung, lalu mengulur tali sarung guling. Dayang Biyu yang tahu akan kepura-puraan sang Putri, terkekeh pelan sambil mengambil posisi duduk di dekat Sofija. "Talinya tampak baik-baik saja Putri. Hati yang sedang memegang talinya yang terlihat kusut." Senyum dayang Biyu melihat bibir tipis itu mengerucut. "Mungkin, surat ini ...

Yang Terlewatkan

Pengalaman hamil pertama jauh dari orang tua, membuatku gamang melangkah. Harus bagaimana? Harus apa? Namun, seiring waktu berputar, semua tetap terjalani walau banyak sesal yang tercetak di dalam hati. Salah satunya, hamil ke dua. Ada, mereka ada mengingatkan KB. Tapi, karena tamu itu tidak datang hingga bulan ke sembilan, menganggap tidak apa-apa. Alhasil, satu tahun umur si Sulung, saya positif hamil lagi. Bagaimana lagi? Ini rezeki, ya. Ini ketentuan-Nya, benar. Tapi, ini juga keteledoran kami. Si Sulung tidak full asi dua tahun. Sedih. Makin bersalah mengingat, (mungkin) selama satu tahun masa tumbuhnya jauh dari perhatian saya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang Ayah. Segala hal. Ketika adiknya tidur, saya sudah terlalu lelah, atau pekerjaan rumah sudah menunggu. Setiap hari tentu kami menghabiskan waktu bersama, hanya saja, bukan qualitu time . Perhatian ini rasanya terbagi banyak. Dan baru kini, saya rindu dirinya yang berumur satu tahun. Rindu sek...

Romantis yang Sesungguhnya

"Kamu ... mau 'kan jadi pacarku?" Seketika netra ini membola. Oksigen terasa habis, sulit bernafas. Jantung berdetak lebih cepat, di atas normal. Perut seperti terasa tergelitik, ada rasa yang membuncah. Lalu, pipi memanas, dua ujung bibir terangkat. Sejak hari itu, dunia terasa penuh warna. Hp tak berhenti berbunyi, selalu ada pemberitahuan entah itu pesan singkat, media sosial, atau telfon. Emosi negatif seolah jauh, yang ada hanya tawa dan senyuman. Kata kangen dan sayang, seperti multivitamin penyemangat hari. Selalu ada cerita di antara kita. Bahkan, saat mulut memilih diam, bukan karena kehabisan kata, tapi karena terlalu banyak kata yang akan terucap. Saling tatap, tersenyum malu, berakhir kata cinta. Rasanya ... ingin seperti itu, selamanya. Dulu. Sekarang. Sesal. Menyesal. Ingin kembali ke waktu itu, untuk tidak melakukannya. Sebab, semua tipu daya musuh manusia yang nyata. Dia menang, yang terkutuk itu menang! Aku benci! Tersu...

Penggemar Suamiku

Suamiku mempunyai fans , itu kenyataan. Bermula mereka bertemu di Payakumbuh, saling menatap, berakhir diajak ke rumah. Uda--suamiku--begitu memperhatikan mereka, wajahnya selalu tampak senang saat bertemu dengan penggemarnya itu. Begitupun sebaliknya, suara fans -nya selalu riuh terdengar saat bertatap muka dengan Uda. Makin lama, mereka semakin banyak, selain makanan mereka yang selalu disediakan Uda, rumah-rumah mereka sudah seperti komplek perumahan, mereka datang dari berbagai daerah. Tiap pagi dan petang, suara ribut akan terdengar di pintun depan. Mereka akan berteriak, dan mengejar Uda yang baru saja ke luar dari rumah. Selalu begitu. Jika Uda terlambat menemui mereka, di luar pintu depan rumah sudah terdengar bisikan ataupun pekikan. Bagiku, tak masalah, asal jangan disuruh langsung bertatap muka dengan mereka. Walaupun, ada saatnya Uda tidak bisa mengatur mereka sendiri, ya ... aku judesin saja. Astaga. Mereka sama sekali tidak menyenangkan bagiku. Anak-anak pun sanga...

Es Rumput Laut

Ramadhan kali ini, menjadikan kita merindu, sungguh rindu. Apalagi berjauhan dari orang tua. Tulisan kali ini bukan mengajak tamu ruang ibu baper karena keadaan, tapi mau berbagi resep es rumput laut mama yang terkenal sejagad keluarga karena gurih, gak bikin eneg karna manisnya. Singkat cerita, saya mencoba resep tersebut dengan bahan yang berbeda. Jika es rumput laut mama berisi memang buah-buahan (buah nangka, pokat, pepaya) dan rumput lautnya, maka mama junior yang sudah menjadi ibu ini mengkreasikannya sendiri. Dari es rumput laut mama menjadi es buah ibu. Muehehehe. Rasanya? Rasa es buah. Alhamdulillah tak mengecewakanlah. Berikut resepnya : Buah yang kira-kira nyambung dimakan dengan air santan. Kebetulan, kami sedang sedia pepaya, naga, dan pokat. Rumput lautnya, diganti dengan nutrijell cincau. Potong dadu semuanya. Untuk air, santan ambil putihnya saja. Masak hingga mendidih, matikan. Masukkan 1 gelas belimbing gula pasir (tidak terlalu penuh), tambahkan 1 sachet...

Mengejar Nilai

"Resek!" Sebuah buku melayang ke wajah gue. Lumayan. Bukannya kesal, gue malah terkekeh kena tempeleng. Geleng-geleng sendiri gue jadinya. Gue berani bertaruh, dalam hitungan ke tiga, tuh cewek pasti nengok lagi ke gue. Satu ... dua ... tiga .... Nah, 'kan dia kagak nengok. Kepedean. Anehnya, gue masih aja senyam-senyum gak jelas. Ck! Nih, hati gak lihat-lihat dulu kalau mau jatuh. Harusnya berembuk sama otak, mau gak, tuh cewek sama gue. Gue yang slengekan, kasar, penampilan seperti preman ... apalagi, ya? Jauh dari pacar idamanlah. Badboy kata ciwi-ciwi. Gue gak suka sebenarnya dijuluki itu, artinya aja aneh, laki-laki jelek. Udah jelas tampang gue setara Ramon J. Tungka. Gak percaya? Bagus ... karena percaya selain Allah itu dosa besar! "Hei, Bang Sat," Sapaan itu membuat senyum gue lenyap. "Ada apa?" To the point dan jutek. Gue bukannya gak tau, kalau ramah itu salah satu akhlak mulia. Terkhusus ni makhluk, gue pilih dosa-dosa si...

Belum Ada Judul

Tanpa Tuan Mahmed jawabpun, Jian bisa menebak apa yang akan atau mungkin sedang terjadi di bangunan berbatu banyak di sana. Batin Jian bergejolak, segera saja lelaki berbadan tegap itu meminta izin pada tuannya dengan alasan, ada sedikit keperluan. Langkah Jian begitu tergesa menuju istana. Hanya satu tujuannya, ingin mengetahui apakah sang raja, penyelamat hidupnya baik-baik saja? Tidak susah bagi Jian untuk memasuki istana megah tersebut. Lelaki santun itu sudah menjadi tangan kanan raja sekalipun tidak menetap di dalam istana. "Hamba ... hanya ingin hidup menjadi rakyat biasa, Baginda. Walaupun hamba tinggal di luar sana, hidup ini siap hamba pertaruhkan kepada engkau." Begitulah jawaban jumawa dari Jian, saat raja memintanya untuk menetap di dalam istana. Pikiran yang sedang berkelana, membuyarkan sedikit fokus Jian saat masih berlari-lari kecil menuju ruangan raja. Hampir saja pemuda itu menubruk seseorang yang juga hendak memasuki ruangan raja. Sigap, tangan ke...

Kurus, Bodo Amat

Ketika semua orang berlomba-lomba diet sehat untuk memperoleh berat badan yang ideal, tidak berlaku bagi Tia. Apapun, tanpa berpikirpun, selagi perut nerima, semua masuk ke dalam mulut berbibir sedikit tebal itu. "Makan banyak, tapi gak gemuk-gemuk." Komentar seperti itu jangan ditanya lagi, sudah seperti obat anti alergi oleh perempuan kutilang ini. Tenang, doi tidak akan marah aku bilang kutilang. "Nyatanya kayak gitu, gimana mau marah?" ungkapnya cuek. "Emang, mbak Tia gak pernah coba program menaikkan badan ideal?" Pernah kami sedikit kesal dengan gaya masa bodohnya dia terhadap komentar-komentar mulut yang tidak bertanggung jawab tentang badannya. Bagaimanapun, Tia itu sudah hampir lima tahun sepenanggungan bekerja sama dengan kami, aku dan Alia. Sejenak, Tia menghembuskan nafas lelahnya, " jangan ditanya Al, dari gue masih ingusan, emak gue udah ngasih vitamin penambah berat badan, vitamin pembuka selera makan, yang seperti itulah. B...

Jodoh

Pernah suka pada paras wajah cowok, ternyata orangnya sama? Aku pernah. Lima kali, orangnya dia lagi dia lagi. Pertama kali lihat wajahnya, saat pulang buka bareng yang diadakan tempat kursus. Saling melambaikan tangan ketika akan melangkah berbeda arah. "Pulang sama siapa, Dek?" tanya sesekakak, teman yang biasa jalan pulang bareng saat kursus selesai. "Sendiri, Kak. Kita bareng ke luar, ya." Ajakku. "Kakak dijemput," ujarnya lagi sambil menunjuk seorang laki-laki duduk di atas motor King dengan gaya kaki naik ke jok. Pandangan ini mengikuti arah tunjukkan sesekakak. Mata kami sempat beradu sekian detik, tanpa ada reaksi apapun dari wajahku atau dia. 'Cakep suami si Kakak' Waktu berlalu. Aku yang sedang menikmati angin taman kampus, melihat seseorang yang asik untuk dipandangi, sorot mataku sedikit terpaku saat dia berjalan ke arahku. 'Hah? Dia ke sini?' Otomatis, aku mundur duduk sedikit bersembunyi di balik punggung t...

Menjadi Ketua Kelas

Semenjak menduduki bangku sekolah, mulai dari taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan terakhir strata satu, akhirnya saya dapat amanah sebagai ketua kelas setelah menjadi seorang ibu di kelas literasi ibu profesional Padang. Kaget, sih, tidak. Deg-degan, iya. Belum tahu, apa dan bagaimana sistem memimpin sebuah kelas yang anggotanya tak pernah tampak muka, hanya tulisan. Bisa dibilang itu sebuah keuntungan, yang bila salah paling malu sendiri, hehehe. Alhamdulillah, tidak pernah salah. Ternyata, di sekolah ini--ibu profesional--semua guru semua murid. Jadi, disaat seseorang baru saja maju menjadi pengurus, akan ada tangan yang langsung membantu. Kepala yang selama ini selow tanpa berpikir mau apa dan mengapa--selain memikirkan masak dan kegiatan anak--terasah dengan adanya amanah. Pun, dengan kalimat yang keluar saat menyapa grup. Jadi semakin merasa bijak. Eaa. Sebuah pertemuan, akan ada perpisahan. Jadi, tanggal 22 Maret lalu, saya sebagai ketua kelas literasi ibu profesional Pa...

Me-review

Lama ingin belajar me-review buku. Cukup buku, kalau film mungkin nanti, saat kiddos gak nempel kayak prangko lagi. Nanti juga dicoba melihat kembali (baca : review) sebuah produk. Ini sekarang baru mau belajar. Belum pernah nulis. Jadi, mau mencatat dan menyimpan ilmu tentang me-review di sini. Me-review dalam bahasa Indonesia ; ulasan, atau komentar? Kira-kira seperti itu, ya. Hehehe. Kemarin tanya-tanya ke senior WaG KLIP, cara me-review buku : coba tulis apa bagusnya atau jeleknya apa yang bikin kita merekomendasikan film/ buku tersebut kalau boleh saran 3 poin ini : 1. yang disukai 2. yang ga disukai 3. plot cerita plot di akhir karena orang-orang toh bisa google sendiri bagaimana jalan ceritanya iya atau bahas karakternya bisa bahas penulisnya juga dan karya-karya sebelomnya, kan kemiripan cara mengakhiri ceritanya Sampai di sana, saya paham tapi belum juga mencoba untuk mereview. Hadehh. Kalau kita search di google, banyak. Namun, di sini, saya hanya ...

Sugesti

Beberapa hari lalu, di WaG Kamp Komunitas IP Padang, terselip percakapan tentang sugesti. Mulanya, ada yang bilang, "suka banget makan timun, sekilo bisa habis sendiri". "Katanya, makan banyak timun bisa keputihan, benar gak, sih?" tanya seseibu beranak tiga. Saya maksudnya, muehehehe. Dari dua orang bunda yang menyukai mentimun, memiliki dua jawaban yang berbeda. "Sepertinya itu sugesti diri aja, ya?" Begitu lanjutan percakapannya. Dalam hati, "masa, sih?" Ternyata ... salah dua-duanya, keputihan bukan karena banyak makan mentimun, juga bukan karena sugesti diri. Jadi, Girls , keputihan itu penyebabnya bukan dari makanan. Saya baca dari hellosehat.com Terus, keputihan itu karena apa? Searching sendiri yak, karena tema kali ini tentang sugesti. Percakapan pun berlanjut, kalau sedang haid, keramas, haid akan berhenti, itu juga sugesti. "Aku, gak." "Aku, iya." "Sugesti diri juga mungkin, ya?" D...

Sepuluh Hari Terakhir

Semburat mentari pagi mewarnai bumi. Tidak terasa, Ramadhan akan segera pergi. Ayu, si gadis kecil yang periang sudah berniat dari awal Ramadhan, kalau puasanya akan penuh di sepuluh hari terakhir ini. Walaupun, di hari-hari sebelumnya banyak juga yang hanya sampai siang hari. "Ternyata, makin dekat hari raya, puasa makin terasa berat." keluh Ayu saat jam istirahat. Ayu memilih duduk di kelas saja, tampak beberapa orang teman mengeluarkan bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah. Ayu memalingkan wajah ke arah yang lain, berharap tidak tergoda ingin menyicip kue teman-temannya. Perut Ayu terasa memanas. Memang, saat sahur tadi, Ayu terlambat bangun. Malas sekali untuk bangun sahur, alhasil, Ayu masih makan saat azan berkumandang. Kata Bunda, 'gak apa-apa, selesaikan aja makannya. Rasulullah pernah bersabda kalau kita sedang sahur, lalu terdengar azan, maka selesaikan dulu makannya. Hmm ... Ayu lupa apa sabda yang dibilang bunda tadi, ingatnya HR Abu Dawud aja'. ...