Langsung ke konten utama

Postingan

Mengejar Nilayya

 "Kalau sudah, saya masih ada pekerjaan. Jangan macam-macam kamu sama Ayya!" Keluar dari ruangan Pak YY gue memberi hak tubuh di kafe. Gue anggap yang tadi lampu kuning dari Pak YY. Ya ... walaupun abis itu dapat ancaman, sih. No problem-lah. "Bang Sat!" Tepukkan yang sedikit keras di bahu, menunda suapan terakhir gue. Bukan karena siapa yang menyapa, tapi gue neg dipanggil gitu. Setelah gue lihat siapa pelakunya, nafsu makan gue amblas. "Keren kamu, ya. Memanfaatkan tenaga dalam biar lulus. Lagak sih, cowok alim, ternyata munafik juga." Trang!! Bunyi sendok beradu keras dengan piring mengalihkan perhatian pengunjung kafe. Baik gue ataupun Ria, tidak ambil peduli dengan tatapan-tatapan kepo. Senyum culas diberikan cewek resek itu saat gue menatapnya setajam Fany Rose, eh silet. "Sayangnya, usaha kamu cuma sampai di nilai lulus. Gak sampai di nilayy-a," lanjutnya sambil menunjuk ke arah taman fakultas yang tidak jauh dari kafe. Masih dengan mata y...

Pantulan Warna

Komunikasi produktif itu bicara asik yang menghasilkan sebuah akhir obrolan yang ciamik. Namun, saat menjalaninya, emosi adalah tantangan pertama. Pengendalian dirilah yang utama. Menulis pantulan warna 15 hari yang lalu, tidaklah semudah membiaskan rasa haru padamu #eh Tertawa. Bahkan terbahak. Menahan amarah. Bahkan meledak. Namanya juga mengajak anak kecil berbicara, tentunya tidak bisa semauku, ataupun semaumu, sekalipun kamu anakku. Dibalik semua warna-warni cara kita berkomunukasi, ada rasa puas pada anak, terlebih pada diri sendiri,. Tidak ada rasa kecewa pada anak, tapi lebih pada diri sendiri. Ya, tantangannya lebih pada diri nan manis ini. Melambangkan diri sebagai buah saat pra bunsay dulu, selama 15 hari kemarin, buah belum menjadi makanan rutin yang kfuberikan. Karenanya, masih ada tubuh-tubuh yang terasa nyeri, tidak enak, bahkan sakit. Dan lebih terasanya pada diri sendiri (lagi). Hiks.

Aku Ibu Bahagia

 Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan tepat waktu, tanpa eksplorasi dari tangan ke tiga, sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sungguh menghadirkan rasa puas tersendiri di dalam sanubari. Merasa menjadi seorang istri dan ibu yang profesional gak, sih? Seiring waktu menyerbu, fase hidup yang terus menyeru, yang kemudian seringkali peran sebagai istri dan seorang ibu tidak lagi berjalan sesuai dengan harapan. Lelah aku, tuh! Sebagai seseorang yang selalu ingin mengerjakan pekerjaan rumah dengan perfek, "Biar aku aja yang ngerjain", karena kalau suami yang menolong, hasil seringkali diluar ekspetasi. Apalagi anak-anak yang menuntaskan pekerjaan, yang ada kepala berdenyut, hati cemberut. Benar gak, sih? Ternyata, hal itu semua menjadikan diri uring-uringan sendiri. Niat ingin perfek, malah jadi eneg. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah menurunkan standar, dari perfek menjadi cukup. Lalu? Syukuri. Rasa kesempurnaan itu tidak akan langsung hilang setelah standar diturunkan....

Sekecup

Benar kata Sheila on 7, bahwa sebuah kecupan darimu cukup menyemangatiku untuk awali hari. Hariku terasa indah, meski akan ada segunung pekerjaan yang sama dengan hari kemarin. Jiwaku terasa lapang, meski ada tangisan bergantian dari bibir-bibir imut. Ragaku terasa tangguh, meski harus mengelilingi rumah entah berapa kali putaran. Karena sebuah kecupan itu juga, tawa hangat bahagia dari kaki-kaki kecil itu lantang terdengar sepanjang hari. Adab dan ilmu terasa begitu mudah berpindah pada anak-anak. Semua karena kau memberi dopping spesial pada hatiku. Hanya karena satu kecupan tadi, makanan kecil terhidang menanti kepulanganmu. Begitupun makanan kesukaanmu yang siap untuk disantap. Tak ada rumah bak kapal pecah. Bersih, rapi dan wangi. Jangan tanya bagaimana perjuanganku mempertahankan keadaan rumah, hingga engkau bisa menikmatinya barang sejenak. Setidaknya hingga lelahmu lepas. Jangan tanya, karena kuyakin, kau takkan mendengar ceritaku. Tak masalah bagiku kau sering enggan mendengar...

Berkarya Tidak Harus Terkenal

Karena Islam begitu memuliakan perempuan, maka ada banyak aturan untuk makhluk Allah yang unik ini. Namun, semua tidak akan menghambat seorang perempuan untuk tetap berkarya sesuai kebahagiaannya. *** Sudah hampir 30 menit aku duduk tertunduk di hadapan Ayah. Tanpa sepatah kata pun dari Beliau. Aku juga tidak berani menyuarakan kata hati. Hanya ujung hijab yang telah remuk, habis kupelintir. "Mau sampai kapan diam-diaman seperti itu?" Akhirnya, Ibulah yang memecah keheningan. Aku melirik Ibu yang duduk di sebelah Ayah. Sedari tadi Ayah hanya memandangku, menarik nafas panjang, lalu melepaskan cepat. "Salah Khayla dimana, Yah?" Karena Ibu sudah datang menengahi, aku pun menjadi berani bersuara. "Gak ada," jawabnya lemah. Seketika kepalaku menegak dan menatap Ayah tidak percaya, penuh tanda tanya. "Ayamu gengsi mau meluk," kelakar Ibu semakin mencairkan suasana. "Benar, Yah?" tanyaku semakin tidak percaya. Kedua tangan Ayah terbentang mem...

Papila

  "Wah, nemu di mana, Dek?" Bang Faris baru saja pulang sekolah. Tampak Hamzah duduk di teras rumah sendirian. Di pangkuannya ada seekor kucing kecil berwarna kuning dan putih. "Di lapangan, Bang. Kasihan, deh," jawab Hamzah sambil mengelus-elus kucing kecil di pangkuannya. "Mengeong-ngeong terus tadi. Makanya aku bawa," lanjut Hamzah. "Udah izin Mama belum?" tanya Bang Faris lagi. Hamzah menggeleng lemah. Mama kurang menyukai ada binatang di rumah. Kata mama, nanti rumah jadi bau, karena kotorannya. Padahal, Hamzah suka sekali dengan kucing, lucu, sih. "Apa itu, Dek?" tanya Mama yang tiba-tiba keluar rumah. Hamzah langsung berdiri terkejut. Lalu, menyembunyikan kucing di belakang punggungnya. Hamzah takut, kalau mama menyuruh membuang kucing itu. "Kucing, Ma." Yang jawab adalah Bang Faris. "Hamzah janji bersihin kotorannya, Ma. Jangan disuruh buang, ya, Ma," pinta Hamzah memelas. Mama hanya diam. Melihat janji dan k...

Zonk

 Dear Ezi, Semenjak kemarin, kamu sadar ada yang salah di dirimu. Tapi kamu tetap seperti itu. Tidak berubah. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, agar salah itu pergi. Tapi kamu tetap di sana. Tidak beranjak. Kamu tahu, harusnya perbaiki dulu dirimu, baru bisa memperbaiki anak-anak. Bagaimana bisa berhasil komunikasi pada mereka? Sementara kamu hanya diam pada dirimu. Dear Ezi, Kamu tahu shalat dapat membuat hidupmu lebih baik. Tapi kamu hanya shalat lima waktu, yang sering kali tidak sempurna. Niat, tetapi sekedar niat. Tidak kuat, tidak mengerjakan niat itu. Ayolah, Bukankah kamu selalu bangun saat waktu tahajud? Bukankah ada waktu setiap dhuha? Apa harus ditampar dulu baru mengerjakan? Kamu tahu yang akan menampar siapa. Kamu tahu itu, Ezi! Tahu!! Bahkan waktumu lebih dari cukup untuk sekedar membaca Quran. Satu halaman, bahkan lebih. Pokoknya baca! Dear Ezi, Sudah banyakkah bekalmu jika tiba-tiba saja kamu harus pergi? Hm? Berapa dan apa yang telah kamu persiapkan untuk kepe...