Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiksi

Jeruk Utrujah dan Rumput Hanzhalah

"Baiklah, kita lanjutkan bacaan Quran pekan lalu. Silahkan." Hafsha mempersilahkan seorang mahasiswa yang duduk di sudut depan sebelah kanan untuk mulai membaca Kalam Illahi. "Saya membaca sambil lihat Ibuk, ya?" candanya khas mahasiswa playboy . Hafsha yang sudah memahami tingkah laku anak didiknya membalas dengan senyum kecil, "Kalau kamu baca Quran karena saya, kamu tidak akan mendapat apa-apa. Pilih mana?" "Pilih dapat pahala dong, Buk. Tapi kalau bisa dapat dua duanya, kenapa nggak?" cengir mahasiswa tadi sampil melempar pandangan ceria ke arah teman-temannya. Sorak riuh terdengar dari segala penjuru kelas. Inilah salah satu resiko menjadi dosen teknik yang sering dihadapi Hafsha. Menghadapi tingkah pola pelajar yang didominasi para lelaki beranjak dewasa, perempuan yang masih betah sendiri ini harus memperkuat mental apalagi iman. Hafsha mengangkat tangan kanannya, seketika suara ribut tadi hilang. Tidak lama kemudian terdengar lantunan aya...

Reuni (POV Dezia)

Aku mengatakannya sebagai preman kampus tapi dia dikenal sebagai kapten. Rambut panjang sebahu, wajahnya seroman rambo, sangar tapi tampan. Tidak ada yang tidak mengenalnya, bahkan angkatan setelah dia lulus. Kata teman perempuannya sikap kapten Gema itu membuai tapi bangsat. Kata teman laki-lakinya Gema itu teman yang asik disegala suasana. Maka tak heran saat ini semua mata tertuju padanya yang berjenggot dan bercelana cingkrang, juga aku yang berniqab. Semua orang seakan tidak percaya pada apa yang dilihatnya. "Wess ... akhirnya Kapten kita hadir juga." Sapaan dari arah barat menghentikan langkah kami. Genggaman di tanganku terasa semakin erat saat langkah dibimbing Bang Gema ke arah panggilan tadi. Aku mengenal mereka sebagai teman dekat Abang selama kuliahnya. Sama-sama salah jalan. Dulu. Sindiran dan tawa menjadi pembuka saat kami sampai di sana. Beberapa kali tertangkap Abang melirik ke arahku. Aku tahu dia khawatir, aku bahkan lebih mengkhawatirkan hati kusendiri. Deg...

Reuni

Semua mata terpana melihat kedatangan kami. Ada yang terang-terangan menatap, ada juga yang hanya melirik tapi kuyakin begitu besar keingin-tahuannya. Kepo kata anak-anak sekarang. Jauh hari semenjak kumemutuskan hadir di acara reuni akbar kampus oren kali ini, mental telah kupersiapkan. Sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing, aku lebih mengkhawatirkan hati yang jemarinya sedang kugenggam. Istriku. "Wuesss ... Kapten kita akhirnya hadir," Sapaan yang melengking dari arah barat menghentikan langkah kami. Kuarahkan langkah ke sekumpulan lelaki dewasa dan juga beberapa perempuan seangkatanku. Terpaksa Dezia kubawa menemui mereka. Tadinya perempuan yang kusunting delapan tahun yang lalu ini akan kuantar ke tempat berkumpulnya teman-teman dia. "Apa kabar, Bro. Sibuk banget sampai gak pernah ngumpul lagi." Tangan Rizal kusambut erat. Ada sepercik rasa rindu untuk mereka. Bagaimana tidak. Hampir empat tahun suka duka kuliah kami lewati. Saat senang, sakit, bahkan terpur...

Tugas Workshop Menulis Fiksi

Bertanya tentang motivasi menulis bagiku, awalnya sebagai self healing. Lalu menulis untuk menyalurkan halu agar tidak menjadi pengandaian yang entah-entah. Halah. Kemudian baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan #eh. Motivasiku menulis tidak terlalu kuat tapi tetap ingin terus dan selalu menulis. Motivasi internal sepertinya. Sedangkan motivasi eksternal, siapa sih yang tak menginginkan income? Tetapi ini tidak mendesak bagiku. Sama seperti mbak Erna, aku bergabung di beberapa komunitas literasi agar tetap konsisten menulis. Mengikuti event-event menulis yang diadakan oleh penerbit-penerbit indie ataupun penulis-penulis yang jam terbangnya sudah tinggi. Sekalipun give away, jika hadiahnya oke menurutku, ya nulis. Namun yang membuat aku lebih konsisten menulis adalah berada di KLIP, di sana ada keinginan kuat agar tidak keluar dari grup terutama grup WA . Walaupun yang ditulis tidak melulu fiksi. ▲▼▲ Aku tipe pantser. Apa yang terlintas di kepala, tulis. Apa yang terasa di hati,...

Cerita Terkejut By : Uni Hafshah

Penulis : Ibu Pulang sekolah Hafshah bercerita serius pada Uda. Uda pun mendengarkan dengan seksama. Ibu menyimak pura-pura bermain hp. Cerita Uni ini mengandung thriller dan comedy. Begini ceritanya. Seorang ibu ingin berbelanja, entah mau belanja apa tapi tidak mempunyai uang. (Ini teringat ibu ya, Nak? Hahaha). Saat itu, sang papa sedang tidak di rumah, katanya pergi ke pasar. Maka ibu itu mengambil uang si papa. (Tapi ini bukan ibu, ya!). Ternyata saat si ibu mengambil uang, si papa sudah pulang dan ibu tidak mengetahuinya. Lalu papa diam-diam mendekati ibu dan mengejutkannya. Si ibu sangat terkejut dan langsung berlari ke arah dapur. Ingin bersembunyi dari papa yang mengejarnya. Akhirnya ibu memilih bersembunyi di kulkas atas. (Maksud Uni kulkas atas adalah freezer. "Memang muat di freezer?" tanya si Uda, "freezernya besar", jawab Hafshah lagi). Semua kehilangan ibu awalnya. Setelah dicari-cari, ibu ditemukan membeku di dalam kulkas atas. Anak ibu dan papa ini ...

Bapisah Bukannyo Bacarai

Itu pantun Minang punya. Saat di sekolah menengah dulu, aku punya teman dari Lampung. Berkulit eksotis, tinggi tegap, murah senyum. Bernama Tomi. Aku bukan murid yang gampang berkenalan dengan murid baru. Apalagi posisi duduk yang jauh, menjadikan kami--aku dan Tomi--jarang berinteraksi. Aku berada di kelompok meja dinding sebelah kiri, dia di kelompok meja dinding sebelah kanan. Tengah-tengah ada dinding tak kasat mata. Abaikan. Hampir sebulan setelah datangnya anak baru, aku sama sekali tidak menyapanya. Tidak ada keperluan juga. Hingga satu hari aku sedang menekuri pelajaran yang dijelaskan guru di papan tulis, dia tertangkap basah sedang menatapku saat mata beralih dari papan tulis ke buku catatan. Sepekan lamanya aku sering mendapati dia sedang melihatku. Terang-terangan bahkan setelah aku menatap balik. Aku mulai risih. Juga geer. Pada akhirnya, waktu jam istirahat, dia datang menghampiri dengan senyum kecil yang membuat jantungku bertalu-talu. Dia mau ngapain? Apa dia naksir aku...

Fiksi Mini

Aku ingin menjadi penulis terkenal, yang setiap tulisannya disukai para pembaca. Tidak hanya sekedar pujian pada tulisanku, aku bertekad diriku pun disanjung. Maka aku bergabung ke semua grup kepenulisan online, bahkan mencakup literasi. Setiap tulisan anggota grup kubaca, kupelajari, lalu kulatih menulis dengan tema yang sama. Bangun tidur, siang hari, senja, bahkan mata hampir terlelap kuberusaha untuk selalu merangkai aksara. Tulisan yang kupos di setiap akun media sosial mulai mendapatkan respon yang heboh dari teman-teman sesama penulis. Tidak hanya mem publish tulisan, kumenyempatkan diri untuk memberi jejak pada tulisan teman-teman. Memberi react atau komentar yang tentu tujuanku agar dikenal. Setahun kemudian. Keinginanku tercapai. Memiliki tulisan yang disukai para pembaca, pun diri yang selalu disanjung mereka. Namun hatiku masih belum merasa puas, karena setiap postinganku belum mencapai react atau komentar ribuan, seperti para penulis yang hanya curhat itu. Aku semakin s...
 Vinda, gadis kota yang berperawakkan tinggi dengan tubuh melebihi langsing. Jangan bilang kurus, dia tidak menyukainya. Sederhana, tidak cantik tapi manis, begitu orang banyak bilang. Terlahir di kota besar tidak mempengaruhi sikapnya yang polos. Selain karena mempunyai tampang yang pas-pasan, Vinda memang sedikit pemilih terhadap laki-laki. Jangan salahkan Vinda, hatinya yang menginginkan demikian. Gadis berambut ikal ini cenderung menyukai lelaki yang memang memiliki paras rupawan. Sayangnya semasa sekolah berseragam, laki-laki impiannya tidak sekalipun melirik pada Vinda. Sebaliknya, yang banyak menggoda gadis pemalu itu malahan mereka yang ingin dijauhinya. Sombong? Tidak. Vinda hanya menginginkan yang enak dipandang. Pada akhirnya dia menang banyak saat duduk di bangku perkuliahan. Seiring berjalannya waktu, wajah yang dulu pas-pasan, kini terlihat matang. Betapa mekarnya hati gadis berusia akhir belasan itu. Beberapa laki-laki berwajah tampan sekaligus mendekatinya. Semua aj...

Kubegitu Sempurna

"Kamu ... Melsy?" Sepasang mata itu terlihat terkejut juga kecewa, pun dengan suara yang terdengar ragu. Sekalipun tampak ditutup-tutupi. Bukan pertama kali Melsy mendapati ekspresi semacam itu saat diajak bertemu tatap muka dengan teman dunia mayanya. Tetap saja ada sepercik rasa insecure yang akan dibalas dengan senyum kecilnya yang kaku. Sudah bisa ditebak, setelah ini Melsy tak akan lagi dihubungi. Bahkan interaksi di dunia maya mereka akan berkurang. Sepicik itu memang hati manusia, hanya memandang wajah. Walaupun tidak semua. ▲▼▲ Kubegitu sempurna Di matamu kubegitu indah Kumembuat dirimu, akan s'lalu memujaku Disetiap langkahmu, kau 'kan s'lalu memikirkan diriku ... Melsy tersenyum samar, merasa puas mendapat sekian ribu emoticon tawa dan jempol di status facebooknya. Kolom komentarnya pun banjir oleh kata-kata canda dan pujian, tanpa cacian. "Bolehlah liriknya diganti gitu, orang cantik mah bebas." Satu komentar membuat Melsy tertegun. "Ja...

Noni

 Suasana Idul Adha masih terasa walau 11 Dzulhijah telah berlalu. Setelah tadi pagi dilakukan kurban di lapangan bola, malam ini kami sekeluarga memasak sate di halaman belakang rumah. Aku mengajak Noni dan Ismail, mengingat mereka hanya bertiga ada di kampung ini. "Fi, tolong minta tempurung kelapa ke warung Buled, ya. Tidak cukup sepertinya ini," pinta Ibu saat aku dan Noni memasukkan daging ke tangkai sate. Warung Buled berada di depan kediaman Noni yang hanya berjarak satu rumah dari rumahku. Saat langkah mengarah ke warung itu, tampak Pak Ibrahim—ayahnya Noni—keluar rumah membawa golok yang sedikit besar.  "Papa mau ke mana? Kenapa bawa golok?" tanya Noni heran. "Hmm ... Papa dapat sedikit kerjaan, mungkin akan pulang larut," jawab Pak Ibrahim sedikit ragu, lalu beliau menatapku. Mata itu tampak sedikit kalut. Bola matanya melihat ke segala arah sekalipun beliau mencoba menutup dengan topi yang dikenakannya. "Nak Sofi, jika boleh, Noni dan Ismail...

Mengosongkan Lemari

Sudah lama aku mendengar tentang Marie Kondo. Pencetus berbenah simpel pakaian, benar 'kan? Atau juga berbenah rumah? Ah, aku tidak terlalu perhatian dengan ajarannya, juga tidak hobi beres-beres. Namun, kemarin aku membaca artikel pendek yang menggerakkan hati untuk mengeliminasi barang-barang di rumah ini. Istilahnya decluttering , itu aku nyontek mengetiknya. Kata Marie Kondo dalam artikel itu, decluttering ini bisa membuat kita lebih bahagia dengan menghargai benda-benda yang ada di rumah. Kurang yakin, sih. Tetapi penasaran ingin mencoba, secara rumah ini kok, terasa semakin sempit, ya? Maka, hari ini, aku bertekad ingin mengosongkan rumah. Ya ... gak kosong-kosong amat. Katanya, mulai dari lemari pakaian. Di kamar cuma ada satu lemari, tapi mempunyai empat pintu yang cukup lebar. Perlahan, kubuka pintu pertama. Kok, deg-degan, ya? Saat pintu satu terbuka, tampaklah tumpukkan pakaian berwarna-warni. Sesuai petunjuk artikel, pandangilah. Padat, tidak rapi tapi tidak berantakka...

Memang Jodoh

 "Buk, ini saya gak bisa ganti dengan tim lain?" Aku segera menemui Bu Yani--ketua jurusan--setelah menerima surat tugas penelitian dari dekanat. Bukan keberatan karena tugas penelitiannya, tapi karena aku setim--lagi--dengan makhluk yang harus kuhindari. Bukan karena belum move on, tapi ... ah, nantilah aku ceritakan. "Sebentar," Bu Yani mengangkat tangannya menegaskan aku perlu bersabar jika ingin tahu jawaban beliau. Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ketukkan pintu. Tanpa menunggu jawaban dipersilahkan masuk, si tamu langsung saja membuka pintu dan duduk di sebelahku. Aku melepas nafas, 'cape deh!' "Ini memang rencana saya. Menyatukan kalian kembali dalam satu tim penelitian. Selain karena potensi kalian, juga saya ingin kalian tetap akur. Sudah berapa tahun kalian tidak saling sapa?" "Saya sih, nyapa, Buk. Dianya aja yang jual mahal." Jawaban dari Arya membuatku memutar mata. "Bagaimana, Shi?" Bu Yani menautkan jemariny...

Belum Tau Judul

 "Buk, ini saya gak bisa ganti dengan tim lain?" Aku segera menemui Bu Yani--ketua jurusan--setelah menerima surat tugas penelitian dari dekanat. Bukan keberatan karena tugas penelitiannya, tapi karena aku setim--lagi--dengan makhluk yang harus kuhindari. Bukan karena belum move on, tapi ... ah, nantilah aku ceritakan. "Sebentar," Bu Yani mengangkat tangannya menegaskan aku perlu bersabar jika ingin tahu jawaban beliau. Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ketukkan pintu. Tanpa menunggu jawaban dipersilahkan masuk, si tamu langsung saja membuka pintu dan duduk di sebelahku. Aku melepas nafas, 'cape deh!' "Ini memang rencana saya. Menyatukan kalian kembali dalam satu tim penelitian. Selain karena potensi kalian, juga saya ingin kalian tetap akur. Sudah berapa tahun kalian tidak saling sapa?" "Saya sih, nyapa, Buk. Dianya aja yang jual mahal." Jawaban dari Arya membuatku memutar mata. "Bagaimana, Shi?" Bu Yani menautkan jemariny...

Sahabat

Kamu punya sahabat seperti apa, sih? Aku punya teman dekat, yang tidak mau dibilang sahabat, tapi dia tahu semua tentangku, keluargaku, bahkan perasaanku. Pun sebaliknya. Bedanya, dia mengingat setiap rinci silsilah keluargaku, juga teman-temanku dari masa putih merah. Mungkin juga taman kanak-kanak. Sedangkan aku, hanya mengingat keluarga intinya saja. Jangankan teman-teman lamanya, pacar barunya saja, aku sering lupa wajahnya. "Eh, Cheng. Rasa-rasanya, aku pernah ketemu sama dia, deh," ujarku sesaat sampai di kosannya. Tadi, di jalan menuju kosannya, kami bertemu cowok pakai motor. Dianya baru akan berangkat ke kampus, sedangkan kami baru selesai dua sks perkuliahan. "Astoge Chiiing, dia itu 'kan cowok aku yang baru! Baru juga seminggu yang lalu aku kenalin, masak lupa, sih? Ish!" gemasnya. "Awas kalau lupa lagi. Parahnya ntar, kamu naksir lagi," lanjutnya masih sewot. Muehehehe. Aku memang sepelupa itu pada wajah orang. "Tenang, tipe kita beda....

Flashfiction ; Maaf

 "Kamu ... bersedia 'kan menikah denganku?" Aku mengulang kembali pertanyaan yang sama ketika dia tidak juga menjawab. Semua mata yang ada di dalam ruangan itu tertuju padanya. Matanya kembali mengerjap pelan, dari gestur tubuhnya, semua orang pun tahu kalau dia gelisah. Kenapa dia jadi meragu kembali? Padahal, tadi pagi jelas dia sudah jawab lamaranku. Jari jemarinya saling bertaut dan meremas, kakinya pun bergerak tidak menentu. Lalu, tangannya bergerak mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Dia kenapa? Sebegitu gugupkah dihadapan para orang tua kami? "De ... jawab," teguran dari Mama perempuan yang sudah mencuri perhatianku setahun belakangan ini memecah keheningan. "Maaf, aku harus ke belakang." ◀▶ Akhir-akhir ini, aku sering dapat teror dari ... katakanlah teman tapi mesra saat kuliah dulu. Namun, pertemanan kami berakhir konflik. Sedikit menurutku. Berawal dia mengirimiku dirrect message di akun instagram. Sekedar say hallo, ya kubalas de...

Mengejar Nilayya

 "Kalau sudah, saya masih ada pekerjaan. Jangan macam-macam kamu sama Ayya!" Keluar dari ruangan Pak YY gue memberi hak tubuh di kafe. Gue anggap yang tadi lampu kuning dari Pak YY. Ya ... walaupun abis itu dapat ancaman, sih. No problem-lah. "Bang Sat!" Tepukkan yang sedikit keras di bahu, menunda suapan terakhir gue. Bukan karena siapa yang menyapa, tapi gue neg dipanggil gitu. Setelah gue lihat siapa pelakunya, nafsu makan gue amblas. "Keren kamu, ya. Memanfaatkan tenaga dalam biar lulus. Lagak sih, cowok alim, ternyata munafik juga." Trang!! Bunyi sendok beradu keras dengan piring mengalihkan perhatian pengunjung kafe. Baik gue ataupun Ria, tidak ambil peduli dengan tatapan-tatapan kepo. Senyum culas diberikan cewek resek itu saat gue menatapnya setajam Fany Rose, eh silet. "Sayangnya, usaha kamu cuma sampai di nilai lulus. Gak sampai di nilayy-a," lanjutnya sambil menunjuk ke arah taman fakultas yang tidak jauh dari kafe. Masih dengan mata y...

Sekecup

Benar kata Sheila on 7, bahwa sebuah kecupan darimu cukup menyemangatiku untuk awali hari. Hariku terasa indah, meski akan ada segunung pekerjaan yang sama dengan hari kemarin. Jiwaku terasa lapang, meski ada tangisan bergantian dari bibir-bibir imut. Ragaku terasa tangguh, meski harus mengelilingi rumah entah berapa kali putaran. Karena sebuah kecupan itu juga, tawa hangat bahagia dari kaki-kaki kecil itu lantang terdengar sepanjang hari. Adab dan ilmu terasa begitu mudah berpindah pada anak-anak. Semua karena kau memberi dopping spesial pada hatiku. Hanya karena satu kecupan tadi, makanan kecil terhidang menanti kepulanganmu. Begitupun makanan kesukaanmu yang siap untuk disantap. Tak ada rumah bak kapal pecah. Bersih, rapi dan wangi. Jangan tanya bagaimana perjuanganku mempertahankan keadaan rumah, hingga engkau bisa menikmatinya barang sejenak. Setidaknya hingga lelahmu lepas. Jangan tanya, karena kuyakin, kau takkan mendengar ceritaku. Tak masalah bagiku kau sering enggan mendengar...

Berkarya Tidak Harus Terkenal

Karena Islam begitu memuliakan perempuan, maka ada banyak aturan untuk makhluk Allah yang unik ini. Namun, semua tidak akan menghambat seorang perempuan untuk tetap berkarya sesuai kebahagiaannya. *** Sudah hampir 30 menit aku duduk tertunduk di hadapan Ayah. Tanpa sepatah kata pun dari Beliau. Aku juga tidak berani menyuarakan kata hati. Hanya ujung hijab yang telah remuk, habis kupelintir. "Mau sampai kapan diam-diaman seperti itu?" Akhirnya, Ibulah yang memecah keheningan. Aku melirik Ibu yang duduk di sebelah Ayah. Sedari tadi Ayah hanya memandangku, menarik nafas panjang, lalu melepaskan cepat. "Salah Khayla dimana, Yah?" Karena Ibu sudah datang menengahi, aku pun menjadi berani bersuara. "Gak ada," jawabnya lemah. Seketika kepalaku menegak dan menatap Ayah tidak percaya, penuh tanda tanya. "Ayamu gengsi mau meluk," kelakar Ibu semakin mencairkan suasana. "Benar, Yah?" tanyaku semakin tidak percaya. Kedua tangan Ayah terbentang mem...

Papila

  "Wah, nemu di mana, Dek?" Bang Faris baru saja pulang sekolah. Tampak Hamzah duduk di teras rumah sendirian. Di pangkuannya ada seekor kucing kecil berwarna kuning dan putih. "Di lapangan, Bang. Kasihan, deh," jawab Hamzah sambil mengelus-elus kucing kecil di pangkuannya. "Mengeong-ngeong terus tadi. Makanya aku bawa," lanjut Hamzah. "Udah izin Mama belum?" tanya Bang Faris lagi. Hamzah menggeleng lemah. Mama kurang menyukai ada binatang di rumah. Kata mama, nanti rumah jadi bau, karena kotorannya. Padahal, Hamzah suka sekali dengan kucing, lucu, sih. "Apa itu, Dek?" tanya Mama yang tiba-tiba keluar rumah. Hamzah langsung berdiri terkejut. Lalu, menyembunyikan kucing di belakang punggungnya. Hamzah takut, kalau mama menyuruh membuang kucing itu. "Kucing, Ma." Yang jawab adalah Bang Faris. "Hamzah janji bersihin kotorannya, Ma. Jangan disuruh buang, ya, Ma," pinta Hamzah memelas. Mama hanya diam. Melihat janji dan k...

Layang - Layang

Hari ini, ayah akan mengajak Uda dan Uni bermain di lapangan. "Asiiik. Kita mau main bola ya, Yah?" tanya Uda. "Main sepeda aja 'kan, Yah?" tanya Uni tidak kalah girangnya. "Tidak dua-duanya," jawab Ayah sambil tersenyum. Tawa Uda dan Uni menghilang mendengar jawaban sang Ayah. "Tapi, kita akan main layang-layang!" sorak Ayah lagi. "Yeaayyy!" Uda dan Uni kembali berteriak senang. Lalu tidak sabar mengajak Ayah langsung ke lapangan. "Sabar, Nak. Kita buat dulu layang-layangnya." "Memang Ayah bisa buatnya?" tanya Uda sambil memperhatikan Ayah memilah-milah bambu. "Bisa, dong. Tunggu, ya." Uda dan Uni duduk melihat Ayah yang mulai merakit beberapa buluh untuk dijadikan kerangka layangan. Hati-hati Ayah mengikat satu per satu buluh agar membentuk sebuah layangan. Namun, karena Ayah terlalu erat menarik benang untuk mengikat, tiba-tiba benang itu putus dan rangka layangan yang hampir selesai itu lepas. Berse...