Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Suami-istri

Sekecup

Benar kata Sheila on 7, bahwa sebuah kecupan darimu cukup menyemangatiku untuk awali hari. Hariku terasa indah, meski akan ada segunung pekerjaan yang sama dengan hari kemarin. Jiwaku terasa lapang, meski ada tangisan bergantian dari bibir-bibir imut. Ragaku terasa tangguh, meski harus mengelilingi rumah entah berapa kali putaran. Karena sebuah kecupan itu juga, tawa hangat bahagia dari kaki-kaki kecil itu lantang terdengar sepanjang hari. Adab dan ilmu terasa begitu mudah berpindah pada anak-anak. Semua karena kau memberi dopping spesial pada hatiku. Hanya karena satu kecupan tadi, makanan kecil terhidang menanti kepulanganmu. Begitupun makanan kesukaanmu yang siap untuk disantap. Tak ada rumah bak kapal pecah. Bersih, rapi dan wangi. Jangan tanya bagaimana perjuanganku mempertahankan keadaan rumah, hingga engkau bisa menikmatinya barang sejenak. Setidaknya hingga lelahmu lepas. Jangan tanya, karena kuyakin, kau takkan mendengar ceritaku. Tak masalah bagiku kau sering enggan mendengar...

Berkarya Tidak Harus Terkenal

Karena Islam begitu memuliakan perempuan, maka ada banyak aturan untuk makhluk Allah yang unik ini. Namun, semua tidak akan menghambat seorang perempuan untuk tetap berkarya sesuai kebahagiaannya. *** Sudah hampir 30 menit aku duduk tertunduk di hadapan Ayah. Tanpa sepatah kata pun dari Beliau. Aku juga tidak berani menyuarakan kata hati. Hanya ujung hijab yang telah remuk, habis kupelintir. "Mau sampai kapan diam-diaman seperti itu?" Akhirnya, Ibulah yang memecah keheningan. Aku melirik Ibu yang duduk di sebelah Ayah. Sedari tadi Ayah hanya memandangku, menarik nafas panjang, lalu melepaskan cepat. "Salah Khayla dimana, Yah?" Karena Ibu sudah datang menengahi, aku pun menjadi berani bersuara. "Gak ada," jawabnya lemah. Seketika kepalaku menegak dan menatap Ayah tidak percaya, penuh tanda tanya. "Ayamu gengsi mau meluk," kelakar Ibu semakin mencairkan suasana. "Benar, Yah?" tanyaku semakin tidak percaya. Kedua tangan Ayah terbentang mem...

Shalat Yuk, Nak

Akhirnya Ibu berada di fase ini. Fase menyuruh anak shalat, fase buju-membujuk agar mereka mulai membiasakan shalat, fase menahan emosi karena mereka tidak mau menuruti perintah shalat, lalu aku lelah, membiarkan mereka tak shalat. Lalu, menenangkan diri, "Tak apa, Hasyim masih enam setengah". Dan hati tak henti berdoa agar dimudahkan agar mereka mau melaksanakan shalat tanpa paksaan.  Berbagai cerita dan bujukkan rasanya telah berbuih mulut menghaturkannya. Dahsyat memang bisikkan musuh manusia yang paling nyata itu. Dulunya yang tanpa kita ajak, melihat kita akan shalat mereka mengikuti. Kini saat mereka mulai harus diajarkan shalat ... menyumpahi setan gak dosa 'kan? Ajarkan anak shalat saat mereka berusia tujuh tahun. Usia sepuluh tahun, jika mereka tidak mengerjakannya, boleh dipukul. Begitu 'kan kata Nabi ﷺ ? Hal ini sudah diceritakan pada si Uda. Dia diam. Oke, katanya perlu di sounding terus. "Kita itu hidup untuk shalat, Nak." "Kalau tidak shal...

Sulitnya Merubah Kebiasaan

"Bu ... nonton," "Yah ... boleh nonton, ya ...." Rengekan Uda dan Uni seperti ini hampir setiap hari saya terima usai Ramadhan. Padahal, sebelum puasa, screen time mereka hanya Sabtu dan Ahad, itupun cuma 30 menit. Tahun ini, tahun ke dua Uda belajar puasa. Jika cerita para tetua, tahun ke dua anak belajar puasa tidak sesulit tahun pertama. Nyatanya, tidak berlaku bagi Ibu 3H. Rasanya, makin geregetan dari tahun kemarin. Jika tahun kemarin akan dibawa keliling-keliling nagari oleh Ayah, kali ini, karena PSBB, gimana mau ke luar rumah? Main di halaman rumah saja, harus mikir dua kali. Jadilah, menonton jadi cara pembujukkan. Saat puasa, tahukan jam berapa perut terasa lapar? Jam 10-an, jam 2-an, lalu sebelum berbuka, ditambah saat sahur agar mau bangun. Itulah yang terjadi selama Ramadhan. Saya angkat tangan. Sama sekali tidak bisa membujuk Uda agar lebih sabar. Apalagi, Uni dan si Adik tidak puasa, juga saya. Mau tidak mau, Ayah harus standby...

Let's Read Loudly

Breeet. Kepala ini langsung menoleh ke bunyi kertas yang baru saja dirobek. Sementara, pelaku dengan mata bening berwajah polos itu memandangku dengan raut cemas. Hal ini bukan pertama kalinya terjadi, terbukti buku-buku full colour itu sudah diperban di mana-mana. Dulu, pertama-tama mulai koleksi buku anak, sedikit histeris jika ada kejadian robek-merobek. Mungkin itu juga, yang membuat Hasyim jadi tidak mau menyentuh buku mulanya. Padahal, saya sengaja menghadirkan buku-buku di sekitar tempatnya bermain . Beberapa hari, masih saja Hasyim tidak tertarik. Saya menambah tumpukkan buku, bahkan sedikit membiarkan berantakkan di dekat dia bermain. Ternyata, sama saja, tetap tak peduli. Jadi, Moms , tak apa buku-buku itu robek sedikit. Masih bisa di lem. Namun, jika mentalnya yang robek karena kita tidak terima buku rusak, lem apapun tak akan dapat memperbaiki jiwanya. Rasa putus asa yang tadi hampir menyarang, pergi saat saya dengan malas-malasan membuka buku-buku tadi satu per...

Besok, Minta Peluk, ya!

3H bertingkah. Ayah ada urusan, dan itu membuat kepala ibu sakit. Sedang mengambil nafas agar tidak lanjut emosi, datang si Bungsu yang langsung memeluk. Nyess. Emosi tadi padam seketika. Lalu, serta merta si Sulung juga minta dipeluk. Subahanallah ... saat memeluknya, baru terpikir, kapan terakhir kali memeluknya? Sama sekali tidak ingat. Apalagi, Hasyim ini sudah mulai malu untuk meminta disayang (cium), dipeluk, atau digendong. Selain memang tidak kuat lagi untuk mengangkat doi, juga sama sekali kepikiran. Ternyata, 24 jam bersama kita, tidak cukup melegakan emosi mereka (menurut Ibu 3H). Terbukti, setelah dipeluk tampak di wajah mereka rasa bahagia yang lain. Padahal dari ilmu parenting yang pernah saya baca (kalau tidak salah, dari bunda Elly Risman) jika pelukan itu tidak mengenal usia anak. Bahkan, dibukunya dikatakan, betapa banyak perempuan yang telah memiliki anak, masih mengharapkan pelukan dari sang ibu. Tapi, tak ada lagi didapatkannya. Benar memang, manfaat pe...

Rasa - Rasa Itu

Imam Ja’far ash-Shadiq, cucu Rasulullah Saw mengatakan, “Anak laki-laki adalah kenikmatan dan anak perempuan adalah kebaikan. Allah akan mempertanyakan kenikmatan,  sementara Allah akan menetapkan kebaikan”. Tentang Rasa Gimana rasanya udah nikah? Rasanya ... seperti menjalani 1000 kisah di satu hati #eaa Gimana rasanya punya anak? Rasanya ... lebih rame dari nano-nano, mencakup semua rasa. Gimana rasanya mendidik anak? Rasanya ... seperti mau ikut perang, mempertaruhkan fisik, mental dan feel . Gimana rasanya saat marah pada anak? Rasanya ... tidak bisa menjadi ibu yang baik. Menyesal, hingga bisa menangis. Apa tips rasa dalam mendidik anak? Perbanyak rasa sabar. Sabar. Ikhtiar. Sabar. Tawakal. Sabar. Istighfar. Sabar. Tidur (muehehehe) Seperti kata teh Nini (istri aa Gym), "Bila sudah terlihat gejala sikap tidak manis yang ditampakkan anak, berarti hal tersebut merupakan signal dari Allah untuk kita sabagai orang tua agar perbanyak taubat, istighfar, tafakku...

Yang Terlewatkan

Pengalaman hamil pertama jauh dari orang tua, membuatku gamang melangkah. Harus bagaimana? Harus apa? Namun, seiring waktu berputar, semua tetap terjalani walau banyak sesal yang tercetak di dalam hati. Salah satunya, hamil ke dua. Ada, mereka ada mengingatkan KB. Tapi, karena tamu itu tidak datang hingga bulan ke sembilan, menganggap tidak apa-apa. Alhasil, satu tahun umur si Sulung, saya positif hamil lagi. Bagaimana lagi? Ini rezeki, ya. Ini ketentuan-Nya, benar. Tapi, ini juga keteledoran kami. Si Sulung tidak full asi dua tahun. Sedih. Makin bersalah mengingat, (mungkin) selama satu tahun masa tumbuhnya jauh dari perhatian saya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang Ayah. Segala hal. Ketika adiknya tidur, saya sudah terlalu lelah, atau pekerjaan rumah sudah menunggu. Setiap hari tentu kami menghabiskan waktu bersama, hanya saja, bukan qualitu time . Perhatian ini rasanya terbagi banyak. Dan baru kini, saya rindu dirinya yang berumur satu tahun. Rindu sek...

Romantis yang Sesungguhnya

"Kamu ... mau 'kan jadi pacarku?" Seketika netra ini membola. Oksigen terasa habis, sulit bernafas. Jantung berdetak lebih cepat, di atas normal. Perut seperti terasa tergelitik, ada rasa yang membuncah. Lalu, pipi memanas, dua ujung bibir terangkat. Sejak hari itu, dunia terasa penuh warna. Hp tak berhenti berbunyi, selalu ada pemberitahuan entah itu pesan singkat, media sosial, atau telfon. Emosi negatif seolah jauh, yang ada hanya tawa dan senyuman. Kata kangen dan sayang, seperti multivitamin penyemangat hari. Selalu ada cerita di antara kita. Bahkan, saat mulut memilih diam, bukan karena kehabisan kata, tapi karena terlalu banyak kata yang akan terucap. Saling tatap, tersenyum malu, berakhir kata cinta. Rasanya ... ingin seperti itu, selamanya. Dulu. Sekarang. Sesal. Menyesal. Ingin kembali ke waktu itu, untuk tidak melakukannya. Sebab, semua tipu daya musuh manusia yang nyata. Dia menang, yang terkutuk itu menang! Aku benci! Tersu...

Jodoh

Pernah suka pada paras wajah cowok, ternyata orangnya sama? Aku pernah. Lima kali, orangnya dia lagi dia lagi. Pertama kali lihat wajahnya, saat pulang buka bareng yang diadakan tempat kursus. Saling melambaikan tangan ketika akan melangkah berbeda arah. "Pulang sama siapa, Dek?" tanya sesekakak, teman yang biasa jalan pulang bareng saat kursus selesai. "Sendiri, Kak. Kita bareng ke luar, ya." Ajakku. "Kakak dijemput," ujarnya lagi sambil menunjuk seorang laki-laki duduk di atas motor King dengan gaya kaki naik ke jok. Pandangan ini mengikuti arah tunjukkan sesekakak. Mata kami sempat beradu sekian detik, tanpa ada reaksi apapun dari wajahku atau dia. 'Cakep suami si Kakak' Waktu berlalu. Aku yang sedang menikmati angin taman kampus, melihat seseorang yang asik untuk dipandangi, sorot mataku sedikit terpaku saat dia berjalan ke arahku. 'Hah? Dia ke sini?' Otomatis, aku mundur duduk sedikit bersembunyi di balik punggung t...

Haruskah Aku Sakit Dulu

 "Iraaa ... mana kunci mobil Papa?" Suara papa terdengar menggelegar di rumah berlantai dua ini. Kalian tahu siapa yang bernama Ira? Dia, gadis enam belas tahun yang sedang duduk santai di pagar beton balkon kamarnya di lantai dua. Iya, itu aku. "Ira! Kamu dengar Papa manggil, gak?" Terlihat Papa sedang mendongak melihatku duduk mengayun-ayunkan kaki. "Lagian kamu ngapain duduk di sana? Mau jatuh? Turun!" Ck! Menyebalkan. "Mana kunci mobil? Papa udah telat, Ra!" "Gak mau, Papa janji hari ini kita pulang kampung." "Besok. Ini pertemuan Papa penting. Ayo, mana?" Tangan papa terulur menanti aku memberikan benda yang begitu penting untuknya saat ini. "Ira lupa di mana narok. Maaf, ya, Pa." Aku nyengir mengakui kesalahan. "Ya Salaaam. Meli! Urus anakmu!" Siapa yang berani memarahi aku di rumah ini? Tidak ada. Sekalipun Papa yang begitu keras terhadap ketiga kakakku. Padahal, menurutku, mereka b...

Little Things

Percayakah, kamu? Sekecil apapun yang kamu lakukan, terekam jelas diingatanku, menyentuh kuat di dalam kalbu. Maka, lakukanlah yang bisa mendukungku menjadi seorang istri sholehah seperti impianmu. Tidak perlu kata romantis. Cukuplah berkata lembut dihadapanku. Tetap berkata pelan tanpa ada bentakan, disaat kesalahan yang kulakukan. Senyummu, penyemangat hati. Tawamu, penyegar hari. Ingatkan aku dengan cara yang menyenangkan. Tegur aku dengan rasa nyaman yang tetap bersemayam. Beri aku waktu untuk diriku. Bermain bersama buah hati sejenak tak kan merugikanmu. Jika kamu bisa, aku lebih dari bisa menjadikanmu raja di istana kita. Aku, sadar siapa aku. Namun, setiap waktu, selalu kucoba menjadi istri sholehah. ♥♥♥ Terinspirasi dari beberapa status para istri yang menginginkan sang suami seperti ini dan seperti itu.

Curhat, gak, ya?

Berada di bawah atap yang sama dengan seseorang yang baru dikenal, atau pastinya seseorang yang baru masuk ke dalam hidup kita adalah suatu perkara yang sangat besar. Namun, bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dengan tindakan-tindakan kecil yang kamu lakukan untuk dia. Tentunya, harus saling. Aku menutup majalah edisi terbaru yang datang hari ini. Menghembuskan nafas dan sedikit termenung. Menikah itu berat memang, terutama untuk perempuan yang biasa menyimpan segala rasa di hatinya sendiri. Ingin bercerita, takutnya jatuh ghibah, atau paling seram membokar aib pasangan, lalu terjadi fitnah. Namun, jika ditahan sendiri, rasanya nyesek banget. Harusnya pasangan bisa menjadi tempat ternyaman untuk bercerita. Apapun. "Hei, Mbak. Ngelamun aja." Tepukkan Alisha di pundak cukup membuatku terlonjak, dan sedikit cemberut. "Maaf, maaf, gak maksud membuat Mbak kaget," lanjutnya memudarkan manyun di bibir. "Al, menurut kamu, bercerita tentang pasangan ke orang ...

CLBK

"Ciee ... yang baru ketemu mantan." Alia yang baru saja kembali dari istirahat siangnya, disambut oleh kalimat kepo terselubung dari Tia. Mataku beralih pada Tia yang tampak sedikit terkejut, terlihat dari terhentinya langkahnya, tapi langsung bisa mengendalikan diri. Seperti biasa, ada saja topik bulian dari Tia untuk Alia. Dibilang mereka pernah punya masalah sebelumnya, tidak. Memang dasar Tia saja yang suka resek. Aku pun pernah jadi korbannya Tia, tapi cewek komersil itu kesal sendiri karena tak kuladeni. "Aku speechless , lho. Mbak Tia segitu perhatiannya sama aku." Beda denganku, Alia nagih membalas cemoohan dari Tia. Aku salut pada Alia yang selalu santai menghadapi sikap setiap teman. Bahkan, kepada seorang pembuli seperti Tia. "Aku pernah down , kok. Tapi, kucoba untuk melawannya dengan berpikir positif. Karena sejatinya, jiwa positif kita itu lebih banyak disediakan Allah daripada aura negatif. Bersedih boleh, larut jangan." Begitu j...

Work at Home

Ceritanya Ibu 3H pengen seperti orang-orang kantoran yang sekarang lagi work from home . Karena, Ibu memang stay at home , ya ... itu, at home . Apa, sih? 😅 Ini bukan tentang pekerjaan saya, gak usah dibahas, berat dan gak akan nemu ujungnya. Sedikit sharing bagaimana Hasyim si Anak TK belajar di rumah. Masih TK, kan? Kenapa ikut-ikutan belajar di rumah? Karena saya, tidak ingin waktu mereka terbuang percuma. Saya pun, mengambil kesempatan untuk menambah pahala. Sudah hampir setahun, Hasyim belajar mengaji dengan Mualimahnya di sekolah. Sekarang, ada waktu saya, kenapa tidak? Sebenarnya, sebelum Hasyim TK, si Uda ini sudah mulai beraktivitas ala-ala Ibu di rumah, tapi tidak ibu paksa. Kalau mau, Alhamdulillah, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Namun, sekarang, memang ada sedikit paksaan tapi, ibu memulai dulu dengan cerita. Jika tidak mempan, lanjut dengan iming-imingi hadiah. Biasa, sih, manjur kalau sudah dijanjikan hadiah. "Ikhlas, kan, Hasyim baca Iqra-nya?...

I Wanna Lonely

Adakala, ibu ingin menjauh sejenak dari anak dan suami. Bukan untuk waktu yang lama. Cukup untuk sekedar rileksasi, atau mengambil nafas dari aktivitas yang ... membosankan? Entah. Ingin berkata bosan, nyatanya kadang menyenangkan. Atau sebentar saja, ingin mengosongkan otak yang seringkali over thinking . Katanya, saat rasa bosan dan kepala terasa panas, berarti kamu sedang jauh dariNya. Benar. Tapi, manusiawi, ibu butuh waktu sendiri. Bercengkerama dengan diri sendiri. Menangis sendiri. Tersenyum sendiri. Tanpa ada gangguan apapun. Ya, apapun. Kadang, itu bukan sekedar ingin, sudah merasa butuh. Lalu, apa yang terjadi pada ibu jika tidak mendapatkannya? Emosi. Merasa jengah saat anak-anak masih saja menempel. Kemudian? Menyesal. Please ... I wanna lonely, just a minute. Just a minute. Give me.

Kamu

Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat, bagiku. Saat itu, rasa yang tak biasa belum begitu menjiwa. Hanya saja, batin ini nyaman saat bersamamu. Tidak ada keraguan saat dirimu ingin memperjelas ikatan di antara kita. Semestapun seolah memperlancar saat engkau mengucap janji suci.  Barakallahu fiikum . Dan ... hari-hari itu kita lalui. Manis, pahit, bahkan pedas pernah kuterima darimu. Kuterima, ikhlas, walau pasti ada tangis yang tersembunyi darimu. Namun, semua adalah ajaran bagiku dalam bersikap, menghabiskan hidupku bersamamu. Kemudian, Allah dengan caranya, menunjukkanku bagaimana mencintaimu. Tidak berlebihan, apa adanya, tentunya mencintaimu karena Dia Sang Penguasa Hati. Bukan berarti, kuselalu mengingat kesalahanmu, tidak. Manismu 'kan jadi mimpiku, pahit itu 'kan kulenyapkan tanpa tersisa. Selalu kucoba. Jika saja manis selalu terasa, mungkin aku tidak tahu bagaimana rasanya pahit. Mungkin ... aku lupa siapa yang memberi rasa-rasa indah itu. Ak...

Tanpa Cinta [?]

Sebenarnya ini ide gila. Bekerja sebagai asisten rumah tangga saat libur semester. Demi sebuah gadget. Smartphone yang proposalnya ditolak mentah-mentah oleh bokap. Lalu diikuti kultum yang sudah kuhafal intinya. Buat apa? Kalau cuma mau eksis di media sosial, yang ada dosa buat kamu. Perempuan itu aurat. Setan akan membuatmu lebih cantik jika dilihat sama yang bukan mahrammu. Lagian, nanti ada lagi proposal minta jajan naik. Aku, no! Kira-kira gitu isi kultum bokap. Kenapa gue share ? Biar kamu-kamu perempuan juga kena kultum relay . Muehehehe ... tapi, yang disampaikan bokap gue, benar 'kan? Gue agak tersentil sama kata-kata terakhir beliau. Gadget itu cuma membuat dompet menipis. Duit keluar, tapi gak ada yang bisa masuk. Benar juga, gue mikir gimana bisa beli kuota tanpa uang? Maka, tatkala duduk sendirian di tepi pantai, heleh ... gue bertemu sepasang insan berusia senja yang tampak jelas di wajah mereka guratan kesedihan. Singkat cerita, gue akhirnya kenalan sama m...

Hari Ini

Hari yang dimulai dengan rengekan anak itu ... hanya ibu yang tau rasanya. Diri yang sudah dibuat sabar, bahkan istighfar sekaligus, ditambah komentar yamg sebenarnya makin bikin kesal. Mau bilang, coba diposisi saya jelas gak mungkin. Ya udah lepaskan, biarkan, diam saja sekedar mengontrol diri. Tahan diri biar gak ngomong, karna sekali ngomong bisa melayang semua-muanya, hahaha .... Memang ada saat ketika kesal berada dipuncak kepala, mau teriak 'gak usah komentar', cuma nambah dosa dan makin kesal. Diam satu-satunya cara melawan semua situasi. Biarkan anak-anak melakukan yanh mereka suka, lepaskan saja. Menenangkan diri itu sebentar kok, istighfar aja banyak-banyak. Tapi, tetap saja saya paling gemes jika mereka menangis gak jelas, apalagi pake gantian. Ya Allah ... mau ikutan nangis juga jadinya 😂 Ibu lagi latihan bagaimana semua hal menjadi menyenangkan bagi 2H. Gak gampang ternyata. Buktinya ibu gagal membujuk hasyim yang lagi mogok mandi pagi ini 😁 Jika sudah...

Ibu Profesional Itu, yang Bagaimana, Sih?

Mantra Ibu Profesional dari Institut Ibu Profesional, adalah banyak beraktivitas dan ngobrol bareng bersama suami dan anak . Sesuai postingan sepekan yang lalu tentang menuju produktif, sekarang saya mencoba merinci indikator seorang ibu profesional itu bagaimana, sih? Sesuai arahan dari Kampoeng Komunitas, maka saya buat indikator tersebut secara SMART. Spesifik/ unik, dan detail Measurable (terukur) Achievable (tidak terlalu sulit, juga tidak terlalu gampang) Realistic (sesuai kegiatan sehari-hari) Timebone (ada batas waktu) Manajemen waktu → Waktu tidak akan pernah kembali. Gunakan memperbanyak ibadah dan aktivitas yang lebih menghasilkan. Gadget bukanlah pengisi waktu luang. → Pemakaian gadget ; pagi setelah anak-anak berangkat sekolah. Siang, saat anak-anak tidur siang. Malam, sejenak, sebelum tidur. Komunikasi dengan Pasangan Setiap terlihat ada kesempatan, duduklah di samping pasangan. Memang, adakala, pasangan tidak sedang berada di mood untuk sharing atau ...