Langsung ke konten utama

Postingan

Sulitnya Merubah Kebiasaan

"Bu ... nonton," "Yah ... boleh nonton, ya ...." Rengekan Uda dan Uni seperti ini hampir setiap hari saya terima usai Ramadhan. Padahal, sebelum puasa, screen time mereka hanya Sabtu dan Ahad, itupun cuma 30 menit. Tahun ini, tahun ke dua Uda belajar puasa. Jika cerita para tetua, tahun ke dua anak belajar puasa tidak sesulit tahun pertama. Nyatanya, tidak berlaku bagi Ibu 3H. Rasanya, makin geregetan dari tahun kemarin. Jika tahun kemarin akan dibawa keliling-keliling nagari oleh Ayah, kali ini, karena PSBB, gimana mau ke luar rumah? Main di halaman rumah saja, harus mikir dua kali. Jadilah, menonton jadi cara pembujukkan. Saat puasa, tahukan jam berapa perut terasa lapar? Jam 10-an, jam 2-an, lalu sebelum berbuka, ditambah saat sahur agar mau bangun. Itulah yang terjadi selama Ramadhan. Saya angkat tangan. Sama sekali tidak bisa membujuk Uda agar lebih sabar. Apalagi, Uni dan si Adik tidak puasa, juga saya. Mau tidak mau, Ayah harus standby...

Kenangan

akhirnya sampai kita dipenghujung waktu semua hanya perjalanan hidup saat pertemuan terindah mempertemukan, saat itu juga perpisahan termanis terjadi.   sahabat, tak pernah cukup waktu bersamamu, kenanglah saat kita menghabiskan waktu bersama. caci maki yang terjadi tidak lagi jadi dendam di hati, canda tawa yang ada akan tetap hiasi hari-hari.   kemarin, hari ini, besok, lusa dan seterusnya adalah hidup yang akan tetap kita jalani. semoga kita menjadi insan Nya yang sukses dunia akhirat amiin ya Rabb... 5 Maret 2012 30 Mei 2020 Ini tentang diri sendiri menjalani hari Tentang hati menghadapi waktu Siapa aku di hari ini, Tak akan menjadi aku yang sama di kemudian hari Hari yang lalu, tak terfikirkan bagaimana waktu yang akan datang 'Yang penting, hati bahagia' Lalu, hari ini datang, dan diri menyalahkan hati 'Kenapa kau mengikuti nafsu' Ini bukan tentang mereka yang mewarnai hari dulu Bukan tentang hati yang ha...

Editing Tulisan Sendiri

6 Juli 2011 Saat bercanda dengan lamunan, seuntai tanya muncul dibenak, "Hati ini terbuat dari apa?" Apakah dari salju yang lembut dan gampang mencair? Atau dari baja yang keras dihantam apa pun?  Atau dari kulit yang gampang terluka? Bahkan, sepertinya lebih sensitif dari kulit. Atau dari air mata yang selalu mengerti saat apa yang dirasakan hati?  Yang kutau, hati ini butuh hati yg lain. Hati yang bisa membuat hati ini lembut bagai salju yang gampang cair, yang keras seperti baja, yang lebih sensitif dari kulit, dan yang pasti, hati itu yang membuat hati ini lebih berarti.  Namun, tanya lainpun kembali muncul dibenak ini, "Jika hati seperti salju, baja, kulit atau air mata, kenapa hati bisa lelah juga seperti raga? A pakah hati juga seperti tubuh yang mempunyai tulang rapuh dan bisa patah?" Aku kagum pada hati, tapi lebih kagum pada Sang Pencipta Hati. Hati ini, hanya Sang Penguasa Hati yang dapat mengerti. Dan hati ini, saat ini, 'kan kubi...

Let's Read Loudly

Breeet. Kepala ini langsung menoleh ke bunyi kertas yang baru saja dirobek. Sementara, pelaku dengan mata bening berwajah polos itu memandangku dengan raut cemas. Hal ini bukan pertama kalinya terjadi, terbukti buku-buku full colour itu sudah diperban di mana-mana. Dulu, pertama-tama mulai koleksi buku anak, sedikit histeris jika ada kejadian robek-merobek. Mungkin itu juga, yang membuat Hasyim jadi tidak mau menyentuh buku mulanya. Padahal, saya sengaja menghadirkan buku-buku di sekitar tempatnya bermain . Beberapa hari, masih saja Hasyim tidak tertarik. Saya menambah tumpukkan buku, bahkan sedikit membiarkan berantakkan di dekat dia bermain. Ternyata, sama saja, tetap tak peduli. Jadi, Moms , tak apa buku-buku itu robek sedikit. Masih bisa di lem. Namun, jika mentalnya yang robek karena kita tidak terima buku rusak, lem apapun tak akan dapat memperbaiki jiwanya. Rasa putus asa yang tadi hampir menyarang, pergi saat saya dengan malas-malasan membuka buku-buku tadi satu per...

Besok, Minta Peluk, ya!

3H bertingkah. Ayah ada urusan, dan itu membuat kepala ibu sakit. Sedang mengambil nafas agar tidak lanjut emosi, datang si Bungsu yang langsung memeluk. Nyess. Emosi tadi padam seketika. Lalu, serta merta si Sulung juga minta dipeluk. Subahanallah ... saat memeluknya, baru terpikir, kapan terakhir kali memeluknya? Sama sekali tidak ingat. Apalagi, Hasyim ini sudah mulai malu untuk meminta disayang (cium), dipeluk, atau digendong. Selain memang tidak kuat lagi untuk mengangkat doi, juga sama sekali kepikiran. Ternyata, 24 jam bersama kita, tidak cukup melegakan emosi mereka (menurut Ibu 3H). Terbukti, setelah dipeluk tampak di wajah mereka rasa bahagia yang lain. Padahal dari ilmu parenting yang pernah saya baca (kalau tidak salah, dari bunda Elly Risman) jika pelukan itu tidak mengenal usia anak. Bahkan, dibukunya dikatakan, betapa banyak perempuan yang telah memiliki anak, masih mengharapkan pelukan dari sang ibu. Tapi, tak ada lagi didapatkannya. Benar memang, manfaat pe...

Yang Penting Nulis

Kuingin menulis, tapi tidak tahu apa yang ingin ditulis. Sekadar menulis, meluapkan 2 ribu kata yang sepertinya tidak begitu tersalurkan hari ini. Penting? Penting. Biar rasa-rasa yang tak diperlukan tubuh lepas, puas, bebas. Kuingin menulis. Entah itu tentang hati, hidup, atau umumnya yang dibicarakan. Namun, saat ini hati sedang tidak ingin berpikir. Maka, kutulis saja apa yang dirasa kepala. Walaupun hanya serangkai kalimat, bukan kata-kata yang sarat makna. Kuingin menulis y ang kadang mempunyai makna yang tersirat. Namun, kali ini, aku tidak akan menyiratkan suatu makna dalam tulisan ini. Hanya ingin menulis disaat kutak tau harus berpikir apa. Kata-kataku hanyalah biasan kecil dari hati. Sebuah catatan kecil yang kutulis saat mata harus terpejam untuk menjalani hari esok bersama senyuman. Bersama tawa si Kecil. Bersama kasih darimu. Bersama doa untuk yang tercinta.

Ekspresiana

Perubahan sistem di Ibu Profesional, sangat terasa bagi semua IPers--sebutan untuk member --. Saya yang mengambil institut dan komunitas begitu hanyut dengan suasana yang menyegarkan. Itu masih aktif di komunitas, soalnya belum diangkut ke institut. Kekreatifan bunda-bunda hebat yang selama ini seolah terhimpit oleh aktifitas yang itu melulu, kini naik ke permukaan karena adanya wadah tersendiri untuk lebih produktif, berbagi dan melayani. Salah satunya adalah rumah berbagi (selain rumah belajar dan rumah bermain). Dari IP Padang sendiri rumah berbagi atau disingkat dengan rumba membentuk satu tim, yaitu tim majalah digital untuk perempuan. Awalnya, saya colek yang punya ide, bunda Puti , hanya untuk bantu-bantu dikit aja. Setidaknya, tulisan receh saya bisa dimuat, muehehehe. Ternyata, eh ternyata, bunPut--begitu kami memanggil--langsung membentuk tim permanen. Oke. Saya akan bekerja dengan bahagia, karena memang menyenangkan sebagai tim tersebut. Dimulai dari menjadi ...