Minggu, Juni 05, 2016

Diary Ramadhan

1 Ramadhan 1437
22 : 03

Apa kabar hati? Apa kabar Ramadhan? Apa kabar puasa?
Apakah masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya?
Mungkin hanya hati yang bergeming, yang banyak berubah.
Ya, saya tau, kamu sangat rindu dengan Ramadhan. Kamu rindu dengan aroma puasanya. Maaf jika baru tahun ini kamu aku mantapkan kembali menyentuh puasa.

3 tahun sudah saya tidak menuaikan ibadah puasa. Apa yang kamu pikirkan? Cobalah untuk selalu berpikir yang baik sebelum tau yang sebanarnya. Walaupun kerap kali duluan yang negatif berkomentar dari pada yang baik. Tidak apa-apa, langsung saja ralat, istighfar..

Iya, sudah 3 tahun saya tidak menyentuh puasa di bulan penuh berkah ini. Disengaja dan sadar saya lakukan, ketika perut berisi nyawa kecil yang bergantung pada konsumsi makanan yang saya makan. Iya, saya hamil pada 2 tahun yang lalu.

(Ah, terlalu panjang cerita pembukamu :p)

Hehe..itu baru pembuka. Belum inti cerita saya. Sebenarnya tidak masalah ketika hamil pun ikut berpuasa. Begitu komentar beberapa mulut, saya pun tersenyum. Iya tak mengapa, jika si ibu sehat begitupun si calon bayi. Saya? Kuat. Tapi kasihan si caby yang ternyata meminta lebih dari cadangan makanan yang ada. Jadilah fidiyah pengganti puasa saya.

Masuk tahun berikutnya. Masih sama, ketika si kecil masih bergantung pada saya. Asi masih menu utama, dan rasanya berkurang saat siang hari. Kembali, fidiyah yang mengganti puasa saya.

Dan tahun kemarin, tak ada lagi asi hanya saja kembali ada nyawa kecil yang diamanahkan Nya pada saya. Alhamdulillah.. Masih dengan cerita yang sama 2 tahun sebelumnya, ditambah melakoni si kecil yang belum genap 2 tahun. Ya Allah.. Engkau tau hamba yang lemah ini sanggup.

Kini, rasanya tak sanggup menahan rindu ingin menyentuh puasa. Insyaallah, Allah tau saya sanggup!

Puasa tidak sekedar puada menahan lapar dan haus yang saya niatkan. Segala macam yang negatif saya harus puasa, terutama emosi..

Krik krik krik... zZzz.....

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar darimu membangun Imajinasiku