Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label menulis

Tugas Workshop Menulis Fiksi

Bertanya tentang motivasi menulis bagiku, awalnya sebagai self healing. Lalu menulis untuk menyalurkan halu agar tidak menjadi pengandaian yang entah-entah. Halah. Kemudian baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan #eh. Motivasiku menulis tidak terlalu kuat tapi tetap ingin terus dan selalu menulis. Motivasi internal sepertinya. Sedangkan motivasi eksternal, siapa sih yang tak menginginkan income? Tetapi ini tidak mendesak bagiku. Sama seperti mbak Erna, aku bergabung di beberapa komunitas literasi agar tetap konsisten menulis. Mengikuti event-event menulis yang diadakan oleh penerbit-penerbit indie ataupun penulis-penulis yang jam terbangnya sudah tinggi. Sekalipun give away, jika hadiahnya oke menurutku, ya nulis. Namun yang membuat aku lebih konsisten menulis adalah berada di KLIP, di sana ada keinginan kuat agar tidak keluar dari grup terutama grup WA . Walaupun yang ditulis tidak melulu fiksi. ▲▼▲ Aku tipe pantser. Apa yang terlintas di kepala, tulis. Apa yang terasa di hati,...

Aku dan KLIP

Tahun lalu aku mengenal Kelas Literasi Ibu Profesional, gabung ke grup facebook tapi tidak ikut menulis. Tidak mengerti caranya, pun kurang niat yang kuat kayaknya. Hehehe. Sekian bulan berlalu dari Januari, aku masih memantau FBG KLIP. Masih belum mengerti dan juga masih tidak mencari tahu lebih dalam. Hahaha. Akhir tahun, melihat penerimaan rapor. Lalu ada postingan pengumuman untuk KLIP tahun ini, membaca dengan semangat semua komen. Barulah tahu caranya. Jadi ingat, tahun lalu KLIP-kah namanya? Rasanya ... KLIP pernah pindah FBG, ya? Semangat menulis di Januari. Niat mendapat badge you're outstanding, tapi terhalang kesibukkan membersamai anak. Alhamdulillah masih bisa mendapat badge you're excellent. Badge tersebut bertahan hingga bulan Aprik apa Mei, ya? Jelasnya Juni aku hampir menyerah tidak mendapatkan badge. Alhamdulillah masih bisa terkejar. Puncaknya Juli, semua ide seperti menguap begitu saja. Hilang. Tidak setor sama sekali. Aku takut akan dikeluarkan dari WAG. Ak...

Jujur

Jujur .... Aku tak kuasa Saat terakhir kugenggam tanganmu Halah jadi ingat lagu lamo . Aku bukanlah pribadi yang percaya diri untuk mengekspos karya sendiri. Padahal tulisan yang kutulis sudah cukup banyak bisa membuat iri. Apalagi yang kugantung, entah berapa dan tersimpan berserak di sana di mari. Aku kasihan pada tulisan yang tak kunjung selesai itu. Sekedar kasihan. Muehehehehe. Sekali dua kali post tulisan di akun real, dapat kunilai cukup banyak teman yang mengapresiasi. Hanya saja ... rasa percaya diri tadi tidak konsisten, juga keadaan dan waktu yang kurang mendukung. Akhirnya aku memutuskan membuat akun facebook baru khusus untuk menulis, berkomentar bebas, atau memberi react pada semua tulisan yang kusuka. Beberapa bulan di awal, aku begitu antusias. Mengikuti semua event yang menarik hati. Bergabung ke setiap grup kepenulisan dunia maya. Tetapi aku lupa satu hal, berkenalan dengan teman maya yang tidak dikenal sama sekali. Ternyata, sikap nyata tetap akan terbawa sekalip...

Tentang Dialog (Lagi)

Sebelumnya aku pernah menulis sedikit tentang dialog untuk kelas literasi dan bahasa WAG IP Padang. Kali ini, Ruang Ibu akan mengulang sedikit penjelasan tentang dialog untuk berbagi materi di WAG KLIP (pusat punya ini). Tentunya ada sedikit tambahan dari yang sebelumnya. Selain untuk berbagi materi, tulisan ini juga sebagai pengikat ilmu, serta mengasah kembali cara menulis dialog dalam sebuah tulisan fiksi. Singkat cerita, sudah berbulan-bulan aku tuh gak nulis fiksi (nyengir). Aku anak kemarin senja di dunia literasi mengartikan dialog seperti berbicara langsung, tatap muka, terlihat bibirnya bergerak, bahkan kecipratan hujan lokal #eh. Jika ngobrol langsung itu dituang ke dalam aksara, kalimat yang diucap itu diapit oleh tanda kutip dua (" "). Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan dalam menuliskan sebuah dialog? Utama perhatikan tanda baca . Tau dong, apa saja tanda baca? 1. Tanda petik dua (" ") ; wajib ada diawal dan diakhir kalimat dialog. 2. Titik ; digunak...

Belum Tau Judul

 "Buk, ini saya gak bisa ganti dengan tim lain?" Aku segera menemui Bu Yani--ketua jurusan--setelah menerima surat tugas penelitian dari dekanat. Bukan keberatan karena tugas penelitiannya, tapi karena aku setim--lagi--dengan makhluk yang harus kuhindari. Bukan karena belum move on, tapi ... ah, nantilah aku ceritakan. "Sebentar," Bu Yani mengangkat tangannya menegaskan aku perlu bersabar jika ingin tahu jawaban beliau. Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi ketukkan pintu. Tanpa menunggu jawaban dipersilahkan masuk, si tamu langsung saja membuka pintu dan duduk di sebelahku. Aku melepas nafas, 'cape deh!' "Ini memang rencana saya. Menyatukan kalian kembali dalam satu tim penelitian. Selain karena potensi kalian, juga saya ingin kalian tetap akur. Sudah berapa tahun kalian tidak saling sapa?" "Saya sih, nyapa, Buk. Dianya aja yang jual mahal." Jawaban dari Arya membuatku memutar mata. "Bagaimana, Shi?" Bu Yani menautkan jemariny...

Aku Ibu Bahagia

 Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan tepat waktu, tanpa eksplorasi dari tangan ke tiga, sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sungguh menghadirkan rasa puas tersendiri di dalam sanubari. Merasa menjadi seorang istri dan ibu yang profesional gak, sih? Seiring waktu menyerbu, fase hidup yang terus menyeru, yang kemudian seringkali peran sebagai istri dan seorang ibu tidak lagi berjalan sesuai dengan harapan. Lelah aku, tuh! Sebagai seseorang yang selalu ingin mengerjakan pekerjaan rumah dengan perfek, "Biar aku aja yang ngerjain", karena kalau suami yang menolong, hasil seringkali diluar ekspetasi. Apalagi anak-anak yang menuntaskan pekerjaan, yang ada kepala berdenyut, hati cemberut. Benar gak, sih? Ternyata, hal itu semua menjadikan diri uring-uringan sendiri. Niat ingin perfek, malah jadi eneg. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah menurunkan standar, dari perfek menjadi cukup. Lalu? Syukuri. Rasa kesempurnaan itu tidak akan langsung hilang setelah standar diturunkan....

Kenapa Aku Menulis?

Apa alasan kamu menulis? Pertanyaan yang susah-susah gampang. Gampang karena sebenarnya jawabannya simpel, "menulis itu coretan hati, rangkaian kata pikiran", udah itu aja. Nah, susahnya harus dijabarin sebanyak tiga halaman A4 (boleh gubrakk? 😅)    Baiklah kita mulai dari mana? Mengutip beberapa quote tentang menulis, Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Seno Gumira Ajidarma Saya menulis bukan hanya untuk dunia, tetapi juga demi akhirat saya. Helvy Tiana Rosa Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yg tak akan pernah kau sesali kemudian. Helvy Tiana Rosa Bagi saya menulis novel itu memahat kenangan, menyulut inspirasi sambil melakukan pembalasan atas kepedihan dengan cara yang paling indah. Helvy Tiana Rosa Menulis itu m...

Writing for Healing : Insecure

Kamu tau posisi yang paling membuat seorang perempuan mudah baper, sensi, insecure, atau sejenisnya? Bukan posisi ehm, tapi posisi sebagai peran, yaitu sebagai seorang istri. Ini salah satu kisahku. "Zi, pindah duduk sana," perintah Uda saat ada tamu sedang datang berkunjung. Saat itu, kakak ipar baru melahirkan. Aku yang baru saja bergabung dengan keluarga ini, belum begitu banyak mengenal tradisi di sini. Jadi, ada istilahnya bagian atas dan bagian bawah rumah, padahal lantai rumah datar, tidak bertingkat. Bagian atas di sini maksudnya, arah pintu depan, sedangkan bagian bawah arah pintu ke belakang. Jika ada tamu yang disegani, seperti besan, maka mereka ditempatkan duduk di bagian atas. Jadi, ketika itu aku duduk di bagian atas saat besan Ibu datang menengok cucu. Aku yang tidak mengerti, disuruh pindah duduk merasa di usir, jadi memilih masuk ke kamar. Selepas para tamu pulang, si Uda masuk. "Kenapa malah masuk kamar?" tanyanya terlihat hati-hati. Mungkin, wakt...

Dialog

Postingan sebelumnya, Ruang Ibu membahas tentang dasar-dasar menulis cerpen ala-ala. Pada tulisan tersebut, menyinggung sedikit tentang dialog tag. Kali ini, kita mengurai lebih banyak-tapi masih sedikit-tentang salah satu aturan dalam menulis sebuah cerpen atau novel tersebut. Untuk bisa membedakan bagaimana dialog tag tersebut, harus ada pembandingnya. Ternyata, jenis dialog itu ada tiga macam, aku pun baru mengetahuinya, muehehehe. Mari kita belajar bersama. Dialog itu kalau kehidupan nyata, percakapan langsung, ya. Jika ditulis namanya jadi kalimat langsung. Kalimat langsung itu ditandai dengan memakai tanda kutip dua (" ") diawal dan diakhir kalimat. Nah, untuk menghidupkan jalan cerita, sebelum atau setelah dialog diberi keterangan (frasa). Biar feel ceritanya nyampe ke pembaca, gitu. Sejauh (gak begitu jauh, sih) yang aku baca, dialog itu ada tiga : 1. Dialog Narasi Adalah percakapan yang di belakangnya diikuti narasi. Narasi itu simpelnya adalah sebuah penjelasan. Oh...

Dasar-Dasar Menulis Cerita Pendek

Tersanjung lalu tersandung aku tuh diminta berbagi tentang menulis cerpen di WAG rumbel literasi IP Padang (tutup wajah). Padahal, masih anak kemarin senja dalam literasi. Aku post di sini, sebagai setoran KLIP yang sudah absen beberapa hari. Izin intro sedikit, ya, Manteman. Seperti slogan IP, semua guru, semua murid. Jadi, kali ini saya sharing materi sejauh pengetahuan saya. Untuk itu, silahkan nantinya jika ada tambahan dari teman-teman, dipersilahkan dengan bahagia. Atau, correct me if I wrong. Menulis cerita pendek atau biasa kita sebut cerpen, baru satu tahun ini saya pelajari. Otodidak. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu bagaimana tata cara menulis cerpen. Apa yang teringat, langsung tulis. Ketika halu datang berkunjung, langsung tulis. Jika ada pertanyaan dari mana mulai menulis cerpen, jawaban dari saya, apa yang sedang terpikirkan, tulis aja dulu. Sepertinya juga berlaku untuk non fiksi, ya. Beberapa senior dalam literasi menjawab pertanyaan tersebut dengan mo...

Kenangan

akhirnya sampai kita dipenghujung waktu semua hanya perjalanan hidup saat pertemuan terindah mempertemukan, saat itu juga perpisahan termanis terjadi.   sahabat, tak pernah cukup waktu bersamamu, kenanglah saat kita menghabiskan waktu bersama. caci maki yang terjadi tidak lagi jadi dendam di hati, canda tawa yang ada akan tetap hiasi hari-hari.   kemarin, hari ini, besok, lusa dan seterusnya adalah hidup yang akan tetap kita jalani. semoga kita menjadi insan Nya yang sukses dunia akhirat amiin ya Rabb... 5 Maret 2012 30 Mei 2020 Ini tentang diri sendiri menjalani hari Tentang hati menghadapi waktu Siapa aku di hari ini, Tak akan menjadi aku yang sama di kemudian hari Hari yang lalu, tak terfikirkan bagaimana waktu yang akan datang 'Yang penting, hati bahagia' Lalu, hari ini datang, dan diri menyalahkan hati 'Kenapa kau mengikuti nafsu' Ini bukan tentang mereka yang mewarnai hari dulu Bukan tentang hati yang ha...

Editing Tulisan Sendiri

6 Juli 2011 Saat bercanda dengan lamunan, seuntai tanya muncul dibenak, "Hati ini terbuat dari apa?" Apakah dari salju yang lembut dan gampang mencair? Atau dari baja yang keras dihantam apa pun?  Atau dari kulit yang gampang terluka? Bahkan, sepertinya lebih sensitif dari kulit. Atau dari air mata yang selalu mengerti saat apa yang dirasakan hati?  Yang kutau, hati ini butuh hati yg lain. Hati yang bisa membuat hati ini lembut bagai salju yang gampang cair, yang keras seperti baja, yang lebih sensitif dari kulit, dan yang pasti, hati itu yang membuat hati ini lebih berarti.  Namun, tanya lainpun kembali muncul dibenak ini, "Jika hati seperti salju, baja, kulit atau air mata, kenapa hati bisa lelah juga seperti raga? A pakah hati juga seperti tubuh yang mempunyai tulang rapuh dan bisa patah?" Aku kagum pada hati, tapi lebih kagum pada Sang Pencipta Hati. Hati ini, hanya Sang Penguasa Hati yang dapat mengerti. Dan hati ini, saat ini, 'kan kubi...

Yang Penting Nulis

Kuingin menulis, tapi tidak tahu apa yang ingin ditulis. Sekadar menulis, meluapkan 2 ribu kata yang sepertinya tidak begitu tersalurkan hari ini. Penting? Penting. Biar rasa-rasa yang tak diperlukan tubuh lepas, puas, bebas. Kuingin menulis. Entah itu tentang hati, hidup, atau umumnya yang dibicarakan. Namun, saat ini hati sedang tidak ingin berpikir. Maka, kutulis saja apa yang dirasa kepala. Walaupun hanya serangkai kalimat, bukan kata-kata yang sarat makna. Kuingin menulis y ang kadang mempunyai makna yang tersirat. Namun, kali ini, aku tidak akan menyiratkan suatu makna dalam tulisan ini. Hanya ingin menulis disaat kutak tau harus berpikir apa. Kata-kataku hanyalah biasan kecil dari hati. Sebuah catatan kecil yang kutulis saat mata harus terpejam untuk menjalani hari esok bersama senyuman. Bersama tawa si Kecil. Bersama kasih darimu. Bersama doa untuk yang tercinta.

Ekspresiana

Perubahan sistem di Ibu Profesional, sangat terasa bagi semua IPers--sebutan untuk member --. Saya yang mengambil institut dan komunitas begitu hanyut dengan suasana yang menyegarkan. Itu masih aktif di komunitas, soalnya belum diangkut ke institut. Kekreatifan bunda-bunda hebat yang selama ini seolah terhimpit oleh aktifitas yang itu melulu, kini naik ke permukaan karena adanya wadah tersendiri untuk lebih produktif, berbagi dan melayani. Salah satunya adalah rumah berbagi (selain rumah belajar dan rumah bermain). Dari IP Padang sendiri rumah berbagi atau disingkat dengan rumba membentuk satu tim, yaitu tim majalah digital untuk perempuan. Awalnya, saya colek yang punya ide, bunda Puti , hanya untuk bantu-bantu dikit aja. Setidaknya, tulisan receh saya bisa dimuat, muehehehe. Ternyata, eh ternyata, bunPut--begitu kami memanggil--langsung membentuk tim permanen. Oke. Saya akan bekerja dengan bahagia, karena memang menyenangkan sebagai tim tersebut. Dimulai dari menjadi ...

Belum Ada Judul

Tanpa Tuan Mahmed jawabpun, Jian bisa menebak apa yang akan atau mungkin sedang terjadi di bangunan berbatu banyak di sana. Batin Jian bergejolak, segera saja lelaki berbadan tegap itu meminta izin pada tuannya dengan alasan, ada sedikit keperluan. Langkah Jian begitu tergesa menuju istana. Hanya satu tujuannya, ingin mengetahui apakah sang raja, penyelamat hidupnya baik-baik saja? Tidak susah bagi Jian untuk memasuki istana megah tersebut. Lelaki santun itu sudah menjadi tangan kanan raja sekalipun tidak menetap di dalam istana. "Hamba ... hanya ingin hidup menjadi rakyat biasa, Baginda. Walaupun hamba tinggal di luar sana, hidup ini siap hamba pertaruhkan kepada engkau." Begitulah jawaban jumawa dari Jian, saat raja memintanya untuk menetap di dalam istana. Pikiran yang sedang berkelana, membuyarkan sedikit fokus Jian saat masih berlari-lari kecil menuju ruangan raja. Hampir saja pemuda itu menubruk seseorang yang juga hendak memasuki ruangan raja. Sigap, tangan ke...

Curhat, gak, ya?

Berada di bawah atap yang sama dengan seseorang yang baru dikenal, atau pastinya seseorang yang baru masuk ke dalam hidup kita adalah suatu perkara yang sangat besar. Namun, bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dengan tindakan-tindakan kecil yang kamu lakukan untuk dia. Tentunya, harus saling. Aku menutup majalah edisi terbaru yang datang hari ini. Menghembuskan nafas dan sedikit termenung. Menikah itu berat memang, terutama untuk perempuan yang biasa menyimpan segala rasa di hatinya sendiri. Ingin bercerita, takutnya jatuh ghibah, atau paling seram membokar aib pasangan, lalu terjadi fitnah. Namun, jika ditahan sendiri, rasanya nyesek banget. Harusnya pasangan bisa menjadi tempat ternyaman untuk bercerita. Apapun. "Hei, Mbak. Ngelamun aja." Tepukkan Alisha di pundak cukup membuatku terlonjak, dan sedikit cemberut. "Maaf, maaf, gak maksud membuat Mbak kaget," lanjutnya memudarkan manyun di bibir. "Al, menurut kamu, bercerita tentang pasangan ke orang ...

Proyek Mini ; Buku Bunga Rampai Kebahagiaan

Menulis adalah kesukaan saya sedari zaman merah putih. Berlanjut putih abu-abu, saya menghasilkan dua novel untuk dibaca ulang (baca : print sendiri, simpan sendiri, baca sendiri). Lalu, saat ini. Belum kepikiran untuk punya buku solo, sih. Tapi, sudah dari pertengahan tahun lalu, saya berniat melahirkan antologi bersama teman-teman literasi IP Padang. Agaknya, ikhtiar saya belum maksimal memotivasi teman-teman literasi untuk menghasilkan sebuah bunga rampai. Kini, saya akan menjadikannya sebuah proyek mini. Semoga, kelak bisa melahirkan sebuah buku antologi. Proyek mini ini saya beri judul : BUNGA RAMPAI KEBAHAGIAAN Ya, nanti buku antologi tersebut akan berisikan tentang cerita-cerita bahagia yang bisa memotivasi dan menginspirasi perempuan-perempuan Nusantara. Penulisan sebuah cerpen (jika fokus), dalam kurun waktu 30 hari, bisa selesai dengan maksimal 2000 kata. Nantinya, panjang cerpen akan disepakati bersama teman-teman yang ingin berpartisipasi. Untuk tema, saya tet...

Coretan

"Resek!" Sebuah buku melayang ke wajah gue. Lumayan. Bukannya kesal, gue malah terkekeh kena tempeleng. Geleng-geleng sendiri gue jadinya. Gue berani bertaruh, dalam hitungan ke tiga, tuh cewek pasti nengok lagi ke gue. Satu ... dua ... tiga .... Nah, 'kan dia kagak nengok. Kepedean. Anehnya, gue masih aja senyam-senyum gak jelas. Ck! Nih hati gak lihat-lihat dulu kalau mau jatuh. Harusnya berembuk sama otak, mau gak, tuh cewek sama gue. Gue yang slengekan, kasar, penampilan seperti preman ... apalagi ya? Jauh dari pacar idamanlah. Badboy kata ciwi-ciwi. Gue gak suka sebenarnya dijuluki itu, artinya aja aneh, laki-laki jelek. Udah jelas tampang gue setara Ramon J. Tungka. Gak percaya? Bagus ... karena percaya selain Allah itu dosa besar! "Bro," Sapaan itu membuat senyum gue lenyap. "Ada apa?" balas gue jutek. Gue bukannya gak tau, kalau ramah itu salah satu akhlak mulia. Terkhusus ni makhluk, gue pilih dosa-dosa sikit. Ampuni Baim, ya ...

Kejutan-Nya

Sebagian orang, mungkin tidak terlalu peduli pada waktu yang telah berlalu. Namun, tidak sedikit yang masih mengenangnya. Entah itu manis, atau pahit. Jika itu manis, tentunya akan menciptakan sebuah rindu. Kalau itu pahit, yang ada adalah sebongkah penyesalan. Rindu itu ... seolah menjerat hati agar menetap seperti dulu, jangan berganti. Lain dengan penyesalan, bagaimana hati ingin melenyapkan segala dosa. Rasanya tidak cukup hanya dibayar dengan doa. Benar yang dikatakan seorang bijak agama, "menyesallah sekarang, jangan tunggu hari pembelasan, baru ada rasa sesal. Tidak akan berguna!" Sebagai seorang istri dan juga masih berstatus anak, seringkali memori-memori itu muncul di saat hati merasa baper. Dalam kurun waktu yang singkat, seolah cerita dipangkas oleh penulisnya. Baru memulai, langsung terjadi klimaks, tanpa ada penjelasan. Terkejut. Begitulah adanya, jika menikah tidak didahului dengan ilmu. Selama ini, mata dan pikiran hanya tertuju pada sekitar, "oh .....

Tentang Menulis(ku)

Sepekan menulis setiap hari, menyadarkanku beberapa hal. Entah itu tentang menulis itu sendiri, tentang suatu rasa, atau ... tentang cinta kita. Eaa .... Tidak ada paksaan dari pihak manapun dalam tantangan menulis setiap hari ini. Semata hanya ingin menguji diri sendiri, 'sampai dimana kemampuanku?', selain memang ingin mendapatkan badge "You are outstanding" dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Ternyata menulis bebas setiap hari, membuat jiwa terasa sedikit lapang, bebas? Hmm ... apa, ya, kata yang cocok? Intinya, rasa-rasa yang memberatkan kepala tidak terlalu mendominasi. Ini mungkin, ya, yang dikatakan para psikolog "menulis sebagai terapi jiwa". Dengan menulis sepekan kemarin, yang tanpa tema dan tujuan, meyadarkanku "cobalah menulis yang menginspirasi". Niatnya juga demikian, hanya saja menulis saat ini sangat tertantang, karena keadaan. Bisa bayangkan, ketika sedang asik menulis, tiga suara khas anak balita menjadi backsound? P...