Langsung ke konten utama

Postingan

Orang Tua Kita : Cerita Anak Religi

Aku paling senang saat teman-teman bertemu ayah dan ibunya setelah pulang sekolah. Ada yang berpelukkan, ada yang digendong, ada juga yang merengek. Tetapi yang paling banyak kulihat adalah wajah yang saling tersenyum sambil berpegangan tangan. Aku sendiri belum dijemput mama. Sambil menunggu mama, aku memperhatikan teman-teman. Di dekat pintu pagar, aku melihat Arif duduk sendiri. Wah, aku ada teman. Lalu kuhampiri dia. Saat kulihat wajahnya, ternyata dia menangis. "Kamu kenapa?" tanyaku jongkok di depannya. "Ibuku sakit. Kata kakak ibu bisa meninggal," isak Arif. "Sekarang yang jemput kamu siapa?" Aku merasa kasihan sekali pada Arif. "Ayah. Tapi ayah gak datang-datang." Tangis Arif semakin keras. Aku semakin sedih melihatnya. Aku ingat, ustadzah masih di dalam sekolah. Maka aku berlari memanggil ustadzah Nisa. Setelah kuberi tau ustadzah Nisa, aku kembali mendekati Arif. Ternyata mama sudah duduk di sebelah Arif. Mama memeluk Arif. "Ibu Ar...

Pendidikan Seksualitas (3)

Masih tentang pemahaman seksualitas pada anak. Duh, berat. Namun sesuai materi yang dibagikan Insyaallah sedikit-sedikit sudah mulai ibu terapkan pada 2H. Kebiasaan menutup aurat semenjak sekarang. Memakai handuk setelah mandi ke kamar atau langsung membawa baju ke kamar mandi. Mengenalkan apa itu mahram, siapa saja mahramnya. Menekankan, "siapapun tidak boleh memegang badanmu, apalagi bagian aurat." Kemaluan mereka saya sebut aurat. Bagian tubuh yang tidak boleh dilihat siapapun. Mungkin menunggu beberapa tahun lagi baru memperkenalkan nama sebenarnya, hehehe. Nah, kebetulan kemarin Uda cerita tentang cewek dan cinta. Baru kelas 1 SD ini, ya Rabb. "Kata si itu, Bu, cewek itu cintanya dia." Uda cerita sambil tertawa-tawa berdua dengan Uni. Saya yakin tertawa mereka karna baru mendengar kata yang baru, bukan karena ceritanya. Uda dan Uni memang sereceh itu. Mendengar kata baru bisa terbahak-bahak. Saya jadi ikutan tertawa mendengar keseruan mereka. Setelah tawa merek...

Pendidikan Seksualitas (2)

Membaca materi-materi terkait seksualitas membuat saya sedikit merinding membayangkan kelak anak-anak akan baligh . Apa saya bisa? Bismillah aja, sih. Akhirnya saya mencoba mencari tahu bagaimana pendidikan seksualitas dalam ajaran Islam sesuai Al-Quran dan sunnah. Dari beberapa artikel bisa saya simpulkan bahwa, "Dengan iman yang kuat, akhlak yang mulia, dan aqidah yang menancap, Insyaallah anak akan mampu mengatasi gejolak nafsu secara benar." Saya mengutip dari artikel id.theasianparent.com dengan judul "Bagaimana Pendidikan Seks dalam Perspektif Islam" 1. Menanamkan rasa malu pada anak Alhamdulillah tanpa disadari beberapa kebiasaan untuk pendidikan seksualitas pada 3H telah saya lakukan. Seperti harus langsung berpakaian setelah mandi, atau memakai handuk dulu sampai di kamar. Untuk Uni dibiasakan memakai jilbab saat keluar rumah. 2. Menanamkan jiwa maskulin pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan Membiasakan anak perempuan memakai rok dan a...

Pendidikan Seksualitas

Memasuki zona tujuh, dua zona terakhir, semakin menantang IPers bunda sayang untuk berkreasi. Mengusung tema tentang seksualitas yang sebagian orang tua masih tabu untuk membicarakannya bersama anak. Tantangan zona delapan kali ini sedikit unik. Beberapa regional digabung menjadi satu, (saya pikir bakal digabung regional yang dekat-dekat aja, ternyata satu di Sabang, satu lagi di Merauke) surprais sekali berkenalan dengan teman-teman dari Pacitan, NTT, NTB dan Papua. Hari pertama tantangan, kami--kelompok 22--masih membahas apa, siapa dan bagaimana pelaksanaan tantangan di zona ini. Lalu berbagi pengalaman secara garis besar tentang pemahaman seksualitas. Sekilas tentang materi yang akan kami dalami yaitu tentang Pengaruh Media Digital Terhadap Pemahaman Seksualitas. "Mengedukasi anak melalui sebuah game " "Membatasi penggunaan gadget pada anak" "Membersamai anak saat menonton/ game " "Memperhatikan riwayat pencarian saat ini diberi kepercayaan mengg...

Jeruk Utrujah dan Rumput Hanzhalah

"Baiklah, kita lanjutkan bacaan Quran pekan lalu. Silahkan." Hafsha mempersilahkan seorang mahasiswa yang duduk di sudut depan sebelah kanan untuk mulai membaca Kalam Illahi. "Saya membaca sambil lihat Ibuk, ya?" candanya khas mahasiswa playboy . Hafsha yang sudah memahami tingkah laku anak didiknya membalas dengan senyum kecil, "Kalau kamu baca Quran karena saya, kamu tidak akan mendapat apa-apa. Pilih mana?" "Pilih dapat pahala dong, Buk. Tapi kalau bisa dapat dua duanya, kenapa nggak?" cengir mahasiswa tadi sampil melempar pandangan ceria ke arah teman-temannya. Sorak riuh terdengar dari segala penjuru kelas. Inilah salah satu resiko menjadi dosen teknik yang sering dihadapi Hafsha. Menghadapi tingkah pola pelajar yang didominasi para lelaki beranjak dewasa, perempuan yang masih betah sendiri ini harus memperkuat mental apalagi iman. Hafsha mengangkat tangan kanannya, seketika suara ribut tadi hilang. Tidak lama kemudian terdengar lantunan aya...
Aku seseorang yang tidak terlalu peduli pada waktu. Pergantian jam, hari, bulan, bahkan tahun kuanggap sama. Semua (mungkin) karena tidak ada target dalam hidup. Lebih tepatnya target yang besar. Misalnya tahun besok akan melakukan ini, tahun yang akan datang kerjaan ini akan berhasil, dan seterusnya. Aku pernah merencanakan sesuatu yang besar, tidak terlalu besar tapi cukup besar bagiku. Aish ... ngomong apalah ini. Beberapa kali dan hal itu tidak pernah berhasil. Itu rencana untuk beberapa hari saja, tidak target bulanan apalagi tahun. Mungkin karena terlalu bergantung dan berharap pada orang, rencana itu tidak berhasil. Mungkin juga kurangnya usaha kala itu. Semenjak beberapa kali tidak tercapainya rencana, akhirnya aku mencukupkan perencanaan unuk besok pada malam harinya. Lalu berdoa setelah shalat Subuh, "Jadikanlah hari ini lebih baik dari kemarin. Kurangilah kesalahanku pada hari ini. Aamiin." Ya, hanya itu. Namun bukan berarti aku tidak mempunyai keinginan yang besar...

Reuni (POV Dezia)

Aku mengatakannya sebagai preman kampus tapi dia dikenal sebagai kapten. Rambut panjang sebahu, wajahnya seroman rambo, sangar tapi tampan. Tidak ada yang tidak mengenalnya, bahkan angkatan setelah dia lulus. Kata teman perempuannya sikap kapten Gema itu membuai tapi bangsat. Kata teman laki-lakinya Gema itu teman yang asik disegala suasana. Maka tak heran saat ini semua mata tertuju padanya yang berjenggot dan bercelana cingkrang, juga aku yang berniqab. Semua orang seakan tidak percaya pada apa yang dilihatnya. "Wess ... akhirnya Kapten kita hadir juga." Sapaan dari arah barat menghentikan langkah kami. Genggaman di tanganku terasa semakin erat saat langkah dibimbing Bang Gema ke arah panggilan tadi. Aku mengenal mereka sebagai teman dekat Abang selama kuliahnya. Sama-sama salah jalan. Dulu. Sindiran dan tawa menjadi pembuka saat kami sampai di sana. Beberapa kali tertangkap Abang melirik ke arahku. Aku tahu dia khawatir, aku bahkan lebih mengkhawatirkan hati kusendiri. Deg...