Aku paling senang saat teman-teman bertemu ayah dan ibunya setelah pulang sekolah. Ada yang berpelukkan, ada yang digendong, ada juga yang merengek. Tetapi yang paling banyak kulihat adalah wajah yang saling tersenyum sambil berpegangan tangan. Aku sendiri belum dijemput mama. Sambil menunggu mama, aku memperhatikan teman-teman. Di dekat pintu pagar, aku melihat Arif duduk sendiri. Wah, aku ada teman. Lalu kuhampiri dia. Saat kulihat wajahnya, ternyata dia menangis. "Kamu kenapa?" tanyaku jongkok di depannya. "Ibuku sakit. Kata kakak ibu bisa meninggal," isak Arif. "Sekarang yang jemput kamu siapa?" Aku merasa kasihan sekali pada Arif. "Ayah. Tapi ayah gak datang-datang." Tangis Arif semakin keras. Aku semakin sedih melihatnya. Aku ingat, ustadzah masih di dalam sekolah. Maka aku berlari memanggil ustadzah Nisa. Setelah kuberi tau ustadzah Nisa, aku kembali mendekati Arif. Ternyata mama sudah duduk di sebelah Arif. Mama memeluk Arif. "Ibu Ar...
Ketika Kita Menjadi Kata