Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Saja

Sebelumnya ( klik ) Kalimat terakhir kemarin aku menulis, 'salah satunya'. Bukan salah satunya, tapi satu-satunya. Itu sudah kuedit. Jadi, dua tahun yang lalu, aku yang baru mengenal Islam lebih dalam, sedikit terkaget-kaget. 'Eh, kenapa ada kelompok-kelompok gitu di Islam?' Ada Islam liberal. Ahlus sunnah wal jamaah. Jamaah tabligh. Salafi, dan yang lain yang masih banyak yang tidak kutahui. Semua itu aku ketahui hanya dari mulut, tidak diberitahu. Sebagai umat muslim, bukankah kita diwajibkan menuntut ilmu? Mencari tahu itu sama dengan menuntut ilmu 'kan? Sedikit tentang pemikiranku tentang mencari ilmu dan dosa. Di dalam Islam, jika melakukan suatu kesalahan tanpa diri ketahui bahwa itu adalah sebuah dosa, maka diri terlepas dari hukuman dosa. Jadi, karena kutahu dalil ini dari dulu, maka kujadikanlah hal itu sebagai alasan untuk tidak mencari tahu apakah perbuatan itu dosa atau tidak. Eh, ternyata itu sebuah kesalahan besar. Karena seorang muslim itu, wajib menu...

Flashfiction ; Maaf

 "Kamu ... bersedia 'kan menikah denganku?" Aku mengulang kembali pertanyaan yang sama ketika dia tidak juga menjawab. Semua mata yang ada di dalam ruangan itu tertuju padanya. Matanya kembali mengerjap pelan, dari gestur tubuhnya, semua orang pun tahu kalau dia gelisah. Kenapa dia jadi meragu kembali? Padahal, tadi pagi jelas dia sudah jawab lamaranku. Jari jemarinya saling bertaut dan meremas, kakinya pun bergerak tidak menentu. Lalu, tangannya bergerak mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Dia kenapa? Sebegitu gugupkah dihadapan para orang tua kami? "De ... jawab," teguran dari Mama perempuan yang sudah mencuri perhatianku setahun belakangan ini memecah keheningan. "Maaf, aku harus ke belakang." ◀▶ Akhir-akhir ini, aku sering dapat teror dari ... katakanlah teman tapi mesra saat kuliah dulu. Namun, pertemanan kami berakhir konflik. Sedikit menurutku. Berawal dia mengirimiku dirrect message di akun instagram. Sekedar say hallo, ya kubalas de...

Catatan Saja

 Aku Islam. Dan aku bangga telah menjadi muslimah yang taat. Bukankah yang wajib itu shalat, dan puasa di bulan Ramadhan? Itu sudah kulakukan. Berakhlak baik, bersedekah, dan tidak mengerjakan yang haram. Oh ya, aku juga sudah menutup kepala. Setidaknya Islamku, tidak hanya Islam di KTP saja. Sekali lagi, aku bangga tidak pernah meninggalkan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan. Di mata teman-teman, aku alim. Walaupun hanya itu. Ternyata ... shalat, berpuasa wajib, dan berakhlak mulia, tidaklah cukup untuk memenuhi tujuan kudiciptakan. Ternyata ... semua kewajiban yang telah kulakukan belum pasti diterima. Lalu, apakah semua yang telah kukerjakan sia-sia? Dari yang kupelajari, semua yang dilakukan semata-mata hanya karena-Nya, tidak akan percuma. Insyaallah. Alhamdulillah. Syukurlah. Namun, itu masih jauh untuk memenuhi tujuan hidup yang sebenarnya. Sekali lagi, dari yang kupelajari, untuk menyempurnakan semua kewajiban kita sebagai muslim, maka kerjakanlah yang sunnah. Ternyata sunn...

Mengejar Nilayya

 "Kalau sudah, saya masih ada pekerjaan. Jangan macam-macam kamu sama Ayya!" Keluar dari ruangan Pak YY gue memberi hak tubuh di kafe. Gue anggap yang tadi lampu kuning dari Pak YY. Ya ... walaupun abis itu dapat ancaman, sih. No problem-lah. "Bang Sat!" Tepukkan yang sedikit keras di bahu, menunda suapan terakhir gue. Bukan karena siapa yang menyapa, tapi gue neg dipanggil gitu. Setelah gue lihat siapa pelakunya, nafsu makan gue amblas. "Keren kamu, ya. Memanfaatkan tenaga dalam biar lulus. Lagak sih, cowok alim, ternyata munafik juga." Trang!! Bunyi sendok beradu keras dengan piring mengalihkan perhatian pengunjung kafe. Baik gue ataupun Ria, tidak ambil peduli dengan tatapan-tatapan kepo. Senyum culas diberikan cewek resek itu saat gue menatapnya setajam Fany Rose, eh silet. "Sayangnya, usaha kamu cuma sampai di nilai lulus. Gak sampai di nilayy-a," lanjutnya sambil menunjuk ke arah taman fakultas yang tidak jauh dari kafe. Masih dengan mata y...

Pantulan Warna

Komunikasi produktif itu bicara asik yang menghasilkan sebuah akhir obrolan yang ciamik. Namun, saat menjalaninya, emosi adalah tantangan pertama. Pengendalian dirilah yang utama. Menulis pantulan warna 15 hari yang lalu, tidaklah semudah membiaskan rasa haru padamu #eh Tertawa. Bahkan terbahak. Menahan amarah. Bahkan meledak. Namanya juga mengajak anak kecil berbicara, tentunya tidak bisa semauku, ataupun semaumu, sekalipun kamu anakku. Dibalik semua warna-warni cara kita berkomunukasi, ada rasa puas pada anak, terlebih pada diri sendiri,. Tidak ada rasa kecewa pada anak, tapi lebih pada diri sendiri. Ya, tantangannya lebih pada diri nan manis ini. Melambangkan diri sebagai buah saat pra bunsay dulu, selama 15 hari kemarin, buah belum menjadi makanan rutin yang kfuberikan. Karenanya, masih ada tubuh-tubuh yang terasa nyeri, tidak enak, bahkan sakit. Dan lebih terasanya pada diri sendiri (lagi). Hiks.

Aku Ibu Bahagia

 Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan tepat waktu, tanpa eksplorasi dari tangan ke tiga, sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sungguh menghadirkan rasa puas tersendiri di dalam sanubari. Merasa menjadi seorang istri dan ibu yang profesional gak, sih? Seiring waktu menyerbu, fase hidup yang terus menyeru, yang kemudian seringkali peran sebagai istri dan seorang ibu tidak lagi berjalan sesuai dengan harapan. Lelah aku, tuh! Sebagai seseorang yang selalu ingin mengerjakan pekerjaan rumah dengan perfek, "Biar aku aja yang ngerjain", karena kalau suami yang menolong, hasil seringkali diluar ekspetasi. Apalagi anak-anak yang menuntaskan pekerjaan, yang ada kepala berdenyut, hati cemberut. Benar gak, sih? Ternyata, hal itu semua menjadikan diri uring-uringan sendiri. Niat ingin perfek, malah jadi eneg. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah menurunkan standar, dari perfek menjadi cukup. Lalu? Syukuri. Rasa kesempurnaan itu tidak akan langsung hilang setelah standar diturunkan....

Sekecup

Benar kata Sheila on 7, bahwa sebuah kecupan darimu cukup menyemangatiku untuk awali hari. Hariku terasa indah, meski akan ada segunung pekerjaan yang sama dengan hari kemarin. Jiwaku terasa lapang, meski ada tangisan bergantian dari bibir-bibir imut. Ragaku terasa tangguh, meski harus mengelilingi rumah entah berapa kali putaran. Karena sebuah kecupan itu juga, tawa hangat bahagia dari kaki-kaki kecil itu lantang terdengar sepanjang hari. Adab dan ilmu terasa begitu mudah berpindah pada anak-anak. Semua karena kau memberi dopping spesial pada hatiku. Hanya karena satu kecupan tadi, makanan kecil terhidang menanti kepulanganmu. Begitupun makanan kesukaanmu yang siap untuk disantap. Tak ada rumah bak kapal pecah. Bersih, rapi dan wangi. Jangan tanya bagaimana perjuanganku mempertahankan keadaan rumah, hingga engkau bisa menikmatinya barang sejenak. Setidaknya hingga lelahmu lepas. Jangan tanya, karena kuyakin, kau takkan mendengar ceritaku. Tak masalah bagiku kau sering enggan mendengar...